News Sticker
  •   PASTIKAN DIRI ANDA TERDAFTAR DALAM MENSUKSESKAN PEMILIHAN DAERAH GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR DKI JAKARTA (15 FEBRUARI 2017)  PERGUB NOMOR 11 TAHUN 2017 TENTANG IKON BUDAYA BETAWI RESMI DITANDATANGANI OLEH (PLT) GUBERNUR DKI JAKARTA (1/2/2017)   PERATURAN GUBERNUR(PERGUB) IKON BUDAYA BETAWI ANTARA LAIN ONDEL-ONDEL, KEMBANG KELAPA, ORNAMEN GIGI BALANG, BAJU SADARIAH KEBAYA KERANCANG, BATIK BETAWI, KERAK TELOR DAN BIR PLETOK 

  • Si Jagur, Meriam Lambang Kesuburan

    Asep Setiawan Januari 2017 Sejarah


    Setelah VOC mengalahkan Portugis di Malaka pada 1641, mereka banyak menyandera tawanan perang. Para tawanan peran itu dijadikan budak belian dan baru dimerdekakan setelah ganti agama dari Katolik jadi Protestan. Bersama para tawanan perang, Belanda juga mengangkut sebuah meriam besar beratnya 3,5 ton. Dikenal dengan “meriam si jagur”. Mungkin karena bunyinya jegar-jegur saat ditembakkan.

    Menurut Kasirun, staf Koleksi Museum Sejarah Jakarta, Si Jagur adalah peralatan perang yang dahsyat pada masanya. Benda bersejarah ini jadi andalan untuk merubuhkan pertahanan musuh.

    Saat di Batavia, meriam ini beberapa kali berpindah-pindah tempat. Belanda menempatkan Si Jagur di salah satu kastil (benteng) Batavia guna melindungi kota dan pelabuhan. Karena beratnya, meriam sundut ini ditinggalkan begitu saja, yakni ketika Gubernur Jenderal Daendels menghancurkan kastil Batavia, dan warga Belanda ramai-ramai pindah ke Weltevreden (Gambir dan Senen, sekarang) serta Meester Cornelis (kini Jatinegara). Sejak itu Si Jagur tergeletak di jembatan Kota Intan, dekat jembatan KA Jakarta Kota.

    Jembatan tersebut merupakan peninggalan Belanda yang dibangun pada tahun 1628 dan sekarang menjadi benda cagar budaya yang dilindungi pemerintah. Setelah Indonesia merdeka, dari Jembatan Kota Intan, meriam ini dipindahkan lagi ke Museum Nasional. Lalu pada 1968, Si Jagur dipindahkan lagi ke Museum Wayang, dekat Museum Sejarah Jakarta yang saat itu belum difungsikan sebagai sebuah museum. Setelah Museum Sejarah Jakarta diresmikan, meriam ini dipindahkan ke Taman Fatahillah, atau di halaman depan Museum Sejarah Jakarta. Baru pada tahun 2002, meriam bernilai ini diletakkan di halaman belakang museum sampai sekarang.

    Alwi Shahab, pengamat sejarah Jakarta bercerita, pernah terjadi seorang ibu dari Jawa Timur berziarah membawa dua anaknya, minta kesuburan pada Si Jagur. Setahun kemudian sang ibu kembali ke Si Jagur dan langsung marah-marah. Termasuk pada kuncen yang membacakan mantera dan doa-doa. Karena yang hamil bukan anaknya yang telah berkeluarga, tapi anak gadisnya yang belum bersuami


    Lambang Kesuburan
    Meriam yang terletak di bagian belakang Museum Fatahilah itu memang tergolong unik. Ukurannya lebih besar dari meriam pada umumnya. Meriam itu juga terlihat anggun dengan adanya huruf latin serta ukiran yang seperti motif wayang pada pegangan meriam.

    Huruf latin di bagian belakang meriam tertulis “EX ME IPSA RENATA SUM”. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, artinya “Dari Diriku Sendiri Aku Dilahirkan Lagi.”

    Meriam Si Jagur bukanlah terbuat dari bahan baru, melainkan lahir dari 16 meriam kecil yang dilebur dan digabungkan. Terdapat angka latin X + I + V = XVI yang merupakan angka 16. Benar - benar sebuah mahakarya dengan proses pembuatan unik. Meriam Si Jagur memiliki panjang 3,81 meter, dengan berat 3,5 ton, dengan diameter dalamnya sebesar 24 cm. Tentu dapat dibayangkan, beratnya bagi petugas museum untuk memindahkannya ke area taman belakang museum setelah sebelumnya sempat diletakkan di area taman depan.

    Namun, entah sejak kapan, meriam perunggu buatan pabrik senjata 'St Jago de Barra' di Macao, Cina oleh Portugis kemudian jadi terkenal. Karena dianggap bertuah, semasa masih di Kota Intan meriam ini banyak didatangi dan diziarahi orang. Bukan hanya dari Jakarta, juga dari tempat lain. Karena yakin Si Jagur bisa mengabulkan permintaannya, para peziarah tidak segan-segan menyampaikan berbagai hajatnya melalui kuncen (juru kunci) yang siang malam dengan setia mendampingi Si Jagur. Akibat membludaknya para peziarah, di sekitar Kota Intan banyak pedagang yang membangun warung di sekitarnya. Tapi yang laris adalah pedagang kembang dan kemenyan untuk ditaburkan dan nazar di meriam tua ini.

    Yang paling banyak berziarah ke Si Jagur adalah pasangan suami istri yang meminta diberikan keturunan dan kesuburan. Pasalnya, ciri khas Si Jagur terdapat pada bagian ekornya. Di sini terukir indah ibu jari tersembul di antara telunjuk dan jari tengah. Yang merupakan simbol senggama. Karena alasan itulah si jagur dianggap keramat dan diyakini bisa mendatangkan kesuburan. Bahkan ada yang menganggap 'dewa kesuburan'. Para peziarah setelah memberikan uang pada kuncen, kemudian mendapatkan payung kecil warna merah dan kuning. Yang oleh si pasangan diletakkan di atas kelambu tempat mereka tidur.

    Alwi Shahab, pengamat sejarah Jakarta bercerita, pernah terjadi seorang ibu dari Jawa Timur berziarah membawa dua anaknya, minta kesuburan pada Si Jagur. Setahun kemudian sang ibu kembali ke Si Jagur dan langsung marah-marah. Termasuk pada kuncen yang membacakan mantera dan doa-doa. Karena yang hamil bukan anaknya yang telah berkeluarga, tapi anak gadisnya yang belum bersuami.

    Menyadari terjadinya kemusyrikan, maka pada masa Wali Kota Sudiro pertengahan 1950-an, Si Jagur dipindahkan ke Museum Nasional di Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat. Konon, ketika meriam ini dipindahkan seorang ibu yang berjualan kembang di sekitarnya menjadi pingsan. Karena merasa rezekinya hilang. Dari Museum Nasional kemudian si jagur dipindahkan ke Taman Fatahilah di antara gedung Kantor Pos Jakarta Kota dan Kafe Batavia. Kini, meriam yang pernah dipuja-puja itu disimpan di Gedung Museum Sejarah DKI Jakarta atau Museum Fatahillah.

    Legenda Si Jagur
    Banyak legenda tentang meriam Si Jagur ini. Kisah pertama menceritakan, Raja Pajajaran memiliki seorang puteri cantik jelita, namun terjangkit suatu penyakit aneh. Dari selangkangannya keluar sinar ajaib, sehingga para pangeran yang ingin mempersuntingnya lari mengurungkan niat. Raja lalu membuat sayembara, siapa yang berhasil menyembuhkan putrinya akan dinikahkan. Hampir semua dukun dan orang pintar di Pajajaran datang berlomba-lomba untuk menyembuhkan sang putri, namun semuanya gagal. Hingga suatu hari, datang utusan Kompeni yang menawarkan diri.

    Baginda raja menyetujui dengan syarat agar menukarnya dengan tiga pucuk meriam. Pihak Kompeni menyanggupinya dan menyerahkan ketiga pucuk meriam tersebut, yang diberi nama Ki Amuk, Nyai Setomi dan Si Jagur.

    Kisah kedua, masih di Kerajaan Pajajaran. Raja Pajajaran bermimpi buruk. Ia mendengar suara gemuruh dari sebuah senjata yang kelihatan sangat dahsyat dan tak dikenal tentaranya. Sang Raja memerintahkan patihnya, Kiai Setomo, untuk mencari senjata ampuh tersebut. Apabila gagal akan dihukum mati. Dalam mengupayakan senjata ampuh tersebut, Kiai Setomo dan istrinya Nyai Setomi bersemedi di dalam rumah. Setelah sekian lama Sang Patih tidak kelihatan, Sang Raja memerintahkan para prajurit menggeledah rumah Kiai Setomo. Namun tidak ditemukan siapapun dalam rumah itu, kecuali dua buah pipa aneh yang besar. Ternyata Kiai Setomo dan Nyai Setomi telah berubah wujud menjadi dua buah meriam seperti dalam impian Sang Raja.

    Cerita berubahnya suami istri menjadi meriam tersiar kemana-mana, hingga terdengar oleh Sultan Agung di Mataram. Sultan Agung memerintahkan agar kedua meriam itu dibawa ke Mataram, namun meriam jantan Kiai Setomo menolaknya, bahkan melarikan diri ke Batavia. Warga Batavia gempar menyaksikan benda tersebut dan menganggap benda yang dilihatnya itu barang suci. Mereka lalu menutupinya dengan sebuah payung untuk melindunginya dari terik matahari dan hujan dan menamakannya Kiai Jagur atau Sang Perkasa. Sedangkan Nyai Setomi diboyong ke Mataram.

    Related Post

    $(document).ready(function() {$('img#closed').click(function(){$('#bl_banner').hide(90);});});
    close
    Banner iklan disini