News Sticker
  •   PASTIKAN DIRI ANDA TERDAFTAR DALAM MENSUKSESKAN PEMILIHAN DAERAH GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR DKI JAKARTA (15 FEBRUARI 2017)  PERGUB NOMOR 11 TAHUN 2017 TENTANG IKON BUDAYA BETAWI RESMI DITANDATANGANI OLEH (PLT) GUBERNUR DKI JAKARTA (1/2/2017)   PERATURAN GUBERNUR(PERGUB) IKON BUDAYA BETAWI ANTARA LAIN ONDEL-ONDEL, KEMBANG KELAPA, ORNAMEN GIGI BALANG, BAJU SADARIAH KEBAYA KERANCANG, BATIK BETAWI, KERAK TELOR DAN BIR PLETOK 

  • ORANG BETAWI DAN KECINTAAN TERHADAP LINGKUNGAN

    Andri Nugraha Januari 2017 Lingkungan


    Tong, jangan main di pohon rengas itu, di sana ada kuntilanak atau genduruwo….

    Neng, jangan potek ranting pohon rengas itu, karena nanti penghuni gaib pohon itu terusik dan marah…


    Hingga sampai saat ini, pohon rengas tersebut tumbuh subur di bantaran sungai yang akarnya berfungsi sebagai beton alami mencegah abrasi tanah ketika banjir melanda.

    Terbesit dalam kenangan masa kecil kita yang ditegur dan ditakuti-takuti oleh orang tua ketika bermain di kebun. Mereka melarang kita tidak melanggar pantangan tersebut. Memang ketika kita kecil dahulu orang tua kita sering mengingatkan kita dan terkesan menakuti anaknya dalam lingkup cerita makhluk mistis yang menunggu di pepohonan. Namun, hal tersebut rupanya memiliki suatu makna dan pembelajaran yang sangat ampuh untuk meilindungi dan mengajarkan tentang pentingnya menjaga lingkungan.

    Pembelajaran yang dibalut dengan unsur seram dan terkesan mistis terbukti ampuh mengajarkan generasi ke generasi untuk menjadikan anak cucunya agar sadar untuk menjaga lingkungan. Di saat anak tersebut sudah tumbuh dewasa dan dapat menganalisis mengapa dididik dengan pola semacam itu, hal tersebut menyadarkan bahwa para orang tua kita telah mewariskan metode pembelajaran yang ampuh dan sangat efisien dalam membentuk karakter anak cucunya untuk menghargai lingkungan. Tak heran banyak para orang Betawi yang sangat dekat kehidupan kesehariaannya dan tak terpisahkan dengan lingkungan. Bahkan, menjadikan mata pencahariaanya dengan simbiosis mutualisme terhadap lingkungan.

    Kedekatan masyarakat Betawi terhadap lingkungan menjadi satu bukti dengan nama-nama tempat, kampung, maupun daerah yang berada di wilayah Betawi, yang sekarang mencakup ibu kota Jakarta dengan nama-nama pohonan. Contohnya adalah sebagai berikut:
    • Wilayah Jakarta Utara: Kelapa Gading, Sungai Bambu.
    • Wilayah Jakarta Pusat: Kebon Melati, Kebon Kacang, Karet Tengsin, Kebon Kelapa.
    • Wilayah Jakarta Barat: Duri Kosambi, Kapuk, Tanjung Duren.
    • Wilayah Jakarta Timur: Pisangan Baru, Kayu Putih, Kebon Manggis, Utan Kayu.
    • Wilayah Jakarta Selatan: Pondok Pinang, Kebayoran, Gandaria.


    Diskusi


    Cikini ke Gondangdia…
    Saya bernyanyi, karena dia…


    Penggalan lirik dalam salah satu versi lagu keroncong Kemayoran di atas merupakan nama suatu daerah yang berada di Jakarta yang sekarang lebih kita dikenal sebagai nama stasiun kereta. Cikini dan Gondangdia merupakan nama pohon yaitu pohon Cikini dan pohon Gondangdia.

    Lima kota administrasi yang dimiliki Jakarta, di semua lima wilayah tersebut memiliki nama daerah yang didasari dengan suatu jenis tumbuhan tertentu yang tumbuh subur di suatu wilayah atau tempat yang menjadikan dasar penamaan suatu wilayah/tempat. Fakta dan data tersebut membuktikan bahwa masyarakat Betawi sangat lekat dan dekat terhadap lingkungan dan tidak terpisahkan pada sendi-sendi kehidupan dalam kesehariannya.

    Ada pula wilayah/tempat di Jakarta yang bukan dari nama pohon, namun daerah tersebut sangat lekat dengan pohon jenis buah-buahan, seperti Tanjung Barat dengan hasil jambu biji, Lenteng Agung dengan hasil sawo, dan Condet sebagai sentra dukuh dan salak.

    Sehebat apa pun manusia…
    Apakah ia orang biasa, jawara ataupun ulama…
    Apabila masup ke kebun salak...
    Maka orang tersebut akan menunduk…


    Petuah dan nasihat tersebut di atas adalah bentuk manuskrip dan kearifan lokal. Hubungan manusia yang menghargai pohon yang sangat melekat di kalangan masyarakat Condet dan mengandung arti tidak boleh sombong dan selalu tawadu di dalam menjalankan kehidupan. Karena bila kita tidak menunduk ketika masuk ke kebon salak, maka duri dari pohon salak akan menggores kulit kita.


    Diskusi


    Kecintaaan orang Betawi terhadap lingkungan sangat erat di dalam kehidupan kesehariaannya. Salah satunya adalah dengan prosesi ritual sedekah sungai yang dikenal masyarakat sungai dengan nama Ngancak. Masyarakta sungai yang menempati wilayah aliran sungai yang mengalir di Jakarta, melakukan prosesi ngancak ketika melakukan acara tertentu. Salah satunya ketika mengadakan resepsi pernikahan. Ngancak merupakan simbol terima kasih kepada alam khususnya sungai, yang telah memberikan sumber air serta ikan dan pepohonan yang tumbuh subur di bantaran sungai untuk kebutuhan kesehariannya. Ngancak pada umumnya terdiri atas telur, ayam, sayur-mayur dan dilarungkan ke sungai sebagai bentuk terima kasih atas ternak dan hasil cocok tanam yang berlimpah.

    Bocah-bocah dengan riangnya bercengkrama di sungai…
    Gemercik air kehidupan bak cermin bagian dari kawannya…
    Hilir hanyut kedebong pisang dan bambu bagian dari rizki yang melimpah…
    Melahap Ngancak yang terlarung sebagai hadiah yang dikembalikan kepada alam…
    Pohon Rengas bundaku…
    Wadas adalah ayahandaku…
    Dan rumpun bambu teman-temanku...
    Mereka terperkosa karna keelokannya…
    Salahkah?
    Bocah-bocah itu kini menangis menatap surga yang berubah menjadi neraka…
    Menatap kekosongan dengan sedikit harapan yang mungkin masih ada…
    Ah sudahlah…
    Mungkin inilah tumbal dari kampungku yang berubah menjadi kota ?

    Related Post

    $(document).ready(function() {$('img#closed').click(function(){$('#bl_banner').hide(90);});});
    close
    Banner iklan disini