News Sticker
  •   PASTIKAN DIRI ANDA TERDAFTAR DALAM MENSUKSESKAN PEMILIHAN DAERAH GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR DKI JAKARTA (15 FEBRUARI 2017)  PERGUB NOMOR 11 TAHUN 2017 TENTANG IKON BUDAYA BETAWI RESMI DITANDATANGANI OLEH (PLT) GUBERNUR DKI JAKARTA (1/2/2017)   PERATURAN GUBERNUR(PERGUB) IKON BUDAYA BETAWI ANTARA LAIN ONDEL-ONDEL, KEMBANG KELAPA, ORNAMEN GIGI BALANG, BAJU SADARIAH KEBAYA KERANCANG, BATIK BETAWI, KERAK TELOR DAN BIR PLETOK 

  • Agama dalam Kehidupan Orang Betawi

    Fadjriah Nurdiarsih February 2016 Seni & Budaya

    Bang Yahya Adi Saputra dalam Diskusi di Acara Betawi Kita


    Diskusi Betawi Kita


    Salah satu kekhasan Islam di Betawi tecermin dalam keseniannya, termasuk rebana. Salawat yang merupakan pujian kepada Nabi bisa dibawakan dengan bantuan rebana, seperti rebana biang di Depok dan Ciganjur, rebana selambe di Kwitang. Bahkan menurut Bang Yahya, “Jumlah salawat adalah sejumlah langgar di Betawi.” Salah satu salawat yang paling terkenal adalah salawat Barjanji (dari asal kata ‘berjanji’).

    Agama dalam Kehidupan Orang Betawi Pada suatu perjalanan ke kaki Gunung Halimun, saya mengingat pertemuan keempat Betawi Kita dua minggu yang lalu. Pada pertemuan itu dibahas mengenai perdukunan, mantera, jampe-jampe, dan sesajen. Pendek kata, segala sesuatu yang berkaitan dengan kepercayaan orang Betawi zaman pra-Islam. Agak asing bagi saya mencerna bahwa orang Betawi zaman dulu memberi tempat bagi keberagamaan yang berciri kultural di tengah keislaman. Tentu ini lantaran orang Betawi dan Islam, seperti kata Abdul Chaer, bagaikan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Namun suami saya bilang, “Sebenarnya ada, tapi mereka (orang tua) pada enggak cerita aja.” Yang saya ingat hanyalah kakek yang seorang satpam Departemen Pertanian mengisi batu akiknya dengan roh-roh penjaga supaya kebal. Atau neneknya suami yang bisa menyembur (mengobati) orang sakit dan berusaha menurunkan ilmu itu kepada menantunya. Namun lantaran si menantu tidak kuat menerima, ilmu itu berbalik lagi kepada dirinya. Ia kini tidak gila memang, tapi sedikit linglung. Kembali lagi pada pertemuan tukar pikiran di Komunitas Bambu, 10 Januari 2016, acara dibuka dengan pembacaan salawat dari grup Al Isbath Tenabang. Di bawah pimpinan Cing Alam, kelompok ini membawakan salawat berbahasa Indonesia karya Datuk Guru Mujib ditemani iringan rebana. Suasana syahdu terasa saat puji-pujian terhadap Nabi Muhammad SAW bergema. Cing Alam mengatakan untuk mempelajari salawat peninggalan Datuk Guru Mujib ini tak bisa sembarangan. Pertama, harus berpuasa hanya makan buah (ngekalong) selama tujuh hari, lalu makan singkong (ngebumi) selama tujuh hari, dan bersemedi hingga menjumpai Tuhan selama tujuh hari. Jadi totalnya 21 hari. Salawat ini ditulis untuk memuliakan Nabi SAW dan mendapatkan syafaat. Yahya Andi Saputra, Ketua Asosiasi Tradisi Lisan Nusantara, membacakan jampe-jampe sebagai pembuka acara. Setelahnya ia mengatakan, seandainya Tuan dan Nyonya berhati-hati ketika pulang dan menengok kanan dan kiri sebelum menyeberang, niscaya Tuan dan Nyonya akan selamat. Ucapannya ini tentu saja mengundang gergeran lantaran kami mengira gara-gara jampenya-lah kami akan selamat. Jampe-jampe itu berbunyi sebagai berikut: Jampe sakit tumbuan Nenek unduk-unduk Kaki unduk-unduk Menyari daging mengungsir Daging mengungsir uda kaga Ada daging seumpak-umpak Umpak-umpak uda kaga Ada daging si kapes-kapes Pes limpes urip wares Sengidu putih Yah… ora apa-apa Urung-urung tembolong kapur Urung tumbuan Jadi tempolong kapur Jadi tumbuan Urung tempolong kapur Urung tumbuan

    "Salah satu bukti orang Betawi percaya dengan roh, tecermin dalam boneka besar yang disebut ondel-ondel atau barongan. Boneka ini dipercaya memiliki kekuatan luar biasa dan sering ada dalam upacara sedekah bumi. Misalnya upacara ngaritan, ngarak, baritan yang nasih ada di Kranggan, yang merupakan bentuk terima kasih kepada Dewi Sri (dewi kemakmuran)". ujar bang Yahya

    Dalam dunia orang Betawi, seperti disampaikan Bang Yahya, jampe-jampe dan mantra memiliki kekuatan yang mumpuni. Orang Betawi percaya ada kekuatan mahabesar di luar dirinya yang mengendalikan alam semesta. Bang Yahya juga mengatakan orang Islam dan Betawi paling asyik. Dalam lenong lakon jantuk ada humor wailul likulil. Ada juga humor tentang Malaikat Izrail kasih kabar tentang kematian. Bang Yahya menyebut ada Islam seniman, yakni orang Islam yang bergelar haji tetapi kalau ada pentas dangdut tetap asyik berjoget dan menonton di depan. “Haji di situ dijadikan penanda dia punya status,” ucap Bang Yahya. Salah satu bukti orang Betawi percaya dengan roh, kata Bang Yahya, tecermin dalam boneka besar yang disebut ondel-ondel atau barongan. Boneka ini dipercaya memiliki kekuatan luar biasa dan sering ada dalam upacara sedekah bumi. Misalnya upacara ngaritan, ngarak, baritan yang nasih ada di Kranggan, yang merupakan bentuk terima kasih kepada Dewi Sri (dewi kemakmuran). Terkait dengan banyaknya ondel-ondel mengemis di jalan-jalan, JJ Rizal menambahkan, itu memang sudah fitrahnya. Ondel-ondel memang harus berkeliling ke jalan, sebab asal muasal sejarahnya memang demikian. “Malah kita harus terima kasih karena kalau dia keliling artinya kita dijaga,” Rizal menegaskan. Senada, Bang Yahya mengatakan ada yang menyebut bahwa ondel-ondel adalah raja iblis. “Karena untuk mengusir iblis harus dipakai raja iblis.” Kepercayaan lain yang terungkap adalah banyak orang Betawi zaman dulu yang memiliki “peliharaan”, biasanya berupa hewan (siluman). Ada yang berbentuk macan atau buaya. Setiap malam Jumat, Bang Yahya mengenang, ia selalu mendapati ada pisang raja, kopi susu, lisong dan kue apem yang dihidangkan sebagai sesajian. Sebagai kanak-kanak, ia mengaku pernah mencuri sesajian ini. Hal itu ternyata juga diamini oleh sebagian peserta diskusi yang lain, termasuk Bapak Abdul Chaer yang mengatakan kakeknya dulu punya peliharaan macan. “Dulu tiap Jumat ibu saya naroh telur di Sungai Krukut. Kalau lupa pasti aja anggota keluarga yang sakit.” Alasan kenapa orang Betawi punya “peliharaan” menurut Bang Yahya, salah satunya untuk menjaga tanah. “Apalagi zaman dulu tanah orang Betawi gede-gede (luas),” tuturnya. Selain itu, hal ini mengungkapkan bahwa dalam diri manusia sesunggunya ada unsur kebinatangan. “Kucing bulu tiga, kucing warna item, kalau ketemu harus balik. Kupu-kupu artinya ada tamu. Burung unti-unti atau burung tinggal anak artinya ada kematian. Nah, yang paling lemes kalau denger burung unti-unti ini biasanya tukang gali kubur,” ucap Bang Yahya yang disambut gerrr para peserta. Berbicara soal dukun, ternyata Bang Yahya sudah lama menelusuri praktik dukun-dukun Betawi. Ia mengatakan zaman dulu dukun dianggap sebagai “orang pintar” yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Tentu tak sembarangan orang bisa jadi dukun lantaran ada syarat-syarat yang menyertainya. Beberapa di antaranya puasa 40 hari tak putus-putus dalam keadaan suci (bagi perempuan tidak boleh mens), dan menuntaskan ilmu kenaat, yaitu ujian penyiksaan secara jasadiah. Pada tahap akhir guru mengajar dan mengajak untuk bersama-sama menghafal dan mempelajari jampe-jampe, mantra-mantra, lagu-lagu sajian dukun atau tata cara memanggil, tata cara mengobati, tata cara mengenal kayu-kayuan, tata cara mengenal minyak-minyak untuk penyembuhan, serta tata cara lain agar dapat berlanjut ke tingkat ilmu-ilmu kesempurnaan. Berlanjut ke Pak Abdul Chaer, narasumber yang tidak perlu lagi diragukan kepakarannya dalam bidang linguistik. Pak Chaer telah menulis Kamus Dialek Jakarta (yang diterbitkan ulang Komunitas Bambu) serta Kamus Ungkapan dan Peribahasa Betawi. Pada pembuka ceramahnya, ia mempertanyakan masihkah ada orang Betawi? Keprihatinannya didasarkan pada mulai punahnya bahasa Betawi, seperti gopek (dari bahasa Cina) atau tafhadal (dari bahasa Arab). Menurut Pak Chaer, bahasa Betawi merupakan kumpulan dari berbagai bahasa. Ini tentu ada kaitannya dengan sejarah orang Betawi seperti disinggung dalam pertemuan Betawi Kita pertama bertajuk “Siapa Orang Betawi.” Soal kenapa kaum santri Betawi tak muncul ke permukaan, Pak Chaer menyebut bahwa pusat studi Islam Asy-Syafiiah saja baru muncul pada tahun 1970-an. Perkembangan Islam di Betawi memang beda dengan di Jawa yang terpusat pada pesantren dengan NU dan Muhammadiyah. Dulu orang Betawi mengaji dengan guru atau ustad, lebih tinggi disebut mualim, lebih tinggi lagi disebut datuk. Itulah mengapa di Betawi banyak berdiri majelis taklim. Salah satu kekhasan Islam di Betawi tecermin dalam keseniannya, termasuk rebana. Salawat yang merupakan pujian kepada Nabi bisa dibawakan dengan bantuan rebana, seperti rebana biang di Depok dan Ciganjur, rebana selambe di Kwitang. Bahkan menurut Bang Yahya, “Jumlah salawat adalah sejumlah langgar di Betawi.” Salah satu salawat yang paling terkenal adalah salawat Barjanji (dari asal kata ‘berjanji’). Meski para peserta sangat antusias, sebab hari sudah mendekati Magrib, diskusi mau tak mau harus disudahi. Sebelum pertemuan berakhir, JJ Rizal selaku moderator menyampaikan bahwa kongko ini digelar rutin saban bulan. Adapun pada Februari, tema yang akan diangkat adalah “Orang Betawi dan Intelektualitas” yang wabilkhusus membahas kiprah Mohammad Husni Thamrin, wakil rakyat asal Betawi yang pertama di Volkraad (dewan pada masa Belanda). Dalam diskusi bulan depan akan dikupas benarkah orang Betawi tidak punya tradisi intelektualitas. Tertarik? Yuk, datang ke Depok pada 14 Februari 2016.

    Related Post

    $(document).ready(function() {$('img#closed').click(function(){$('#bl_banner').hide(90);});});
    close
    Banner iklan disini