News Sticker
  •   PASTIKAN DIRI ANDA TERDAFTAR DALAM MENSUKSESKAN PEMILIHAN DAERAH GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR DKI JAKARTA (15 FEBRUARI 2017)  PERGUB NOMOR 11 TAHUN 2017 TENTANG IKON BUDAYA BETAWI RESMI DITANDATANGANI OLEH (PLT) GUBERNUR DKI JAKARTA (1/2/2017)   PERATURAN GUBERNUR(PERGUB) IKON BUDAYA BETAWI ANTARA LAIN ONDEL-ONDEL, KEMBANG KELAPA, ORNAMEN GIGI BALANG, BAJU SADARIAH KEBAYA KERANCANG, BATIK BETAWI, KERAK TELOR DAN BIR PLETOK 

  • Roti Buaya & Tradisi Budaya

    red januari 2017 Budaya

    Roti Buaya

    Buaya adalah reptil bertubuh besar yang hidup di air. Di Indonesia buaya dikenal dengan beberapa sebutan. Orang Sunda menyebutnya buhaya, begitu pula di Banjarmasin . Sementara orang Jawa menyebutnya baya atau bajul. Sedangkan orang Batawi menyebutnya bicokok.

    Umumnya buaya diidentikkan dengan suatu perilaku yang negatif. Buaya darat misalnya, digunakan sebagai sebutan bagi seorang laki-laki yang doyan perempuan dan suka selingkuh. Tetapi, bagi orang Betawi, buaya merupakan simbol dari kesetiaan. Karena buaya merupakan hewan monogami yang setia dengan pasangannya. Buaya hanya memiliki satu pasangan dan akan selalu setia dengan pasangannya sampai pasangannya tersebut mati.

    Selain itu, buaya juga melambangkan kesabaran karena buaya selalu sabar dalam menunggu dan mengintai mangsanya. Namun ada pula yang mengartikannya sebagai lambang kejantanan dan keperkasaan karena dapat hidup di dua alam. Hal ini melambangkan harapan agar rumah tangga yang mereka arungi menjadi tangguh dan kokoh serta mampu bertahan hidup dalam kondisi seperti apa pun.

    Buaya juga selalu hidup menetap di sarangnya dan tidak berpindah-pindah. hal itu menjadi cermin bagaimana seharusnya pasangan bertindak dan berperilaku. Selalu setia dan dan mengharamkan adanya sebuah perselingkuhan.

    Ketika orang Betawi melangsungkan pernikahan, pengantin pria membawa roti buaya sebagai simbol kesetiaan pengantin pria kepada pengantin wanita dan juga sebagai janji untuk sehidup semati. Dalam seserahan, roti buaya diberikan sepasang, yang lebih kecil dilambangkan sebagai betina yang diletakkan di atas punggung roti buaya yang lebih besar atau di sampingnya. Maknanya adalah kesetiaan berumah tangga sampai beranak cucu.

    Selama perjalanan, roti ini harus tetap mulus, tidak boleh rusak sampai ke tangan pengantin perempuan. Selain itu, roti buaya melambangkan kemapanan, sebab ada anggapan bahwa roti buaya merupakan makanan orang golongan atas. Pada saat selesai akad nikah, biasanya roti buaya ini diberikan pada saudara yang belum nikah, hal ini juga memiliki harapan agar mereka yang belum menikah bisa ketularan dan segera mendapatkan jodoh.

    Bila merunut sejarahnya, simbol buaya (putih) masuk dalam dunia mitos Betawi merupakan pengaruh kuat dari kebudayaan orang Dayak dan Melayu Kalimantan Barat yang menurut Prof. Bern Nothofer, ahli linguistik dari Jerman, telah hijrah ke Jakarta paling sedikit sejak abad 10 M. Mereka inilah yang kemudian menjadi komponen utama yang menurunkan dan menciptakan komunitas baru yakni orang Betawi.*

    Related Post

    $(document).ready(function() {$('img#closed').click(function(){$('#bl_banner').hide(90);});});
    close
    Banner iklan disini