News Sticker
  •   PASTIKAN DIRI ANDA TERDAFTAR DALAM MENSUKSESKAN PEMILIHAN DAERAH GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR DKI JAKARTA (15 FEBRUARI 2017)  PERGUB NOMOR 11 TAHUN 2017 TENTANG IKON BUDAYA BETAWI RESMI DITANDATANGANI OLEH (PLT) GUBERNUR DKI JAKARTA (1/2/2017)   PERATURAN GUBERNUR(PERGUB) IKON BUDAYA BETAWI ANTARA LAIN ONDEL-ONDEL, KEMBANG KELAPA, ORNAMEN GIGI BALANG, BAJU SADARIAH KEBAYA KERANCANG, BATIK BETAWI, KERAK TELOR DAN BIR PLETOK 

  • Ke Mana Suara Orang Betawi di Pilkada DKI Jakarta?

    Fadjriah Nurdiarsih Januari 2017 Politik

    Bagaimana kita mau kenal sama gubernur? Lah, gubernur aja diundang Lebaran kagak dateng (Eddie Nalapraya—Ketua Majelis Tinggi Masyarakat Betawi dalam Indonesia Lawyers Club 27 September 2016).

    Siapakah gubernur pilihan rakyat Jakarta wabilkhusus orang Betawi? Pertanyaan itu sudah berhari-hari menggayuti pikiran saya sejak ketiga pasang kandidat mendaftar ke KPUD DKI Jakarta. Banyak ramai orang berbicara dan urun pendapat tentang kandidat si A dan si B. Tapi bagi saya yang jelas, Gubernur DKI Jakarta harus menghargai orang Betawi.

    Sebagai orang Betawi yang lahir dan besar di Kebagusan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, saya menyadari betul nasib kaum penghuni asli Ibu Kota ini makin terpinggirkan. Eddie Nalapraya, sesepuh orang Betawi dalam acara ILC 27 September 2016, tegas-tegas mengatakan bahwa menurut Presiden Sukarno, orang Betawi adalah inti dari penghuni Jakarta. Namun, ujar pensiunan tentara ini, sekarang saja banyak orang Betawi yang tak punya rumah di Jakarta.

    Ambil contoh, doktor Tuti Tarwiyah yang disertasinya soal permainan anak-anak Betawi dengan nyanyian, kini bertempat tinggal di Bekasi. Haji Yoyok Muchtar, orang Betawi kelahiran Jatinegara yang rutin ngisi acara di TVRI soal Betawi, juga minggir ke Bekasi. Adapula JJ Rizal, sejarawan lulusan UI, yang markasnya di Depok. Nah, Kojek rapper Betawi yang sering cuap-cuap soal si Pitung malahan bikin rumah di Cileungsi. Kenapa begitu? Alasannya sederhana, mereka tergusur! Ini belum dihitung banyaknya orang Betawi yang terpaksa ngontrak lantaran enggak punya rumah lagi.

    Degh, ya ini memang urusan yang bikin miris betul. Ditambah hari ini saja (28 September 2016) di layar televisi kita disuguhkan penggusuran di Bukit Duri terhadap warga yang dulunya dijanjikan akan dibangunkan kampung deret. Kemarin sebelumnya, Kampung Luar Batang sudah hilang. Padahal, Luar Batang merupakan kampung yang sangat bersejarah dalam perkembangan Kota Jakarta. Luar Batang adalah permukiman tertua di Jakarta yang sudah ada sejak 1630-an dan dikenal sebagai bagian dari Kota Tua Batavia.

    Sebelumnya lagi, santer terdengar bahwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, sang gubernur petahana, sudah memberi peringatan kepada Badan Musyawarah Masyarakat Betawi (Bamus Betawi). Bamus dituduh sudah berpolitik dan karenanya Gubernur mengancam akan mencabut dana hibah untuk Bamus. Ini tentu ancaman yang bikin ketar-ketir lantaran Gubernur DKI Jakarta adalah Pembina Bamus. Namun kalau sudah dicabut dana hibah, apa enggak kalang kabut organisasi yang menaungi masyarakat Betawi itu?

    Karena itulah, obrolan soal gubernur yang mau dan bisa ngangkat kembali orang Betawi ke harkat serta derajatnya yang mulia sebagaimana dilakukan Ali Sadikin ramai bergulir di sekitar saya. Di grup Whattsapp yang saya ikuti pun percakapan soal ini tak kalah seru.

    saya menyadari betul nasib kaum penghuni asli Ibu Kota ini makin terpinggirkan. Eddie Nalapraya, sesepuh orang Betawi dalam acara ILC 27 September 2016, tegas-tegas mengatakan bahwa menurut Presiden Sukarno, orang Betawi adalah inti dari penghuni Jakarta. Namun, ujar pensiunan tentara ini, sekarang saja banyak orang Betawi yang tak punya rumah di Jakarta.


    Teman yang satu bilang, tentu saja tak saya cantumkan namanya agar dia tak misuh-misuh, “Maaf bagi saya Pok Silvy bukan jembatan bagi perbaikan nasib orang dan kebudayaan Betawi. Sebab dia lama di birokrasi pemerintah Jakarta menjadi elite, tapi apa yang dilakukan buat orang Betawi….”

    Sementara kawan yang satu jelas-jelas bilang mau pilih Anies Baswedan-Sandiaga Uno yang gantengnya bisa bikin ibu-ibu pengajian kelepek-kelepek. Tapi tentu disertai catatan, “semoga suatu saat ada yang bener cinta Betawi, sampe sekarang Betawi belom ketemu cinta sejatinya soal pemimpin.” Ketahuan nih yang ngomong begini pasti lagi nyari cinta sejatinya yang tak kunjung datang.

    Nah, seorang senior Betawi lebih galak lagi bilang, “Enggak pake alesan, kalau merasa Betawi, ya kudu yang ada Betawinya. Gitu aja. Tempo hari gue tonjok orang yang bikin meme Pok Nori yang menurut gue merendahkan Betawi.” Terang banget kan, yang ngomong kayak begini jagoan, punya ilmu maen pukulan, makanya saya musti hati-hati.

    Gimana yang punya penerawangan alias ilmu supranatural? Kawan saya yang model begini bilang, “Kalau penolakan si Ahok, jangankan manusia, alam aja udah kasih tanda. Banjir Jakarta di luar musim hujan, tewasnya tukang plafon di ruangan pribadi doi, gempa Garut selepas deklarasi Mega kepada si Ahok, rubuhnya JPO di Pasar Minggu pasca-uji kesehatan. Dan ini gejala-gejala serta tanda alam untuk umat yang berpikir.” Bukan main omongannya udah kayak ustaz keluaran pesantren Timur Tengah. Mantap.

    Namun demikian, jelas sekali sejak dulu Jakarta sudah punya magnet yang kuat bagi para pendatang. Tirto. Id mencatat, bahkan untuk urusan pemimpin Jakarta pun jadi rebutan para pendatang. Dalam sejarah Jakarta, konon hanya dua gubernur saja yang kelahiran Jakarta, yakni Soerjadi Soedirdja dan Fauzi Bowo. Selebihnya adalah pendatang.

    Maka itu, urusan memilih Gubernur Jakarta bagi orang Betawi pada saat ini bukanlah hal yang remeh. Barangkali ini lebih penting dibanding memastikan kita buang hajat setiap pagi di toilet.

    Apa syarat mengambil hati orang Betawi? Jelas, gubernur harus menyatu dan santun kepada masyarakat Betawi. Inget enggak, setiap gubernur di Jakarta selalu dijuluki “abang” saking deketnya sama masyarakat Betawi. Eddie Nalapraya bilang, “Jadikanlah Jakarta antara pribumi dan pendatang jangan ada jarak. Dulu saya ke warung Cina aja enggak ribut, kok.”

    Sementara Ridwan Saidi, budayawan Betawi asal Sawah Besar, dalam acara yang sama menegaskan, ia belum mendengar pengetahuan para kandidat soal Jakarta. Sebab, kata dia, “tidak bisa kita membangun kota ini lepas dari sejarah.”

    Tentu seturut pameo yang berlaku di Betawi, “elu jual gue beli”, orang Betawi ingin dihormati di tanah leluhurnya. “Jangan ganggu budaya gue,” begitulah kira-kira. Gubernur Jakarta ama orang Betawi fardhuain hukumnya akur. Jangan lagi ada kejadian menolak kedatangan pemimpin Jakarta di acara orang Betawi di Condet, salah satu situs peradaban Betawi tertua di Jakarta, seperti beberapa waktu yang lalu.

    Kalau enggak gimana? Ya, kata Kojek penyanyi rap Betawi kelahiran Sunter, pilih aja Gubernur Luar Angkasa. Sambil nyanyi Kojek menaruh harapan, “Andai gue jadi gubernur, macet banjir bakalan kabur. Andai gue jadi gubernur, enggak ada lagi yang kena gusur.”

    Sebagai penutup, saya kira menarik dicantolkan puisi karya Firman Muntaco, sastrawan Betawi yang tenar dengan cerita “Gambang Jakarta” di tahun 1960-an.

    Jakarta memang bukan Betawi

    Tapi Betawi pasti Jakarta

    Salahkah:

    Betawi berharap banyak atas Jakarta

    Agar budayanya tidak porak-poranda

    Agar jati dirinya tidak fatamorgana

    Agar eksistensinya tidak tergusur semena-mena

    Aspirasi ini wajar-wajar saja

    Bukankah tolerasi warganya

    Keteguhan aqidahnya

    Perjuangannya di kancah terdepan

    Berhadapan dengan kapitalis-kolonialis

    Telah diperlihatkannya


    Related Post

    $(document).ready(function() {$('img#closed').click(function(){$('#bl_banner').hide(90);});});
    close
    Banner iklan disini