News Sticker
  •   PASTIKAN DIRI ANDA TERDAFTAR DALAM MENSUKSESKAN PEMILIHAN DAERAH GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR DKI JAKARTA (15 FEBRUARI 2017)  PERGUB NOMOR 11 TAHUN 2017 TENTANG IKON BUDAYA BETAWI RESMI DITANDATANGANI OLEH (PLT) GUBERNUR DKI JAKARTA (1/2/2017)   PERATURAN GUBERNUR(PERGUB) IKON BUDAYA BETAWI ANTARA LAIN ONDEL-ONDEL, KEMBANG KELAPA, ORNAMEN GIGI BALANG, BAJU SADARIAH KEBAYA KERANCANG, BATIK BETAWI, KERAK TELOR DAN BIR PLETOK 

  • 3 Tradisi Orang Betawi Menjelang Ramadan

    red Januari 2017 Budaya

    Hari Raya Idul Fitri

    Para perempuan di kampung saya di Kebagusan, Pasar Minggu, khususnya kaum ibu, sudah sejak dua minggu lalu ramai bicara soal Tanah Abang. Menjelang bulan puasa, mereka punya rutinitas untuk mampir melongok ke pasar tekstil dan fashion terbesar se-Asia Tenggara itu. Beberapa di antaranya bahkan sudah membeli baju-baju untuk Lebaran.

    Jangan merasa aneh dulu. Apalagi menganggap ini tindakan yang terlampau cepat lantaran Lebaran masih lama. Mereka merasa perlu mempersiapkan hal-hal duniawi semacam itu agar nanti ketika Ramadan, ibadah tak terganggu dengan memikirkan baju baru, sepatu baru, ataupun sarung baru. Apalagi mal dan pasar di sepuluh hari menjelang Lebaran, atau saat THR turun, bisa bukan main ramainya.

    Karena itulah, soal sembako untuk persediaan puasa, bingkisan hadiah buat satpam atau tetangga, dan munggah kepada saudara-saudara bisa jadi sudah disiapkan dua bulan sebelum puasa. Sudah rapi semua!

    Namun, hal itu hanyalah sebagian kecil dari kebiasaan yang jamak dilakukan di kampung saya. Kalau bicara dalam skala kebetawian yang lebih luas, ada ada tiga hal yang lazim dilakukan kaum Betawi menjelang puasa. Kebiasaan ini sudah berkaitan dengan tradisi dan local wisdom masyarakat Betawi, utamanya menyambut bulan suci Ramadan.



    Rowahan
    Rowahan sederhananya adalah aktivitas penutupan pengajian dan persiapan menuju bulan Ramadan. Dalam Rowahan, satu keluarga berkumpul lalu membaca surah Yasin bersama ditambah tahlil dan salawat kepada Nabi Muhamad SAW. Setelah itu, acara ditutup dengan makan bersama. Dan makanannya tentu enak. Mama saya bilang, “Kalau sudah kumpul-kumpul harus makan.”

    Menu Rowahan di keluarga saya kemarin adalah satai ayam, semur jengkol, pecak ikan mas, tahu-tempe, sayur goreng asem, dan sayur sop.

    Rowahan bisa juga diartikan sebagai “sedekah”. Misalnya, dalam acara Rowahan, kita boleh mengundang tetangga-tetangga terdekat, lalu memberikan mereka sembako untuk persiapan Ramadan.

    Rowahan diartikan sebagai bentuk rasa syukur atas rejeki dan karunia yang diberikan oleh Allah SWT kepada kita. Rowahan sekaligus sebagai pengingat terhadap saudara atau keluarga yang sudah mendahului kita, dengan cara mengirimkan doa-doa kepada mereka.

    Dalam Rowahan, biasanya para jemaah akan mengumpulkan air putih dalam aneka tempat minum untuk dikumpulkan di tengah. Air yang sudah dibacakan Yasin itu dipercaya berkhasiat, lalu dibawa pulang oleh masing-masing jemaah dan diminumkan kepada anaknya. Biasanya para orang tua akan mengatakan, “Minum nih air Yasin, Tong, biar jadi bener,” kepada anaknya yang nakal.

    Munggahan
    Munggah berasal dari kata unggah, yang berarti naik ke atas. Dalam tradisi Betawi, munggahan adalah hari-hari terakhir sebelum datangnya Ramadan. Menurut kebiasaan, anak-anak yang sudah menikah, tetapi masih mempunyai orang tua, akan datang membawakan makanan ke rumah orang tuanya. Makanan munggahan bisa berupa yang sudah matang ataupun masih mentah.

    Munggahan adalah tradisi baik sebagai penyambung silaturahmi kepada orang tua. Bila membawa makanan matang, biasanya semur daging atau bandeng bumbu kuning. Kadang-kadang ada juga yang mengirimkan bahan mentahnya saja, misalnya ikan bandeng, ikan mas, atau daging sapi 1 kilogram.

    Bahan-bahan itu untuk diolah sebagai teman sahur atau berbuka puasa pertama kali di bulan Ramadan. Namun pada masa sekarang sudah lebih praktis misalnya membawakan minyak goreng, gula pasir, teh, kopi, terigu, dan lain sebagainya. Munggahan diartikan sebagai pemberian amunisi selama bulan puasa, sekaligus penanda sukacita. Sebab, betapa gembiranya hati orang tua ketika anaknya datang membawakannya aneka macam bahan pangan. Dalam suasana itu biasanya mereka akan mendoakan si anak agar bertambah rizkinya dan terus naik gajinya. Maka, keberkahan kedua belah pihak pun didapat.

    Ziarah
    Salah satu tradisi yang juga penting dan tak boleh ketinggalan adalah ziarah kubur. Biasanya dua hingga satu minggu menjelang Ramadan, ziarah kubur ke makam orang tua yang sudah meninggal wajib dilakukan. Selain mendoakan, si anak akan membersihkan makam yang sudah kotor ditumbuhi oleh tanaman-tanaman parasit.

    Acara membersihkan kuburan bisa dilakukan berama-ramai bersama keponakan atau saudara-saudara yang lain. Setelah bersih, biasanya dilakukan pengajian dan pembacaan doa arwah. Selesai berdoa, kami suka bercanda di kuburan, bercakap-cakap seolah orang yang di dalam kubur masih bisa berbincang dan membalas ucapan kami.

    Biasanya seperti ini percakapannya, “Assalamu alaikum, Wan. Apa kabar, Wan. Sehat? Cucu-cucu di sini sehat.” (Uwan berarti kakek)

    Upacara membersihkan kuburan ini bisa sangat intim lantaran biasanya kuburan orang Betawi berada tak jauh dari rumah. Dalam alam dan pola pikir orang Betawi, tanah adalah tempat kelahiran dan kematian. Karena itulah, rumah orang Betawi memiliki tanah alias kebon yang luas. Tanah adalah untuk diwariskan, bukan dijual. Karena itu, dalam satu lingkungan tempat tinggal orang Betawi, kadang-kadang ditemukan ada kuburan keluarga.

    Related Post

    $(document).ready(function() {$('img#closed').click(function(){$('#bl_banner').hide(90);});});
    close
    Banner iklan disini