News Sticker
  •   PASTIKAN DIRI ANDA TERDAFTAR DALAM MENSUKSESKAN PEMILIHAN DAERAH GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR DKI JAKARTA (15 FEBRUARI 2017)  PERGUB NOMOR 11 TAHUN 2017 TENTANG IKON BUDAYA BETAWI RESMI DITANDATANGANI OLEH (PLT) GUBERNUR DKI JAKARTA (1/2/2017)   PERATURAN GUBERNUR(PERGUB) IKON BUDAYA BETAWI ANTARA LAIN ONDEL-ONDEL, KEMBANG KELAPA, ORNAMEN GIGI BALANG, BAJU SADARIAH KEBAYA KERANCANG, BATIK BETAWI, KERAK TELOR DAN BIR PLETOK 

  • Orang Betawi dan Konstruksi Media

    Deni Januari 2017 Jakarta & Betawi

    Jakarta merupakan ibu kota negara Republik Indonesia yang menjadi pusat kekuasaan sejak berabad-abad lalu. Jika dalam setiap wilayah di berbagai penjuru dunia memiliki identitas, maka apa identitas dari kota Jakarta. J.J Rizal, seorang sejarawan Betawi, menjelaskan pertanyaan tersebut pernah dilontarkan oleh Gubernur Jakarta Ali Sadikin yang menjabat pada 1967-1977.

    Pertanyaan yang tersebar hampir di seluruh kampus-kampus di Jakarta menjadi perdebatan hangat. Banyak yang memberi jawaban atas pertanyaan itu. Di antara jawaban tersebut menyatakan bahwa identitas Jakarta adalah etnis Jawa atau Sunda yang banyak mendiami wilayah Kota Jakarta serta dua kutub kebudayaan itu memiliki peradaban yang tua. Namun, Ali Sadikin menolak semua jawaban itu, hingga didapatlah jawaban bahwa identitas Jakarta adalah Betawi, karena mereka adalah tuan rumah di Jakarta.

    Pada tahun 70-an munculah beragam hal dalam kehidupan sosial di Jakarta dan sekitarnya dengan istilah kebetawian yang dikatakan oleh Shahab (2004) sebagai “titik balik kelahiran kembali Betawi”.

    Orang Betawi selalu berhadapan dengan meledaknya arus urbanisasi yang terjadi di Jakarta sejak zaman kolonial hingga saat ini. Dengan itu, secara eksplisit telah jelas terlihat bahwa masyarakat Betawi serta nilai-nilai adi luhungnya telah bias oleh gemerlap hidup bergaya perkotaan yang borjuis dan individual. Stigma negatif juga sering dikonstruksi oleh media film atau sinema elektronis (sinetron) yang menampilkan kedangkalan dalam memahami kebudayaan Betawi yang di hadirkan melalui dialog dan alur cerita.

    Pemunculan dialog yang hanya sekadar nyablak atau pemunculan karakter yang sekadar hidup tanpa adanya nilai-nilai representatif masyarakat Betawi memunculkan sebuah stigma bahwa budaya Betawi adalah budaya rendah (Nurbaya, 2006).

    Aktualisasi orang Betawi sebagai etnis yang berada di pusaran arus modernisasi Kota Jakarta dengan beragam citranya sebagai kaum yang terpinggirkan telah diangkat melalui media film pada 1973 dengan judul Si Doel Anak Betawi. Film tersebut diadaptasi dari novel karya Aman Datuk Madjoindo dengan judul yang sama, yang bercerita tentang kehidupan sehari-hari anak Betawi.

    J.J Rizal menjelaskan, cerita Si Doel tersebut diilhami oleh pengalaman pribadi Aman Datuk Madjoindo ketika berada di Jakarta. Aman Datuk terkejut ketika kali pertama dia datang ke Jakarta. Aman Datuk yang seorang asli Minang banyak mendengar cerita urban tentang orang Betawi sebagai penduduk asli Jakarta yang dikenal malas dan suka berfoya-foya. Namun, kenyataan yang dia lihat jauh berbeda ketika dia telah datang ke Jakarta. Dia melihat seorang anak kecil yang merupakan tetangganya bernama Kasdullah yang begitu rajin, penuh semangat dalam menuntut ilmu, serta berbakti kepada orang tua, yang menurut Aman Datuk Madjoindo,sosok ini merupakan representasi murni dari masyarakat Betawi (Loven, 2008:18).

    Novel yang ditulis oleh Aman Dt.Madjoindo pada 1936 itu merupakan sebuah wacana tentang bagaimana kehidupan orang Betawi. Ekranisasi yang dilakukan oleh Sjuman Djaya terhadap novel Aman Dt.Madjoindo merupakan tafsir terhadap konteks sosial orang Betawi pada tahun 1970-an. Sjuman Djaya melalui narasi visual dalam film memberikan gambaran yang inklusif tentang bagaimana sebetulnya anak Betawi melalui karakter Doel. Hal tersebut dapat dianalisis melalui beberapa unsur teknis, di antaranya:

    A.Mise en Scene
    a. Dominasi penggunaan latar eksterior dengan waktu siang hari menunjukan area kontestasi identitas berupa aktualisasi atas kehadiran anak Betawi di ruang-ruang publik.

    b. Properti yang digunakan cenderung kepada peralatan yang sangat sederhana yang merepresentasikan kehidmatan hidup orang Betawi. c. Kostum yang diguanakan Doel begitu identik. Doel selalu mengenakan peci hitam, sarung yang melilit di leher atau dadanya. Baju pangsi dan celana pendek selalu dikenakan Doel dalam setiap kondisi. Hal ini tentunya merupakan bentuk aktualisasi Doel sebagai anak Betawi yang bangga atas identitas yang melakat kepadanya.

    d. Penggunaan tata rias yang natural menguatkan aktualisasi ini yang membawa pesan identitas kebetawian yang sederhana dan identik.

    e. Ekspresi gerak yang dihadirkan oleh Doel yang aktif, menyiratkan sifat jagoan yang menjadi aktualiasasi kebetawian. Sifat optimistik dan penuh spirit adalah karakter Doel yang terlihat melalui ekspresi gerak. Sebagai orang Betawi Doel selalu menekankan pentingnya memilki sifat pemberani untuk membantu mereka yang membutuhkan. Doel menunjukan sifat superioritasnya dengan menunjuk tangan kearah atas atau kepada lawanya sebagai simbol penantangan terhadap siapapun yang menggangunya.

    B.Cinematograhy
    a. Sudut pandang kamera yang cenderung menggunakan teknik low angle kepada karakter Doel memberikan penekanan terhadap karakter Doel yang jagoan sebagai anak Betawi dalam segala hal. Doel selalu ditempatkan pada posisi kamera low angle, terutama pada pertarungan dengan lawannya. Sehingga dapat diberikan kesimpulan bahwa Doel meruapakan karakter yang paling superior dibanding rivalnya, Sapei, yang memiliki kelebihan dari segi fisik dan kehidupan ekonomi sosial.

    C.Sound
    a. Musik ilustrasi dengan dominasi intonasi tinggi memberikan penekanan terhadap kondisi keceriaan dan kepedihan yang dialami Doel. Hal ini bermakna pada sikap semangat dan aktif yang dimainkan oleh Doel. Musik ilustrasi yang hadir dalam beberapa kondisi lebih menggugah apresiator untuk merasakan apa yang dirasakan oleh Doel. Sifat optimisme dan spirit yang tinggi selalu ditunjang dengan kecenderungan musik ilustrasi ini.

    b. Dialog pada Doel didominasi dengan bahasa Indonesia dialek Jakarta. Kecenderungan dialog dalam film lebih kepada fungsi narasi. Melalui dialog dapat diketahui bahwa telah terjadi pergeseran perspektif dari masyarakat Betawi yang dahulu selalu dilekatkan pada label ‘jagoan otot’ saat ini orang Betawi juga harus ‘jago pikir’ dengan masuk ke dalam institusi sekolah formal.

    Menurut J.J Rizal, Sjuman Djaya memahami esensi kebetawian secara kultural, sehingga film Si Doel menjadi tayangan yang berhasil mengangkat isu kebudayaan Betawi. Alur naratif dan penggayaan dalam film di tahun 1973 ini membawa sebuah wacana besar tentang aktualisasi identitas masyarakat Betawi.

    Related Post

    $(document).ready(function() {$('img#closed').click(function(){$('#bl_banner').hide(90);});});
    close
    Banner iklan disini