News Sticker
  •   PASTIKAN DIRI ANDA TERDAFTAR DALAM MENSUKSESKAN PEMILIHAN DAERAH GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR DKI JAKARTA (15 FEBRUARI 2017)  PERGUB NOMOR 11 TAHUN 2017 TENTANG IKON BUDAYA BETAWI RESMI DITANDATANGANI OLEH (PLT) GUBERNUR DKI JAKARTA (1/2/2017)   PERATURAN GUBERNUR(PERGUB) IKON BUDAYA BETAWI ANTARA LAIN ONDEL-ONDEL, KEMBANG KELAPA, ORNAMEN GIGI BALANG, BAJU SADARIAH KEBAYA KERANCANG, BATIK BETAWI, KERAK TELOR DAN BIR PLETOK 

  • Imlek: Bandeng dan Pasar Malam

    Fadjriah Nurdiarsih Januari 2017 Budaya

    Dalam sebuah sketsa yang ditulis oleh Firman Muntaco, sastrawan asal Betawi, ada sebuah kisah tentang Imlek. Dikisahkan, seorang pria pergi ke pasar malam yang rutin digelar menjelang tahun baru orang Tionghoa. Di sana lantaran begitu padatnya dengan orang, ia leluasa mencolek para perempuan. Namun tak disangka salah satu dari orang yang dicoleknya adalah calon mertuanya.

    Dalam sebuah cerita yang lain, masih di kumpulan Gambang Jakarte-nya Firman Muntaco, ada kisah tentang bandeng. Terungkap bahwa seorang menantu atau calon menantu wajib hukumnya membawa ikan bandeng sebagai hantaran kepada mertua. Ini sejalan dengan kebiasaan orang-orang Tionghoa di Jakarta. Namun ternyata, kebiasaan ini kemudian diadaptasi oleh orang-orang Betawi di Jakarta.

    Kawasan Rawabelong, Jakarta Barat, yang sohor dikenal sebagai kampungnya si Pitung, setiap menjelang Imlek ramai dengan para pedagang yang menjajakan ikan bandeng. Rachmat Sadeli, pemimpin redaksi Majalah Betawi, pernah menyusuri pasar malam sepanjang Rawabelong. Dari hasil penelusurannya, terungkap bahwa para pedagang bandeng di pasar malam menjelang Imlek rata-rata menjalani usaha ini turun temurun. Beberapa pedagang mewarisi usaha musiman ini dari orang tuanya. Namun bandeng Imlek beda dengan bandeng biasanya. Ukuran bandeng Imlek biasanya lebih besar. Majalah Betawi menyebutkan harga per ekor bandeng berkisar antara Rp 100 ribu sampai Rp 125 ribu dengan berat berkisar 1,7 kg dan panjang mencapai 50 cm.

    Tradisi pasar malam menyambut Imlek memang dipraktikkan luas di kalangan orang Betawi Rawabelong, Kemanggisan, hingga Kebon Jeruk. Haji Bachtiar menyebut sejak ia kecil, kira-kira tahun 1960, pasar malam Imlek itu sudah ada. “Cuma dulu belum rapi, belum bejejer kayak sekarang,” ujarnya.



    Haji Bachtiar, pemimpin Sanggar si Pitung di Rawabelong, bahkan menyebut ada bandeng sebesar anak orok. Bandeng yang dijual di Rawabelong memang merupakan bandeng pilihan yang berbeda dengan ikan bandeng yang biasanya dijual di tukang ikan. Bandeng yang dijual merupakan ikan bandeng yang dipelihara khusus untuk Imlek. Meski bukan diproduksi di Rawabelong, nyatanya bandeng Rawabelong sangat terkenal.

    Tradisi pasar malam menyambut Imlek memang dipraktikkan luas di kalangan orang Betawi Rawabelong, Kemanggisan, hingga Kebon Jeruk. Haji Bachtiar menyebut sejak ia kecil, kira-kira tahun 1960, pasar malam Imlek itu sudah ada. “Cuma dulu belum rapi, belum bejejer kayak sekarang,” ujarnya.

    Saking terkenalnya bandeng Rawabelong yang gurih, muncul sindiran jika si menantu datang dengan tangan hampa di hari Imlek. “Emang gak lewat Rawabelong, ape?” Yang artinya kira-kira si mertua mengharapkan si menantu membawakan ia ikan bandeng.

    Selain kepada mertua, bandeng yang sudah diolah—paling terkenal adalah dipindang, diberi bumbu asam dan kuning dengan kuah—dibawa kepada orang-orang yang dianggap “perlu”, misalnya sanak keluarga yang dianggap dekat. “Yang panen bandeng di sini biasanya ustad-ustad, tuh,” Haji Bachtiar menjelaskan.

    Bandeng saat Imlek bagi orang Rawabelong, Kemanggisan, Kebon Jeruk dan sekitarnya sudah menjadi tradisi yang melekat dengan nilai-nilai kehidupan mereka. Tradisi leluhur itu terus dipegang dan dikembangkan sampai sekarang. Selain karena ikan bandeng mempunyai nilai gizi yang tinggi, tradisi makan bandeng bersama saat Imlek dianggap sebagai media silaturahmi yang efektif. “Ini saya dari kemaren makan bandeng melulu. Udah digoreng, dipindang, sekarang lagi mindang lagi,” tutur Haji Bachtiar. Ia melanjutkan, “Siapa aja yang dateng, ayok dah makan bareng.”

    Berbeda dengan kalangan Cina di pinggiran Jakarta yang merayakan Imlek dengan acara hiburan seperti barongsai, cokek, dan gambang kromong, orang Rawabelong hanya mengenal hantaran dodol Betawi dan bandeng. Namun, dodol ini tidak dibuat khusus seperti menjelang Lebaran. Dodol ini juga memiliki cita rasa dan penampakan yang berbeda dibanding dodol Cina. Dodol Betawi secara kasat mata berwarna hitam, beda dengan dodol Cina yang berwarna cokelat muda.

    Akan tetapi, patut dicatat bahwa tradisi makan bandeng ini tentu tidak merata di seluruh wilayah kebudayaan Betawi. “Orang Tenabang (Tanah Abang) mana kenal makan bandeng begini,” ucap Haji Bactiar.

    Imlek, bandeng, dan pasar malam. Demikian geliat tradisi yang dianggap menjadi bagian dari kebudayaan Betawi, khususnya di Rawabelong dan sekitarnya. Ciri akulturasi dan keterbukaan yang dimiliki masyarakat Betawi membuat mereka mampu menyerap unsur-unsur kebudayaan lain lantas memperkayanya sebagai milik mereka dengan bentuk yang sesuai dengan ciri dan kearifan lokal yang mereka punyai. Selamat Imlek.

    Related Post

    $(document).ready(function() {$('img#closed').click(function(){$('#bl_banner').hide(90);});});
    close
    Banner iklan disini