News Sticker
  •   PASTIKAN DIRI ANDA TERDAFTAR DALAM MENSUKSESKAN PEMILIHAN DAERAH GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR DKI JAKARTA (15 FEBRUARI 2017)  PERGUB NOMOR 11 TAHUN 2017 TENTANG IKON BUDAYA BETAWI RESMI DITANDATANGANI OLEH (PLT) GUBERNUR DKI JAKARTA (1/2/2017)   PERATURAN GUBERNUR(PERGUB) IKON BUDAYA BETAWI ANTARA LAIN ONDEL-ONDEL, KEMBANG KELAPA, ORNAMEN GIGI BALANG, BAJU SADARIAH KEBAYA KERANCANG, BATIK BETAWI, KERAK TELOR DAN BIR PLETOK 

  • CONDET ZAMAN PRASEJARAH, ENTONG GENDUT SAMPAI CAGAR BUDAYA

    Rachmad Sadeli Januari 2017 Sejarah

    Dr. Hasan Djafar, ahli arkeologi (Tim Ahli Cagar Budaya Nasional)


    DISKUSI BETAWI KITA KE-12:Condet adalah magnet. Ya, ia punya daya tarik luar biasa untuk dicermati dari beragam sisi. Jika menyebut Condet, maka ingatan kita akan mengarah kuat pada Betawi.Dari sisi wilayah, kawasan Condet meliputi tiga kelurahan, Batuampar, Kampung Tengah dan Bale Kambang (Jakarta Timur).

    Kata Condet sendiri bila ditelisik lebih jauh berasal dari nama sungai Ci Ondet yang merupakan anak cabang kali Ciliwung. Nah, sedangkan Ondet atau ondeh adalah nama tumbuhan sejenis buni yang banyak tumbuh di pinggir sungai (Asal Usul Nama Tempat di Jakarta, Rachmat Ruchiat, Penerbit Masup Jakarta, 2011).

    Istilah ondeh (nama latinnya Antidesma Diandrum Sprg) ini, ada dalam buku karya GJ. Filet terbitan tahun 1888 halaman 128. Buku karya Filet ini berisi tentang kamus tananaman yang tumbuh di Hindia Belanda. Sebagai informasi buku ini menjadi rujukan untuk beragam tanaman yang ada di Indonesia.

    Menyadari betapa pentingnya Condet dan erat kaitannya dengan asal usul orang Betawi, maka Betawi Kita menggelar diskusi bertajuk Orang Betawi dan Condet. Gelaran yang berlangsung di Kafe Rumah Langit, Kampung Tengah Condet, Jakarta Timur ini menghadirkan Hendy (tokoh Condet) dan Dr. Hasan Djafar, ahli arkeologi (Tim Ahli Cagar Budaya Nasional) . Acara dengan moderator Roni Adi Tenabang selaku PIC Betawi Kita ini, juga meghadirkan JJ Rizal, sejarawan Indonesia.


    Diskusi

    Dalam pemaparannya Dr. Hasan Djafar, yang juga ahli Epigrafi (kajian tentang tulisan kuno pada prasasti dan sebagainya, Kamus Besar Bahasa Indnesia, Red.), mengatakan, daerah Jakarta dan sekitarnya sudah lama diketahui memiliki banyak situs arkeologi prasejarah. Kehidupan awal zaman prasejarah diawali dengan masa bercocok tanam berkisar antara 3000 SM – 1000 SM. Di Jakarta sendiri ditemukan 43 situs.

    Salah satu situs yang diteliti adalah Condet-Balekambang, Cililitan, Jakarta Timur. Situs ini merupakan tempat hunian yang ditempati masyarakat prasejarah. Nah, ini artinya zaman prasejarah sudah ada orang bertampat tinggal di Condet. Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta melakukan survei tahun 1976 dan 1997 di daerah ini. Pada survey tersebut hanya ditemukan gerabah. Fase berikutnya dilakukan penggalian lagi di lingkungan RT001/01 tahun 1979 dengan kedalaman 75 cm di atas permukaan tanah .

    Nah, pada penggalian ini ditemukan pecahan gerabah berhias dan tak berhias, pecahan beliung persegi, pecahan (fragmen) cetakan, serpihan batu, batu fosil, terakota dan sebuah alat besi berbentuk parang. Tahun 1980 kembali dilakukan penggalian lagi di RT 006/01 dan ditemukan sebuah mata panah yang mengindikasikan adanya kegiatan perburuan di tepi sungai Ciliwung.

    Selain bicara tentang penemuan arkeologi, jika bicara Condet maka kita tak bisa lepas dari kisah pemberontakan Entong Gendut. Ya, pada momen diskusi itu Hendy menceritakan tentang kiprah Entong Gendut di Condet. Buat lebih jelas tentang pemberontakan Entong Gendut yang terjadi tahun 1916, saya membuka buku Maen Pukulan Pencak Silat Khas Betawi karya G.J. Nawi. Di Condet, penerapan peraturan baru oleh penguasa Belanda, tahun 1912, memberi kewenangan penguasa untuk menyita atau membakar harta milik petani yang tak dapat membayar pajak. Perlawanan yang dilakukan oleh petani Condet dimobilisasi oleh para jago maen pukulan Condet dan sekitarnya. Di dalamnya ada nama Entong Gendut, Modin, Maliki dan Amat Awab serta H. Apin (Berdasarkan wawancara dengan Hasan Sabeni, di Condet Batuampar VII, 14 April 2010).

    Dalam pemaparannya Dr. Hasan Djafar, yang juga ahli Epigrafi (kajian tentang tulisan kuno pada prasasti dan sebagainya, Kamus Besar Bahasa Indnesia, Red.), mengatakan, daerah Jakarta dan sekitarnya sudah lama diketahui memiliki banyak situs arkeologi prasejarah. Kehidupan awal zaman prasejarah diawali dengan masa bercocok tanam berkisar antara 3000 SM – 1000 SM. Di Jakarta sendiri ditemukan 43 situs.

    Diskusi

    Aksi perlawanan Entong Gendut berlangsung 5 April 1916 di lanhuis (rumah peristirahatan) Gedong Villa Nova milk Lady Rollinson Van Der Passe di perkebunan Cililitan (diperkirakan lokasinya berada di antara Markas Besar DITBEKANGAD/PERKEBUD dan Plaza Kramat Jati Indah. Menurut G.J. Nawi, info ini didapat juga dari Perpustakaan Nasional). Aksinya berupa perusakan kendaraan milik tuan tanah Tandjong Oost D.C, Ament sampai menghentikan pertunjukan topeng di halaman gedung. Bersama 200 pengikutnya Entong Gendut berhasil menawan Wedana Meester Cornelis. Pada 10 April 1916, Entong Gendut tertembak ketika menyebrang kali Condet Batuampar, menjelang subuh. Dia wafat dalam perjalanan ke rumah sakit.

    Jika membahas Condet, maka tak lengkap bila tak mengulas tentang Cagar Budaya Betawi Condet. JJ Rizal dalam diskusi itu mengatakan peranan dari Ali Sadikin yang peduli dengan Condet dengan mengukuhkannya sebagai Cagar Budaya Betawi. “Untuk mengejar persyaratan sebagai kota Metropolitan pembangunan tidal perlu melenyapkan nilai-nilai lama yang telah ada. Planologi mesti memperkatikan nilai sosio-kulturil, kalau tidak makan hasil pembangunan yang kita capai tidaklah berakar pada bumi di mana kita pijak,” bilang Ali Sadikin dalam sambutan di buku Condet Cagar Budaya Betawi karya Ran Ramelan, tahun 1977. Pilihan Condet sebagai cagar budaya lantaran ketika itu 90% warga Condet adalah Betawi, alamnya masih utuh, kaya akan seni budaya dan kuat di bidang spiritual Islam.

    Nah, bicara Condet maka kita tak bisa lepas dari salak dan buah-buahan lainnya. Dari tahun 1966 – 1978 digambarkan adanya penurunan produksi buah-buahan. Tahun 1966 – 1967, produksi salak masih 2,5 juta Kg dan menurun menjadi 850 Kg tahun 1971 dan menjadi 280 Kg tahun 1978. (sumber: buku Rumah Tradisi Betawi, Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, 1991). Selain acara diskusi, pada momen itu juga, Kojek Amrullah yang merupakan rapper Betawi, memberikan kaos dengan brand Bajak (Baju Jakarta) untuk kedua pembicara.

    Related Post

    $(document).ready(function() {$('img#closed').click(function(){$('#bl_banner').hide(90);});});
    close
    Banner iklan disini