News Sticker
  •   PASTIKAN DIRI ANDA TERDAFTAR DALAM MENSUKSESKAN PEMILIHAN DAERAH GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR DKI JAKARTA (15 FEBRUARI 2017)  PERGUB NOMOR 11 TAHUN 2017 TENTANG IKON BUDAYA BETAWI RESMI DITANDATANGANI OLEH (PLT) GUBERNUR DKI JAKARTA (1/2/2017)   PERATURAN GUBERNUR(PERGUB) IKON BUDAYA BETAWI ANTARA LAIN ONDEL-ONDEL, KEMBANG KELAPA, ORNAMEN GIGI BALANG, BAJU SADARIAH KEBAYA KERANCANG, BATIK BETAWI, KERAK TELOR DAN BIR PLETOK 

  • Orang Betawi dan Tradisi Intelektual

    Fadjriah Nurdiarsih Januari 2017 Sejarah

    “Apakah orang Betawi punya tradisi intelektual?” tanya Zen Hae, sastrawan Betawi, dalam suatu diskusi pada Minggu, 14 Februari 2015 di Komunitas Bambu.

    Jawabannya adalah mestinya punya. Namun entah mengapa publik tidak sadar dengan kehadiran para intelektual Betawi ini. Imej yang muncul ke permukaan justru orang Betawi sebagai kaum yang bodoh, tidak berpendidikan, norak, dan tukang kawin. Ditambah lagi posisi kaum Betawi di Jakarta yang makin tergusur dan berbagai organisasi dengan nama Betawi yang dalam kesehariannya justru lebih mencerminkan “adu otot” dibanding “adu otak”.

    Benyamin Suaeb, seniman Betawi serba bisa, pernah mencoba mendobrak stigma ini. Dalam film arahan Sjuman Djaya berjudul Si Dul Anak Modern (1976), ia menampilkan kekotaan tanpa meninggalkan kekampungannya. Salah satu lagu dalam film ini yang lantas tenar dan kemudian menjadi soundtrack Si Dul Anak Sekolahan berbunyi, “Siapa bilang anak Betawi pade betingke.”

    Peran Ulama Islam
    Betawi Kita membahas tradisi intelektual di Betawi dalam suatu diskusi di Depok pada Minggu, 14 Februari 2016. Zen Hae, sastrawan Betawi, menyebut salah satu syarat berkembangnya tradisi intelektual adalah akses terhadap pendidikan.

    Mengingat Betawi lekat dengan Islam, maka tentu kaum intelektual yang pertama kali muncul di Betawi berasal dari golongan ulama. Kebanyakan kaum ulama ini menempuh pendidikan di Arab Saudi. Salah satunya yang paling terkenal adalah Syaikh Juned al-Batawi, kelahiran Pekojan, Jakarta Barat.

    Di Pekojan ini pulalah lahir ulama-ulama yang mumpuni. Salah satu sebabnya adalah berdirinya Jamiat Kheir pada 1905. Lembaga ini berfungsi sebagai lembaga dakwah yang turut berperan menyebarluaskan agama Islam di Betawi. Pada abad ke-19 dan 20, Pekojan banyak menghasilkan ulama terkemuka.

    Alwi Shahab menyebut kawasan Pekojan di Jakarta Barat tidak pelak lagi merupakan pusat intelektual Islam. Di kawasan ini pula bermunculan mualim seperti Roji’un dan Kyai Syamun. Termasuk Guru Mansyur dari Kampung Lima yang pada masa revolusi fisik masjidnya ditembaki NICA karena memasang bendera Merah Putih. Guru Mansyur terkenal dengan seruannya kepada penduduk, ”Betawi, rempug.”

    Wartawan yang aktif menulis soal Betawi-Jakarta ini menyebut adapula Habib Usman bin Yahya yang lahir di Pekojan pada tahun 1882. Habib Usman merupakan penulis yang sangat produktif. Sebagian besar dari 47 kitab karangannya disimpan di Arsip Nasional. Dia kemudian pindah ke Jatipetamburan, Tanah Abang. Sebelum memiliki percetakan, karangan-karangannya dengan tulisan tangan ditempelkan di Masjid Jatipetamburan. Jemaah harus antre untuk membacanya.

    Selain itu ada juga Guru Mughni di Kuningan dan Guru Mansyur Jembatan Lima. Genealogi Intelektual Ulama Betawi (2011, 38-9) mencatat Guru Marzuki di Cipinang Muara mendirikan sebuah pesantren salafi yang menjadi salah satu tonggak munculnya kaum santri di Betawi. Ada pula Habib Ali al-Habsyi yang mendirikan Madrasah Unwanul Falah Kwitang pada 1911. Belakangan di kalangan kaum perempuan muncul nama Tuti Alawiyah dan Suryani Thahir yang murid-muridnya terpencar mengisi majelis kaum ibu di seluruh Jakarta. Tuti Alawiyah adalah produk dari Asy-Syafiiah, yang didirikan oleh bapaknya Haji Abdullah Syafii. Sementara Suryani Thahir lahir dalam lingkungan Perguruan Islam Ath-Thahiriyah yang didirikan oleh Haji Tohir Rohili.

    Pertemuan yang berlangsung dalam rintik-rintik hujan itu menegaskan orang Betawi mesti meninggalkan “budaya otot” dan masuk kepada “budaya otak”. Para intelektual yang sudah disebutkan di atas adalah orang-orang yang bekerja dengan mementingkan otak ketimbang otot.



    Diskusi


    Muhamad Bakir dan Tradisi Tukang Cerita
    Di Pecenongan pada akhir abad ke-19 hiduplah keluarga Sapirin bin Usman Fadli. Keluarga ini memiliki sebuah perpustakaan yang disewakan kepada para pembacanya. JJ Rizal, sejarawan Betawi, mengatakan uang yang diberikan sebagai sewa disebut uang dawat, yakni sebagai pengganti pembeli tinta. Cerita-cerita yang digubah maupun disalin oleh keluarga Fadli disewakan untuk dibaca keras-keras di depan khalayak. Ongkos sewanya 10 sen sehari-semalam.

    Penulis-penulis dalam keluarga ini termasuk Muhamad Bakir dan Ahmad Beramka. Salah satu karya Sapirin bin Usman adalah Hikayat Nakhoda Asyik, sementara Muhamad Bakir menulis Hikayat Merpati Mas dan Merpati Perak. Kedua naskah ini, meski ditulis seperti kelaziman hikayat lama, tapi sudah menampakkan ciri-ciri modernitas, seperti adanya ilustrasi, penggunaan kata-kata yang baru, serta adanya unsur humor yang asing ditemukan dalam khazanah sastra lama.

    Henri Chamber Loir, peneliti asal Prancis, secara intens meneliti karya-karya keluarga ini. Ia terutama terpukau pada kelincahan bercerita keluarga Sapirin bin Usman. Dalam Hikayat Sri Rama, yang disadur Muhammad Bakir bin Syafian bin Usman bin Fadli, akan janggal bila pembaca mengaku pada versi Ramayana yang asli. Naskah yang selesai disalin pada 17 Desember 1896 ini agak berbeda karena di cerita ini Bakir menyisipkan kejadian aktual. Bahkan, dalam cerita wayang dan petualangan, dia memasukkan nama-nama tempat di Jawa, seperti Batavia, Gunung Gede, Muara Ancol, Muara Baru, Pasar Baru, dan Bekasi.

    Tujuannya, “memberikan aspek realis, modern, dan profan kepada cerita fiksi, kuno, dan sedikit banyak sakral,” tulis Henri Chambert-Loir dalam pengantar Katalog Naskah Pecenongan Koleksi Perpustakaan Nasional: Sastra Betawi Akhir Abad-19.

    Historia menyebut Bakir merupakan seorang penyalin dan penggubah naskah Melayu. Dia menghasilkan 32 jilid naskah dengan total lebih dari 6.000 halaman yang ditulis dalam kurun waktu 14 tahun. Selain itu, dia pemilik tempat penyewaan naskah (taman bacaan) yang pada abad ke-19 menjamur di wilayah Batavia. Lokasi penyewaan naskah Bakir beralamat di Kampung Pecenongan Langgar Tinggi, Gang Terunci. Gang itu kini berubah nama jadi Jalan Pintu Air V di kawasan Pecenongan. Berbeda dengan tradisi penulisan cerita di Jawa, Bakir dan keluarganya mendirikan taman bacaan atas inisiatif sendiri. Karena itu pada akhir naskahnya biasanya tertera imbauan agar tidak lupa membayar uang sewa, seperti yang tertera dalam Hikayat Begerma Cendra.

    Tak ada jejak rumah lama dan keluarga Bakir yang tersisa. “Satu-satunya Langgar Tinggi yang masih dikenal di Jakarta dewasa ini berlokasi di kawasan Pekojan di tepi kali Angke,” tulis Dumarçay & Chambert-Loir dalam “Le Langgar Tinggi de Pekojan, Jakarta”, dimuat jurnal Archipel Vol. 30.

    Karya-karya Bakir amat khas. Salah satunya, menurut Chambert-Loir, adalah penggunaan lelucon sederhana terkadang kasar atau jorok serta efek kontras dari anakronisme (kerancuan waktu). Dalam Lakon Jaka Surkara, Bakir menyinggung letusan Gunung Krakatau, pengemis Betawi, Lapangan Gambir, Kampung Cibubur, dan Dursasana (salah satu tokoh pewayangan) yang mengharumkan tubuhnya dengan minyak cologne.

    Sempalan humor yang digurat Bakir dibubuhkan di tengah cerita atau sisipan cerita. Pembubuhan ini dilakukan agar pembaca dan penikmat merasa dekat dengan cerita. Bakir yang hidup di masa transisi mengadaptasi karya sastra Melayu lama lalu menyampaikan kembali dengan gaya yang sesuai pada saat itu.

    “Tujuan Bakir menggunakan perbandingan cerita dengan situasi yang berubah pada masanya adalah agar masyarakat tetap mau menyewa naskahnya. Dengan demikian, ia dapat mempertahankan usaha penyewaan naskahnya yang menjadi sumber penghidupannya” ujar Dewaki Kramadibrata, dosen Program Studi Indonesia di Universitas Indonesia, kepada Historia.

    Peran Sastrawan Betawi Era Modern
    Jejak-jejak tradisi intelektual terlihat dari kiprah anak Betawi di bidang politik dan sastra. Sastrawan yang mula-mula menulis kembali identitas Betawi dalam sastra Indonesia adalah Aman Datuk Majoindo dengan Si Doel Anak Betawi. Menarik bahwa Majoindo yang bukan orang Betawi menjadi orang pertama yang mengangkat lokalitas dalam karya sastra.

    Setelah itu ada Balfas, seorang Betawi keturunan Arab. Zen Hae dalam kesempatan yang sama menuturkan Balfas sebenarnya bukan hanya penulis cerpen atau novel, tetapi juga seorang kritikus sastra. Beberapa kali, secara bergantian dengan Jassin, Balfas menulis ulasan sastra di majalah Kisah. Balfas sempat bermukim di Malaysia sebagai pekerja Voice of Malaysia dan Voice of Australia seraya mengajar di Universitas Sydney.

    Dalam lapangan yang sama kita juga menemukan SM Ardan dan Firman Muntaco. Ardan menulis karya sastra (cerpen, puisi) dan esia tentang film, salah seorang yang penting di balik Sinematek Indonesia. Karya SM Ardan yang paling berhasil dan itu lantaran berpijak pada kelokalan adalah Terang Bulan Terang di Kali. Jika Ardan tampak berorientasi sebagaimana Balfas, maka Firman Muntaco justru berkutat pada identitas kebetawian dalam sastra. Muntaco menulis sebagian besar sketsa/cerpennya dalam bahasa Betawi.

    Firman Muntaco utamanya terkenal berkat sketsanya di harian Berita Minggu. Melalui “Gambang Jakarte” ia mengangkat potret masyarakat kampung secara jenaka. Namun tidak hanya lucu karena muatan humornya, ia secara cerdas memampangkan cara hidup, pola pikir, hingga kritik terkait kehidupan sosial masyarakat Betawi-Jakarta.

    Zen Hae mengatakan dengan caranya masing-masing Balfas, Ardan, dan Muntaco ikut memengaruhi pertumbuhan sastra Indonesia sepanjang dasawarsa 1950-an. Peran mereka yang cukup penting dalam konteks ini adalah menghidupkan identitas bahasa dan budaya Betawi dalam sastra Indonesia modern. Mereka bisa dengan mudah bergerak bolak-balik antara tradisi dan modernitas, antara kampung dan kota, antara lokal dan global. Sikap luwes seperti ini hanya bisa didapat jika kita juga bisa bersikap rileks sekaligus kritis terhadap warisan budaya kita.

    Tak begitu lampau dari sekarang tentu saja ada Mahbub Djunaidi. Wartawan kelahiran Tanah Abang ini adalah intelektual pintar dan lucu. Pada kolomnya “Asal-Usul” di Kompas sejak 1986-1995, ia mampu menyatakan buah pikirannya dengan kalimat yang unik sekaligus aneh. Salah satu karya masterpiece Mahbub adalah novel Dari Hari ke Hari yang memenangi penghargaan sayembara DKJ tahun 1976 dan diterbitkan oleh Pustaka Jaya. Novel ini mampu memberikan gambaran yang wajar dari kacamata seorang tanggung dalam menjalani revolusi.

    Zen Hae menyatakan dari sejumlah nama yang disebut di atas, ia menyimpulkan bahwa tradisi intelektual hanya bisa tumbuh jika pendidikan berkembang dengan baik. Artinya, anak Betawi bisa menikmati pendidikan yang cukup, bahkan hingga ke perguruan tinggi. Namun, itu juga mesti ditunjang oleh semacam lingkungan keilmuan, munculnya kelompok diskusi, perkauman kaum intelektual dan jurnal/media tempat menyiarkan hasil olah gagasan. Tanpa itu, tradisi intelektual tidak akan berjalan dengan baik.

    Moehammad Husni Thamrin dan Sumbangsihnya
    JJ Rizal menyatakan situasi yang sama sebenarnya ikut mempengaruhi MH Thamrin. Thamrin lahir di periode tukang cerita. MH Thamrin yang lahir dari kakek berkebangsaan Inggris, Tuan Ort, yang menikah dengan neneknya Thamrin seorang perempuan pribumi, Noeraini. Di masa dewasanya, Thamrin yang merupakan lulusan Willem Koning Drei (KW III). Thamrin menjadi seorang anggota Dewan Kota (Gementeraad) dan Dewan Rakyat (Volksraad) di masa sebelum Perang Dunia Kedua.

    Dalam kesempatan yang sama, JJ Rizal menyebut Thamrin memilih bergerak, meninggalkan jaminan kenyamanannya sebagai orang superkaya Batavia dan keturunan Eropa. Thamrin memilih dan menjadi Betawi dan memperjuangkan kaum Betawi dengan kampungnya yang dirusak.

    “Kita inget Thamrin, inget pembelaannya yang serius terhadap kaum Betawi, malah belom ada yang nandingin keseriusannya dari soal tanah orang Betawi yang diserobot, nasib kampung yang dihinakan, sampai urusan minyak tanah,” kata JJ Rizal.

    Thamrin yang menggebu-gebu dengan pembelaannya merupakan salah satu singa podium yang dihomati. Jejaknya tidak hanya provinsialisme, tetapi nasionalisme. Di kemudian hari nama Thamrin diabadikan menjadi nama proyek perbaikan jalan dan kampung yang diusung oleh Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta (1966-1977).

    Seperti semangat Thamrin yang menyerukan orang Betawi untuk bangkit dari situasi kematian obor, maka Indonesia mesti menjadi kerja dan cita-cita, sementara Betawi menjadi landasannya. Tanpa itu, maka anak Betawi hanya akan masuk ke dalam perangkap politik identitas yang kian menyempit, sebagaimana terjadi belakangan ini.

    Pertemuan yang berlangsung dalam rintik-rintik hujan itu menegaskan orang Betawi mesti meninggalkan “budaya otot” dan masuk kepada “budaya otak”. Para intelektual yang sudah disebutkan di atas adalah orang-orang yang bekerja dengan mementingkan otak ketimbang otot. Mereka menegakkan citra orang Betawi intelek, bukan Betawi berangasan atau tukang berkelahi. Mereka tidak menjalankan adagium “Elu jual, gua beli”. Dengan demikian kesimpulannya, hanya dengan menegakkan budaya otak sajalah orang Betawi mampu mencapai martabat yang terhormat dan bertepuk dada. Dengan demikian, tentu tidak ada lagi yang mencerca dan mengatakan, “Orang Betawi tersingkir karena memilih hidup enggak pake otak”.

    Related Post

    $(document).ready(function() {$('img#closed').click(function(){$('#bl_banner').hide(90);});});
    close
    Banner iklan disini