News Sticker
  •   PASTIKAN DIRI ANDA TERDAFTAR DALAM MENSUKSESKAN PEMILIHAN DAERAH GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR DKI JAKARTA (15 FEBRUARI 2017)  PERGUB NOMOR 11 TAHUN 2017 TENTANG IKON BUDAYA BETAWI RESMI DITANDATANGANI OLEH (PLT) GUBERNUR DKI JAKARTA (1/2/2017)   PERATURAN GUBERNUR(PERGUB) IKON BUDAYA BETAWI ANTARA LAIN ONDEL-ONDEL, KEMBANG KELAPA, ORNAMEN GIGI BALANG, BAJU SADARIAH KEBAYA KERANCANG, BATIK BETAWI, KERAK TELOR DAN BIR PLETOK 

  • Empat Jam Bersama Babe Idin, Pendekar Sungai Pesanggrahan

    Fadjriah Nurdiarsih Januari 2017 Babe Idin

    Dugh, sesosok hewan berwarna campuran antara hijau dan cokelat melompat dari atas pohon ke perahu kami. Ukurannya sepaha orang dewasa. Dua orang kawan memekik dan hewan itu langsung terjun ke air.

    “Apa itu? Kadal?” ujar saya berteriak dari atas.

    “Biawak,” jawab Asep yang masih berada di dalam air.

    “Untunglah, gue kirain buaya,” jawab kawan yang kaget tadi.

    Sesaat mereka tertawa. Namun sebentar kemudian perahu kami kembali bergerak terdorong arus. “Aaaah,” teriak mereka yang tertinggal di atas perahu baja berwarna kelabu itu. Keduanya kehilangan keseimbangan lantas jatuh terduduk.

    Mulanya adalah pesan pendek dari Andri, kawan yang juga pegiat di Komunitas Sangga Buana. Ia mengundang untuk ikut menyusuri Sungai Pesanggrahan dengan perahu mulai dari Cinere Residence hingga Komunitas Sangga Buana di Karang Tengah. Saya menyatakan tertarik setelah berpikir bahwa sebelumnya saya tak pernah naik perahu untuk menyusuri sungai.

    Meski terlahir sebagai anak Jakarta asli, saya asing dengan sungai. Saya tak pernah merasakan asyiknya mandi di sungai. Ketika saya kecil pada tahun 90-an, sungai terlalu kotor untuk dijadikan tempat berenang. Satu-satunya kenakalan yang saya lakukan adalah terjun ke rawa dan mencabuti kangkung liar. Setelah itu saya kapok karena kaki menjadi teramat gatal dan mama menakut-nakuti perihal adanya lintah yang bisa menghisap darah manusia sampai habis.

    Jadi bisa dibayangkan bahwa saya sangat penasaran dengan aktivitas baru ini. Namun, begitu dua perahu diturunkan melalui undakan di tepi sungai, Bang Ade dari Komunitas Sangga Buana bertanya, “Are you sure?”

    Ia mengulangi pertanyaannya dua kali. Saya menjawabnya dengan berkata, “Terserah aja gimana, ya gue ikut aja.”

    Dia hanya tertawa lalu meminta saya naik ke perahu karet berwarna merah-oranye. Sebelumnya Haji Chairuddin, yang akrab dipanggil Babe Idin, meminta saya mengencangkan rompi pelampung yang saya kenakan. Baiklah, pikir saya, ini mulai seram.

    Oh ya, Sabtu, 12 November 2016 pagi itu adalah kali pertama saya berjumpa dengan Babe Idin. Sebelumnya saya sudah mendengar berita macam-macam tentang dia dan kegigihannya menjaga Kali Pesanggrahan, tapi perawakan dan mukanya baru kali itu saya lihat langsung.

    Pertama kali bersalaman, ada aura kuat yang memancar dari laki-laki berusia 66 tahun ini. Babe Idin memakai kaus biru dan celana komprang. Di pinggangnya terselip sabuk pangsi berwarna hijau. Di atas kepalanya bertengger peci beludru merah yang sudah pudar warnanya. Ia tak beralas kaki. Penampilannya secara keseluruhan tak bisa menyembunyikan kesan angker dari dirinya. Saya tak tahu itu apa, tapi yang jelas saya jadi takut berkata dan berbuat macam-macam di depannya. Setelah menempuh perjalanan empat jam bersama beliau, barulah saya tahu kenapa saya merasa “kecil” di hadapannya.

    Tepat pukul sepuluh pagi itu kami memulai petualangan. Dua buah perahu berjalan beriringan. Perahu Babe Idin berwarna abu-abu dan dari baja diisi oleh lima orang. Pendayung-pendayung terbaik ada di sana, termasuk Bang Ade dan Bang Asep.

    Sementara perahu karet saya diisi tiga orang mahasiswa dari Uhamka, Bang Ario yang bertindak sebagai pemimpin, Feirsa, dan Bang Anto dari Cinere. Bang Anto ini bertindak sebagai pemandu yang menjelaskan keadaan sekitar di pinggir sungai.

    “Ini pohon apa, Bang?” tunjuk Ario.

    “Oh, itu sengon,” jawab Bang Anto.

    Perahu melaju lancar meski beberapa kali terantuk batu. Bang Anto sempat menunjukkan bahwa di wilayah yang kami lewati kedalaman sungai mencapai 10 meter. “Lihat ini, dayung saja tak mampu mencapai ujungnya,” katanya menjelaskan.

    Sepanjang perjalanan saya melihat sungai relatif bersih, tidak seperti Ciliwung yang kotor, penuh sampah, dan berbau. Yah, ada juga tumpukan sampah, tapi jumlahnya dapat dihitung dengan jari. Beberapa kali bambu yang menghalangi ditebas dengan golok dan gergaji yang dibawa dalam perahu.


    Diskusi

    Sepuluh menit berjalan tiba-tiba saja perahu kami terbawa arus hingga berputar dan bergoyang keras. “Menunduk,” perintah Ario sambil berteriak. Setelah beberapa saat perahu kembali tenang, tapi sebagian air masuk. “Tenang aja, gapapa,” kata Ario menenangkan. Saya mulai deg-degan.

    Setelah itu perjalanan relatif lancar. Meski arus deras dan sungai dalam, beberapa halangan mampu kami atasi dengan mulus. Pemandangan di sepanjang sungai adalah limbah rumah tangga, pohon bambu, dan jarak sungai yang terlalu dengan permukiman.

    Semakin lama perahu berjalan, saya jadi hapal kapan harus menunduk atau mendorong tubuh ke belakang agar perahu tak terdorong arus. Beberapa kali perahu kami terbanting ke pinggir, sehingga saya harus melindungi kepala agar tak dihantam bambu. Malang tak dapat ditolak, perahu kami robek di bagian dek akibat benturan dengan batu yang keras. Air mulai masuk dan beberapa kawan tampak panik. Mereka mulai membungkus kamera yang mereka bawa. Olala, ternyata ini kali pertama mereka naik perahu. Habislah saya.

    Saya lalu dioper ke perahu Babe Idin dan perjalanan kami lanjutkan kembali. Di perahu ini bukan berarti saya lebih aman. Pendayung profesional hanya tiga orang, dua lainnya amatir, dan sisanya penumpang. Saya terus-menerus jongkok sambil mengucapkan zikir memohon keselamatan. Perahu kami berkali-kali bergoyang-goyang dipermainkan arus yang tak kuat ditangani para pendayung. Sampai kemudian di suatu titik ada bambu besar yang menghalangi. Babe Idin meminta perahu ditepikan. Ia melompat ke atas batu, lalu memerintahkan agar bambu itu dipotong.

    “Di sini saja sambil tunggu yang lain,” katanya.

    Muka saya pucat. Rompi saya lepaskan karena saya merasa pusing dan sesak. Saya mulai merutuki Andri karena meski ia yang mengajak, nyatanya ia tak kelihatan batang hidungnya sama sekali.

    “Eh, Neng,” ujar Babe Idin kepada saya. “Lu ngapa Ahok mulu yang dijadiin berita?”

    Saya diam sambil nyengir.

    “Gue dong yang dibikinin berita. Gue kan udah 32 tahun jaga sungai. Dulu sungai ini kotor, sekarang mendingan,” ujarnya.

    “Kan, Babe udah pernah dulu diberitain pas ulang tahun Jakarta,” kata saya.

    “Sekali, doang. Ahok tiap hari lu jadiin berita,” katanya.

    Saya terhenyak. Skakmat. Saya kalah satu kosong.

    Tak lama perahu kawan kami datang. Namun seluruh penumpangnya sudah turun. Perahu itu dipegangi beramai-ramai. Konon bocornya makin luas karena keberatan beban dan berkali-kali terantuk batu. Saya kira Feirsa kualat. Sebelumnya ia ditegur ibu-ibu dengan dua anak yang bertanya hendak apa dia dengan perahu di pinggir sungai.

    Begitu mendengar jawaban Feirsa, ibu itu memperingatkan. “Wah, hati-hati di sana banyak batu, lo. Hati-hati ya.” Imbauan itu diucapkannya tiga kali.

    Feirsa menjawab iya dengan pelan. Namun begitu ibu itu pergi dengan sepeda motornya, ia memaki kesal karena merasa digurui.

    Dan lihatlah perahunya bocor karena batu, meski sebelumnya saya sempat takut perahu itu bocor gara-gara saya. Saya sempat berpikir ada kutukan bajak laut. Kalian tahu, semacam kalau perempuan naik perahu nanti perahunya kandas. Ya, semacam itu.

    Sebagian penumpang perahu karet memilih kembali. Perahu tak kuat membawa orang sebanyak itu. Risiko celaka lebih besar. Saya memandang iri, ingin sekali ikut kembali. Tapi saya tak mungkin menyeberangi sungai untuk ke tepian. Perahu mereka di sebelah kiri dan perahu kami tertambat di kanan. Kalau saya nekat, bisa-bisa saya malah terbawa arus atau terbentur batu. Saya tak mau mati konyol.

    “Jadi bagaimana?”

    “Nanti cari spot yang aman. Memang mau ditinggal di sini, banyak uka-uka (hantu),” Bang Asep menakuti.

    “Lagipula paling tinggal satu kilometer yang begini, sisanya aman,” katanya menenangkan.

    Belakangan saya tahu dia berbohong. Perahu kami bergoyang semakin keras terbawa arus bahkan hingga berputar 180 derajat. Kemudian setelah berjalan satu kilometer, perahu kami tertambat di batu hingga tak mungkin didorong lagi. Saya terpaksa bergantungan di batang yang dijulurkan untuk menuju tepian. Sekujur tubuh basah, pun tas saya. Kedua jempol saya perih karena menginjak batu dan dengkul saya memar akibat benturan. Untunglah ponsel saya selamat karena disimpan dalam bungkusan kecil di dalam tas. Begitu ponsel saya nyalakan, saya langsung menghubungi suami. Saya kabari keadaan saya. Dia lemas karena sudah cemas sejak tadi.

    Saya melihat sekeliling sementara upaya penyelamatan masih berlangsung. Ternyata kami terdampar di pekuburan. Babe Idin yang kali ini menunggangi perahu yang bocor ditolong untuk menambatkan perahunya. Ia terbawa arus saat sedang menyeberang, tapi mampu melentingkan tubuhnya dan mencapai akar tumbuhan di tepian.


    Diskusi

    Kisah Jawara Kali Pesanggarahan
    Ponsel Babe Idin tak mau menyala meski baterainya sudah dicopot. Ia mencoba menjemurnya dengan sinar matahari, berharap ponsel itu terselamatkan. Ia lalu berdiri sambil memikirkan langkah apa yang akan dilakukan setelahnya. Meski nasib kami sial, tak tampak kekesalan di wajahnya.

    “Neng, nanti lu naik mobil ya sama Ario ya, sama anak-anak Uhamka,” katanya menyapa saya yang mendekat.

    “Babe mau ke mana?”

    “Gue terus,” katanya. “Harus sampai selesai.”

    Saya berusaha memancingnya karena ini kesempatan bagus untuk bercakap-cakap. Sebagian kawan yang lain masih meluruskan kaki. Mereka tertawa-tawa sambil menyumpahi nasib.

    “Seru ya, Mbak,” kata salah seorang kepada saya.

    Seru simbahmu, saya mengutuk dalam hati.

    “Be, gimana perasaan Babe sekarang soal Sungai Pesanggrahan?” saya bertanya.

    “Apa yang harus gue jawab? Kesel gue,” katanya menumpahkan kemarahan.

    Suaranya mulai meninggi sehingga membuat keder orang yang mendengarnya. Tapi saya enggan mundur. Dengan keras kepala saya tanyai dia hingga akhirnya Babe Idin mau menjawab meski dengan bersungut-sungut.

    Sejak pertengahan 1980-an Babe Idin sudah berkeliling menyusuri Sungai Pesanggarahan dari hulunya di Gunung Pangrango hingga ke muaranya sepanjang 136 kilometer. Dia mengaku bukan tanpa alasan melakukan hal itu. Kata dia, peradaban manusia selalu berawal dari sungai. Alam ini bukan warisan leluhur, melainkan titipan anak cucu–itu yang selalu ditekankannya.

    Selain itu, ada alasan lain yang disembunyikannya. Ia mengaku Sungai Pesanggrahan adalah tanah leluhurnya.

    “Di sana makam kumpi gue,” kata Babe Idin sambil menunjuk tebingan di kanan.

    Menurut Babe Idin dari cerita turun temurun di keluarganya, berdasarkan urutan dari kakeknya hingga ke pongkol, ia memastikan bahwa dirinya merupakan keturunan Pangeran Jacatra.

    Karena ada serangan dari Belanda, keluarga Pangeran Jacatra menyingkir ke Pesanggrahan—yang artinya ‘tempat persinggahan’. Namun mereka masih dikejar-kejar karena dianggap musuh. “Bahkan makam keluarga saja sampai dibakar-bakarin,” katanya.

    JJ Rizal dalam tulisannya berjudul “Jokowi dan Pangeran Jayakarta” di Koran Tempo, Sabtu, 16 Maret 2013, mengatakan berdasarkan kajian Adolf Heuken, Uka Tjandrasasmita, Hasan Muarif Ambari, dan Rachmat Ruhiyat, nama Pangeran Jayakarta memiliki kaitan dengan sejarah Jakarta. Bahkan menurut Slametmulyana, dari nama Pangeran Jayakarta itulah nama Jakarta berasal.

    JJ Rizal menulis anggapan keliru ini terus bertahan, meskipun telah dipatahkan dengan ditemukannya kata Xacatara di buku J de Barros, Decadas da Asia, yang ditulis 1553. Sedangkan Pangeran Jayakarta diangkat jadi Adipati Jayakarta 50 tahun setelahnya, yaitu 1603.

    Nama Jakarta memang berasal dari Jayakarta, suatu nama yang dikenalkan dan menandai babak baru setelah Fatahillah menaklukkan Kalapa atau kota kuno Jakarta pada 1527. Itulah masa Kalapa sebagai kota bandar leluhur orang Betawi memudar. Kota bandar besar itu jatuh di bawah penguasaan Demak yang didelegasikan pengurusannya kepada kota saingannya, Banten. Fatahillah naik, lalu Tubagus Angke, selanjutnya Pangeran Jayakarta yang berakhir dalam konflik besar 1619, saat Jayakarta hancur serta Belanda membangun kota baru di atas reruntuhannya sebagai basis jadi adikuasa baru di Nusantara.

    Bagaimana pun, karena percaya diri sebagai keturunan pendiri Jakarta itulah, Babe Idin begitu keras kepala menjaga Sungai Pesanggrahan. Di rumahnya di kawasan Karang Tengah ia mengelola hutan kota Pesanggrahan seluas 40 hektare. Mulai perlindungan satwa liar, larangan membuang sampah di sekitar bantaran kali, pelestarian kobak mata air dan makam-makam tua, serta benda-benda bersejarah dan lain-lain dilakukannya.

    “Karena itu Neng, SK gue bukan dari Wali Kota, bukan dari Gubernur, apalagi dari Presiden. SK gue langsung dari langit,” katanya mengumpamakan.

    Bang Idin memang sudah 32 tahun menjaga Kali Pesanggrahan, tapi ia sedih karena pemerintah tampaknya tak ada perhatian sama sekali untuk menjaga sungai. Saking sebalnya, seluruh penghargaan yang pernah diterimanya tak pernah dipajangnya, termasuk Kalpataru yang bergengsi itu. Semua disimpannya di dalam kardus.

    “Jalanan dibenerin, diberesin, dibikin jalan tol. Sungai enggak dipikirin,” gerutunya.

    Ia mengumpamakan dirinya sebagai pendekar. “Pendekar itu kan artinya pandai, derma, karya. Itu pendekar. Kalau jawara itu bukan artinya mukul orang mati kelenger. Tapi lurus, ikhlas, berani, benar, dan tawadu’. Mental sang jawara itu gitu,” kata Babe Idin.

    Babe Idin lantas mempelopori berdirinya kelompok tani Bambu Kuning dengan jumlah anggota 17 orang pada 1997, sampai akhirnya anggota terus bertambah menjadi 80 orang. Pada 17 Februari 1998 lahirlah Kelompok Tani Lingkungan Hidup “Sangga Buana”. Sangga berarti tiang yang berfungsi menyangga atau menopang suatu benda yang ada di atasnya. Sementara Buana berarti bumi atau dunia yang di dalamnya terdapat udara, tumbuhan, air, manusia, satwa, dan lain-lain yang harus dijaga dan dirawat.

    Di hutan kota Pesanggrahan, setiap hari ia mengelola lima truk sampah. Sampah-sampah itu lalu dipilah-pilah untuk setelahnya dikelola dengan teknik uap. Dari sampah, ekonomi banyak keluarga terangkat. Ini sesuai dengan misi Sangga Buana, yakni menyelamatkan alam dan mengentaskan kemiskinan.

    Sedangkan dengan kegiatan sisir sungai seperti hari ini, Babe Idin berusaha menumbuhkan rasa cinta terhadap alam dan berusaha untuk menjaga kelestarian alam. Tindakannya berbuah baik. Warga setempat yang dulu menolak akhirnya bisa dirangkul. Tak ada lagi penolakan dari warga yang dulu membuat dia sempat bersitegang.

    Ia menjelaskan di sungai yang berkelok-kelok dan tidak rata, di tepiannya ada semacam resapan untuk menyerap air tanah. Dengan demikian, air tanah disimpan sebagai cadangan dan daratan lebih tinggi dari air laut.

    “Coba bayangkan kalau sungai dibeton. Alirannya tambah deras dan tidak bisa menyimpan air tanah. Permukaan air laut di atas tanah. Tenggelam nanti, Neng,” katanya.

    Kondisi yang sama kini tengah menimpa Bandung akibat pembangunan yang tidak tertata dan mengangkangi alam. “Padahal setahun lalu gue udah bilang. Bandung jangan dibikin Paris van Java, tapi jadikanlah Bandung seperti kota Parahiyangan. Lihat sekarang banjir, kan?” tutur dia.

    Meski upayanya kini bisa dibilang berhasil, Babe Idin masih merasa sedih. “Yang buang sampah ke kali juga agak kurangan, anak-anak muda juga banyak yang mau gabung, tapi pemerintahnya sama sekali enggak peduli,” kata dia.

    Persoalan lain, rumah-rumah yang dibangun di bantaran sungai selalu membelakangi sungai. Akibatnya, sungai tak dihargai dan kerap dijadikan tempat membuang sampah. Seharusnya, ia menjelaskan, bagian muka rumah haruslah menghadap sungai agar sungai menjadi kawan manusia. Apalagi, kata Babe Idin, di sungai tempat lahirnya peradaban dan kehidupan manusia.

    “Contoh dong Taiwan dalam mengelola sungai. Pembangunannya beradab terhadap sungai,” katanya.

    Soal pembangunan di Jakarta, Babe Idin banyak berkeluh kesah. Menurut dia, pembangunan zaman sekarang yang meminggirkan kaum tak berpunya dan hanya mementingkan kaum pemodal mirip dengan cara yang dijalankan Belanda. Hal ini pernah pula ditegaskan Susan Blackburn dalam bukunya Jakarta A History, yang memberi gambaran bahwa Kota Jakarta dibangun berdasarkan kehendak penguasa.

    Padahal, ujar Babe Idin, Sukarno dalam pidato ulang tahun Kota Jakarta tahun 1961 sudah menegaskan pembangunan harus ditujukan pada semua kalangan. “Kan sudah dibilang, bangunlah jiwanya, bangunlah raganya.”

    Kini tanpa banyak sorotan, Babe Idin membangun hutan kota yang asri dan terbentang di sepanjang tepian Kali Pesanggrahan. Di tempat ini burung-burung berkicau setiap hari. Bahkan burung cakakak yang bersarang di tanah dan sudah jarang ditemui di wilayah lain di Jakarta bisa ditemukan di tempat ini. Kelompok binaan Babe Idin juga beternak kelinci dan memelihara kuda. Hutan Sangga Buana sesungguhnya tempat yang asyik untuk mengenal alam dan hewan.

    Babe Idin pun tak perlu marah-marah lagi terhadap orang yang buang sampah sembarangan. Dulu ia pernah ribut dengan orang kaya di kompleks elite yang membuang sampah ke sungai. Bahkan saking kesalnya saat itu, Babe Idin sampai menaruh sampah di depan rumah orang itu. “Biar dia tahu kayak apanya rasanya ngadepin sampah setiap hari,” ujarnya.

    “Jadi tidak ada lagi cerita di zaman kerajaan dulu, yang menyebutkan bahwa ‘jangan suka mengotori sungai karena sungai tempat mengenal Tuhan’….”


    Diskusi

    Perjalanan Kembali
    Mobil operasional yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Kami yang sudah kapok bisa kembali, sementara sisanya masih melanjutkan misi. Tepat pukul 15.00 sore itu, Ario, putra Babe Idin, selesai mengikatkan perahu ke atas mobil Suzuki APV. Mobil kepenuhan beban dengan begitu banyaknya orang, mesin, dayung, dan perahu.

    Karena itulah, mobil terpaksa dijalankan pelan saja. Sebagian karena kelebihan beban, sebagian agar perahu yang diikatkan di atap tak bergeser. Begitu keluar komplek Wisma Mas tempat kami terdampar, ternyata kami sudah memasuki wilayah Pondok Cabe. Lapangan terbang terlihat dari sisi jalan tempat saya duduk di kursi penumpang di samping sopir.

    Beberapa orang di jalanan menunjuk ke arah kami. Bahkan ada seorang pengendara mobil yang bengong dan hendak memfoto kami saat berpapasan. Sudah begitu asingnya masyarakat Indonesia dengan sungai, sehingga melihat perahu saja seperti sebuah pemandangan yang janggal.

    Saya bertanya kepada Ario sebenarnya untuk apa mereka turun ke sungai seperti hari ini. Ario menjawab sambil tertawa, “Sebenarnya tadi test drive aja, karena kami mau bikin Festival Kali Pesanggrahan. Babe mau coba pakai perahu ini. Salah gue sih, harusnya enggak coba-coba. Harusnya enggak pakai perahu ini, tapi pakai perahu khusus rafting.”

    Selanjutnya dia merinci untuk menambal kebocoran saja perlu kira-kira 500 ribu. Belum lagi untuk mengganti terpal dasar karena ada besi yang bengkok dibutuhkan uang Rp 5 juta. “Jadi kira-kira seharga motor Mio bekas-lah (pembetulannya),” katanya.

    Ario melanjutkan, mereka juga tengah menguji jalur untuk acara tanggal 26 November 2016. Dalam Festival Kali Pesanggrahan, rencananya mereka akan menurunkan 12 perahu dan menempuh jarak 12 kilometer dari Cinere Residence sampai Tanah Kusir. Di Pondok Cabe tempat kami terdampar, jarak baru ditempuh setengahnya alias 6 kilometer.

    “Nanti jalurnya berubah, dipotong jadi 4 kilometer saja karena ternyata medannya enggak memungkinkan,” kata Ario.

    “Jadi kalian baru tes perahu dan tes jalur hari ini?” kata saya heran.

    Ario mengangguk.

    “Kalian gila,” ucap saya.

    Dia hanya tertawa terbahak-bahak.

    Di depan Masjid Nurul Falah—yang dikenal sebagai masjid keong—kami berpisah. Saya menanti jemputan ojek online untuk menuju RS Fatmawati, tempat janji temu dengan suami. Di jalanan yang ramai dengan deru dan lalu lalang kendaraan, sepasang ondel-ondel laki dan perempuan bergerak-gerak mengikuti irama dari kaset yang diputar. Seorang anak muda menyodorkan ember meminta uang receh kepada setiap orang yang lalu lalang.

    Ondel-ondel adalah ciri khas kebudayaan Betawi. Namun, Babe Idin menolak keras disebut Betawi. “Gue Jakarta, bukan Betawi. Gue Islam, tapi bukan Arab,” katanya.

    Saya ingin menunjuk kopiah yang dipakainya dan mengatakan bahwa itu peninggalan bangsa Arab, tapi tak berani.

    Menurut Babe Idin, Betawi berasal dari kata Batavia. Ia merujuk pada kisah Mambet Tahi saat kota benteng Batavia diserbu dengan gumpalan kotoran manusia. Nama Jakarta baru dikembalikan pada kota ini saat zaman Jepang.

    “Tiga ratus lima puluh tahun kebudayaan orang Jakarta lenyap dan digantikan oleh orang Belanda pakai nama Betawi. Jangan mau, Neng. Kita ini Jakarta, artinya ‘kemenangan yang gilang gemilang’, bukan Betawi,” katanya.

    Berdasarkan literatur sejarah yang saya baca, memang saat Belanda merebut Sunda Kelapa, mereka selalu menganggap Jakarta sebagai sebuah kota kosong tak berpenghuni. Karena itulah, sejarah perkembangan Kota Jakarta pada awalnya selalu dimulai dari kisah penaklukan Sunda Kelapa. Ini sesungguhnya sesat sejarah, sebab arkeolog Hasan Djafar menegaskan penduduk asli Kota Jakarta sudah ada sejak 5000 tahun SM.

    Kepala saya pusing dan paha saya mulai terasa sakit. Sudah pukul 16.00 dan saya belum makan nasi sejak pagi. Saya merasa lega saat ojek online saya akhirnya datang. Di atas motor, kala melintasi ondel-obel yang menari lincah, saya teringat ucapan Babe Idin, “Orang pintar belum tentu paham, tapi orang paham sudah tentu pintar.”.

    Related Post

    $(document).ready(function() {$('img#closed').click(function(){$('#bl_banner').hide(90);});});
    close
    Banner iklan disini