News Sticker
  •   PASTIKAN DIRI ANDA TERDAFTAR DALAM MENSUKSESKAN PEMILIHAN DAERAH GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR DKI JAKARTA (15 FEBRUARI 2017)  PERGUB NOMOR 11 TAHUN 2017 TENTANG IKON BUDAYA BETAWI RESMI DITANDATANGANI OLEH (PLT) GUBERNUR DKI JAKARTA (1/2/2017)   PERATURAN GUBERNUR(PERGUB) IKON BUDAYA BETAWI ANTARA LAIN ONDEL-ONDEL, KEMBANG KELAPA, ORNAMEN GIGI BALANG, BAJU SADARIAH KEBAYA KERANCANG, BATIK BETAWI, KERAK TELOR DAN BIR PLETOK 

  • Mengenang Rapat Raksasa di Ikada, 71 Tahun yang Lalu

    red Januari 2017 Budaya

    Rapat IKADA

    Rapat raksasa di Lapangan Ikada (Ikatan Atletik Djakarta) pada 19 September 1945, sebulan setelah proklamasi dikumandangkan, adalah sebuah palu godam yang mengguncangkan. Peristiwa itu juga berdampak besar lantaran menjadi bukti dan perwujudan nyata negara dan pemerintah Republik Indonesia di bawah dwitunggal Sukarno-Hatta mendapat dukungan dan kepercayaan penuh dari rakyat Indonesia.

    Segala hal tentang Ikada pun dikupas tuntas dalam diskusi Betawi Kita ke-11 bertajuk “Orang Betawi dan Peristiwa Ikada”. Hadir sebagai pembicara Rachmad Sadeli (Founder Majalah Betawi) dan JJ Rizal (CEO Komunitas Bambu)– menggantikan Roni Adi Tenabang (Ketua Sikumbang Tanabang) yang berhalangan hadir lantaran sakit. Diskusi dilaksanakan Minggu sore, 18 September 2016 pukul 16.00-18.00 di Pustaka Betawi, Jalan Al Hikmah, Cilandak, Jakarta Selatan.

    Rachmad Sadeli menjadi pembicara dan Fadjriah Nurdiarsih sebagai moderator. Rachmad Sadeli menjadi pembicara dan Fadjriah Nurdiarsih sebagai moderator. Ikada menjadi peristiwa monumental sebab proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia berlangsung dalam senyap. Sebelumnya, peristiwa proklamasi hendak dilangsungkan di Lapangan Ikada. Namun, demi menjaga terjadinya kerusuhan, pembacaan proklamasi digeser ke rumah Sukarno di Jalan Pegangsaan No 56.

    Namun demikian, seperti dikatakan JJ Rizal, kalangan pemuda menganggap peristiwa proklamasi berjalan terlalu adem. Mereka, utamanya golongan Sjahrir dan Tan Malaka yang ikut terlibat dalam Peristiwa Rengasdengklok, merasa tidak puas dan kecewa karena Jepang masih berkuasa.

    Maka digagaslah rapat raksasa di Ikada. Salah satu tujuannya adalah mendapatkan kepastian dari pemerintah Republik Indonesia, mengenai apakah benar saat itu Indonesia sudah merdeka. Di pinggiran Jakarta, saat itu kabar ini masih desas-desus. Maklum saja sebab Tentara Jepang menutup rapat-rapat berita ini dan melarang peristiwa proklamasi disebarluaskan melalui media apa pun juga.

    Moeffreni Moemin dalam kesaksiannya menyatakan para pemuda yang sudah bermufakat kemudian menyebarluaskan rencana adanya rapat raksasa. Berbagai cara ditempuh untuk mengirimkan undangan atau ajakan menghadiri rapat, seperti melalui telepon, menggunakan sepeda motor, atau sepeda. Bahkan, truk-truk yang akan ke Bekasi juga menjadi alat yang efektif untuk menyampaikan berita undangan tersebut.

    Berapa massa yang hadir dalam rapat raksasa tersebut? Rahmad Sadeli dalam paparannya menyatakan kira-kira ada 250.000-300.000 orang hadir di Lapangan Ikada. Sebagai gambaran, total penduduk Jakarta saja pada saat itu mencapai 500.000 orang.

    Yang datang ke Lapangan Ikada terdiri atas beberapa kalangan. Sejak pukul 09.30, mereka berbondong-bondong datang ke Lapangan Ikada, yakni:

    Menurut laporan wartawan Anwar dari kantor berita Domei, “jika serdadu-serdadu Jepang ini salah tindak, sedikit saja akan meledak suatu kejadian yang tidak diduga-duga dan yang menggemparkan, sebab kalau diperhatikan rakyat tidak akan mau mundur lagi.”


    BKR Jakarta, Grup mahasiswa Prapatan 10, Pemuda Menteng 31 seperti Chairul Saleh, Adam Malik, Sukarni, Johar Nur, dsb, Barisan Pelopor dipimpin Muwardi, Barisan Banteng dipimpin Sudiro, Barisan Hisbulla dan Gerakan Pemuda Islam Indonesia, dipimpin Harsono Tjokroaminoto, Laskar Jakarta di bawah pimpinan Iman Syafii dan Daan Anwar, Laskar Klender di bawah Haji Darip, Pemuda-pemuda Kesatuan Sulawesi (KRIS) di bawah Rapor Pemuda Maluku (PIR) pimpinan Willem Latumenten. Bagaimana suasana IKADA saat itu? Harian Merdeka pada 19 September 1977 menuliskan, rakyat sudah dapat berbondong-bondong untuk menghadiri rapat raksasa dari segala penjuru. Pemberitahuan terutama disebarluaskan ke kampung-kampung melalui para kucho (lurah) dan kumicho (ketua RT) dalam bentuk yang tidak dibesar-besarkan untuk menghindari timbulnya hambatan-hambatan dari pihak Jepang.

    Menurut laporan wartawan Anwar dari kantor berita Domei, “jika serdadu-serdadu Jepang ini salah tindak, sedikit saja akan meledak suatu kejadian yang tidak diduga-duga dan yang menggemparkan, sebab kalau diperhatikan rakyat tidak akan mau mundur lagi.”

    Ya, rakyat memang sudah siap perang. Beberapa kesaksian dari saudara Rachmad Sadeli menyebutkan bahwa saat IKADA berlangsung, malamnya mereka sudah mengasah golok untuk dipergunakan keesokan harinya.

    Sekian lama menunggu, Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno belum juga datang. Rupanya ia sedang sidang kabinet. Meski banyak desakan agar tidak hadir, Bung Karno memutuskan hadir juga ke rapat raksasa itu. Kepada anggota rapat ia mengatakan, “Saudara-saudara menteri dengarkan keputusan saya. Saya akan pergi ke Lapangan IKADA untuk menentramkan rakyat yang sudah berjam-jam menunggu. Saya tidak akan memaksa saudara-saudara untuk ikut saya. Siapa yang mau tinggal di rumah boleh, terserah kepada saudara masing-masing.”

    Adapun pihak Jepang sendiri tidak menyangka akan datang massa yang begitu besar. Tank yang telah disebar di seluruh penjuru untuk menahan agar rakyat tidak masuk ternyata tak mampu menghadapi tekanan massa yang terus mendesak. Maka tentara Jepang hanya bisa menahan dan berjaga dengan bayonet terhunus.

    Pukul 15.30, akhirnya Bung Karno tiba di Lapangan IKADA dengan ditemani Bung Hatta dan dikawal Moeffreni Moe’min sebagai komandan BKR. Rachmad Sadeli menuturkan Bung Karno datang dengan mobil buatan Jepang. Ada tiga mobil dan Bung Karno ada di mobil kedua. Mobil pertama berisi rombongan pengawal dan mobil ketiga berisi anggota kabinet.

    Apa yang diucapkan Bung Karno setelah lama ditunggu-tunggu seperti itu. Ternyata ia hanya berpidato singkat, tidak sampai 5 menit.

    “Kita sudah memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Proklamasi ini tetap kami pertahankan, sepatah pun tidak kami cabut. Tetapi dalam pada itu, kami sudah menyusun suatu rancangan. Tentang, tenteram, tetapi tetap siap sedia menerima perintah yang kami berikan. Kalau saudara-saudara percaya kepada Pemerintah Republik Indonesia yang akan mempertahankan proklamasi kemerdekaan itu, walaupun dada kami akan robek karenanya, maka berikanlah kepercayaan kepada kami dengan tunduk kepada perintah-perintah kami dengan disiplin. Sanggupkah saudara-saudara? (Dijawab serentak oleh rakyat, sanggup!). Perintah kami hari ini, marilah sekarang pulang semua dengan tenang dan tenteram, ikutilah perintah Presidenmu sendiri tetapi tetap sedia sewaktu-waktu. Saya tutup dengan salam nasional… Merdeka!”

    Mendengar pidato Bung Karno, maka rakyat pun pulang kembali. Pertumpahan darah yang ditakutkan tidak terjadi.

    Memang ada alasan sendiri kenapa Bung Karno tidak berpidato membakar semangat seperti biasanya. Seperti diucapkan Rachmad Sadeli, Bung Besar itu khawatir jika semangat pemuda dibakar, maka akan terjadi clash. Kalau itu terjadi, tentu korban paling besar akan jatuh di kalangan rakyat Indonesia sendiri.

    Diskusi Betawi Kita ke-11 di Markas Pustaka Betawi, Cilandak. Diskusi Betawi Kita ke-11 di Markas Pustaka Betawi, Cilandak. Karena itu, JJ Rizal menambahkan, “Udah paling bener itu disuruh pulang.” Sebab Jepang sudah kalah perang dan tugasnya hanya menjaga stabilitas. Jika di IKADA terjadi revolusi, maka orang-orang di IKADA akan dibantai.

    Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa rapat raksasa IKADA memberi manfaat sebagai ledakan besar bahwa Indonesia ada dan sudah merdeka kepada dunia internasional.

    Related Post

    $(document).ready(function() {$('img#closed').click(function(){$('#bl_banner').hide(90);});});
    close
    Banner iklan disini $(document).ready(function() {$('img#closed').click(function(){$('#bl_banner').hide(90);});});
    close
    Banner iklan disini