News Sticker
  •   PASTIKAN DIRI ANDA TERDAFTAR DALAM MENSUKSESKAN PEMILIHAN DAERAH GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR DKI JAKARTA (15 FEBRUARI 2017)  PERGUB NOMOR 11 TAHUN 2017 TENTANG IKON BUDAYA BETAWI RESMI DITANDATANGANI OLEH (PLT) GUBERNUR DKI JAKARTA (1/2/2017)   PERATURAN GUBERNUR(PERGUB) IKON BUDAYA BETAWI ANTARA LAIN ONDEL-ONDEL, KEMBANG KELAPA, ORNAMEN GIGI BALANG, BAJU SADARIAH KEBAYA KERANCANG, BATIK BETAWI, KERAK TELOR DAN BIR PLETOK 

  • Maen Pukulan Khas Betawi, dari Asal-Usul hingga Nasibnya Kini

    Rachmad Sadeli Januari 2017 Budaya

    Maen Pukul Betawi
    Dua rombongan pesilat tampak berdiri berhadap-hadapan. Satu rombongan mengawal Bapak Dirjen Kebudayaan Dr Hilmar Farid, sementara di seberangnya berdiri kokoh tokoh Betawi Bapak Haji Eddie Nalapraya. Keduanya diiringi rombongan pesilat yang saling beradu pantun dan jurus.

    Pertunjukan itu menjadi pembuka acara diskusi buku Maen Pukulan, Pencak Silat Khas Betawi karya GJ Nawi (Gusman Natawidjaja) di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 26 Juli 2016.

    Besile di langgar bace Quran, turun ke pelataran maen pukulan (duduk di langgar membaca Quran, turun ke halaman bermain pencak silat) menjadi idiom yang amat terkenal di masyarakat Betawi. Bahkan, zaman dulu seseorang dikatakan anak Betawi jika bisa salat dan silat (kemudian ditambahkan ngaji).

    Ketiga hal itu tampak dalam upacara palang pintu yang menjadi syarat dari diterimanya lamaran seorang laki-laki dewasa kepada perempuan dewasa. Yakni, rajin salat, bisa mengaji—dilihat dari diperdengarkannya lagu sike—serta jago silat. Jika pesilat rombongan pengantin laki-laki bisa mengalahkan pesilat dari keluarga pengantin perempuan, barulah lamaran diterima serta kedua pengantin disandingkan di puade.

    Dalam bukunya, Bang Gusman menjelaskan asal-usul maen pukulan di Tanah Betawi. Ia menyatakan, banyaknya ragam dan aliran maen pukulan di Betawi (bahkan dikatakan sampai 117 jurus) merupakan bukti bahwa maen pukulan merupakan hasil akulturasi dan asimilasi dari berbagai pengaruh budaya yang ada di Indonesia.

    Bang Gusman menyebut maen pukulan mengacu pada istilah lokal untuk menyebut bela diri di kalangan masyarakat Betawi. Maen diartikan sebagai suatu kegiatan yang bersifat menyenangkan, sementara pukulan menandakan dalam seni ini lebih banyak terdapat gerakan tangan dibanding gerakan kaki.

    Dalam sambutannya, Eddie Nalapraya menyebut istilah pencak silat—yang dipakai untuk menggantikan maen pukulan—dikenal mulai tahun 1948. Eddie Nalapraya menegaskan ada tiga aspek yang harus ada dalam maen pukulan, yakni aspek spiritual, aspek bela diri, dan aspek seni. Di kemudian hari, ditambahlah aspek keempat, yakni aspek olahraga.

    Kuda-kuda yang kuat pada maen pukulan khas Betawi kuat diduga berasal dari pengaruh Tiongkok, khususnya Tiongkok selatan. Seperti tercantum dalam buku Maen Pukulan, Pencak Silat Khas Betawi, Bang Gusman menyebut pada mulanya seni maen pukulan ini disebut sebagai Kun Tau, yang secara harafiah berarti kepalan tangan atau tinju—yang secara bebas diartikan sebagai seni bertarung.

    Selain mengadaptasi kuda-kuda yang kokoh, karakter pesilat Tiongkok seperti baju tui khim, celana phang si, serta penggunaan kain ciu kin yang kerap dikenakan di leher para jago kuntao peranakan Tionghoa ikut ditiru oleh para jago Betawi.

    Seni berbusana ini lantas ditiru menjadi baju tikim, celana pangsi, dan sarung. Identitas khas ini kemudian dianggap merepresentasikan dua simbol identitas Betawi, yakni salat dan silat. Di kemudian hari, jangan lupakan peci dan batu akik pandan.

    Ada sebuah istilah yang terkenal, yakni “tiap utan ade macannye, tiap kampung ade maenannya”. Hal ini menunjukkan bahwa di Betawi banyak terdapat variasi dari maen pukulan, misalnya ada beksi dan cingkrik—sekadar menyebut contoh.

    Selain pengaruh Tiongkok, ada juga pengaruh pencak silat Sunda dan Banten. Namun sebagian besar berada di pinggiran (Ommelanden) yang berdekatan dengan wilayah kebudayaan Sunda dan Banten. Ada juga pengaruh Melayu dan Bugis, misalnya pada aliran maen pukulan Gerak Rasa Sanalika, hingga pengaruh ilmu bela diri Mandar di Kepulauan Seribu, yakni Jurus Seliwa.

    Perkembangannya Sekarang…

    Profesor Yasmine Zaki Shahab dalam acara peluncuran buku Maen Pukulan, Pencak Silat Khas Betawi, Selasa, 26 Juli 2016, mengatakan saat ini pencak silat sudah diangkat dan dijual sebagai komoditas berkaitan dengan bangkitnya kebudayaan Betawi. Hal ini dianggapnya membanggakan lantaran melalui seni maen pukulan-lah, suatu etnis dalam menunjukkan dirinya melalui tradisi.

    Lebih lanjut, ia menyarankan adanya penelitian yang komprensif dan menyeluruh mengenai para jago dan jagoan di Betawi, sehingga gambaran hidup mereka dapat diketahui publik secara jelas. Sebagai contoh, Profesor Yasmine menunjuk karya Abeyasakere yang memperlihatkan kisah hidup enam orang Betawi dari kecil sampai dewasa. “Saya menunggu munculnya karya yang demikian,” ucap Profesor Yasmine.

    Henri Nurcahyo, pengamat kebudayaan, dalam makalahnya menulis tentang maen pukulan Betawi yang menjadi indentitas penting kaum Betawi yang bersanding dengan kegiatan keagamaan. Ia menegaskan baru tahu adanya istilah jago dan jagoan yang berbeda maknanya dalam masyarakat Betawi.

    Yahya Andi Saputra, penulis buku Beksi Maen Pukulan Khas Betawi, mengatakan masyarakat membedakan istilah jago dan jagoan. Ia, mengutip Ali Sabeni, almarhum anak Sabeni, tokoh jago asal Tanah Abang, menyebut jagoan adalah mereka yang tidak berjuang untuk kaum lemah dan hanya mengabdi kepada penguasa. Sementara jago adalah jawara yang mengamalkan ilmu silatnya secara benar.

    JJ Rizal menyebut yang paling beken tentu saja adalah si Pitung—yang punya nama asli Salihun asal Rawabelong



    JJ Rizal, sejarawan Betawi, bahkan menyebut ada istilah khusus bagi para jagoan yang bertingkah. Dalam cerita Nyai Dasima, disebutkan bahwa Bang Puasa—yang membunuh Dasima—adalah seorang becokok. Becokok di sini diartikan sebagai seorang jago yang sudah menjual dirinya dan idealismenya kepada kaum beruang. Becokok menjadi sebuah perpanjangan tangan dari penguasa.

    Bicara soal jago di tanah Betawi, JJ Rizal menyebut yang paling beken tentu saja adalah si Pitung—yang punya nama asli Salihun asal Rawabelong. Si Pitung menjadi jago yang sangat legendaris berkat kepiawaiannya membuat jaringan penyelundupan senjata hingga ke Makassar. Karena itulah, di zamannya ia menjadi musuh nomor satu yang diburu Belanda.

    Pada mulanya kisah si Pitung dianggap sebagai sebuah mitos. Namun penelitian Margaret van Till membuktikan bahwa Pitung adalah tokoh nyata. Kepahlawanan Pitung yang dilestarikan melalui lenong setidaknya mengajarkan empat basis maen pukulan khas Betawi, yakni: kemanusiaan, kejujuran, budi pekerti luhur, dan peka terhadap penderitaan wong cilik.

    Lebih lanjut, JJ Rizal memaparkan bahwa peranan kaum jago di masa kemerdekaan dan revolusi tak bisa dianggap remeh. Bahkan, sebagian besar kaum jago adalah seorang mualim atau ahli agama. Sebut saja Entong Gendut yang berperan dalam pemberontakan Condet, Nyai Kamsiah yang menjadi motor pemberontakan petani Banten, Entong Tolo, Guru Mujib, Guru Madri di Pecenongan, Kyai Nur Ali yang punya basis di Bekasi dan memainkan peranan penting di masa revolusi bersama Haji Darip Klender.

    Pada masa sekarang, banyak kalangan pesimistis mengenai masa depan pencak silat Betawi. Seperti dikeluhkan Haji Eddie Nalapraya, pencak silat semakin jauh dari aspek kebudayaan dan hanya dianggap sebagai sebuah olahraga yang dipertandingkan secara nasional. Karena itulah, ia menyarankan agar pencak silat bisa masuk dalam kurikulum pendidikan nasional.

    Di lain pihak, Hilmar Farid dalam sambutannya menuturkan bahwa dalam setiap kebudayaan lazim dikenal adanya seni bela diri. Karena itulah, ia mengharapkan adanya suatu pendokumentasian serta penelitian lebih lanjut terhadap maen pukulan khas Betawi ini. “Kalau sudah silakan pertontonkan Bapak, Ibu, pakai saja aula ini (Kemendikbud), memang ini untuk rakyat, kok,” ujar Pak Dirjen yang disambut tepuk tangan riuh para peserta diskusi.

    Related Post

    $(document).ready(function() {$('img#closed').click(function(){$('#bl_banner').hide(90);});});
    close
    Banner iklan disini