News Sticker
  •   PASTIKAN DIRI ANDA TERDAFTAR DALAM MENSUKSESKAN PEMILIHAN DAERAH GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR DKI JAKARTA (15 FEBRUARI 2017)  PERGUB NOMOR 11 TAHUN 2017 TENTANG IKON BUDAYA BETAWI RESMI DITANDATANGANI OLEH (PLT) GUBERNUR DKI JAKARTA (1/2/2017)   PERATURAN GUBERNUR(PERGUB) IKON BUDAYA BETAWI ANTARA LAIN ONDEL-ONDEL, KEMBANG KELAPA, ORNAMEN GIGI BALANG, BAJU SADARIAH KEBAYA KERANCANG, BATIK BETAWI, KERAK TELOR DAN BIR PLETOK 

  • Tahlil dan Ritus Kematian dalam Masyarakat Betawi

    red Januari 2017 Seni & Budaya

    Pembacaan Al-Quran dan Surat Yasin


    Tahlil dan Ritus Kematian dalam Masyarakat Betawi
    Sebuah kalimat mutiara dari Imam al-Ghazali mengatakan, tiada ada hal yang pasti datang di dunia ini, kecuali kematian.

    Dan ini adalah kisah tentang salah satu orang terdekat dalam hidup saya, yakni Kakek H. Mamat bin Haji Suair. Pada Kamis minggu lalu, 14 Juli 2016, saya tengah bersiap-siap pulang dari kantor di daerah Senayan. Laptop sudah saya matikan, meja sudah saya rapikan. Namun sebelum pulang ada satu hal yang tak boleh terlupa, yakni salat dulu. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 sore dan saya belum salat Asar.

    Setelah salat, saya hendak menyambar tas dan langsung pulang, mengambil kendaraan yang diparkir di Basement 2 Senayan City. Tapi tiba-tiba gawai saya berbunyi. Dan tertera di atasnya nama mertua saya.

    “Halo,” kata saya begitu memencet tombol hijau.

    “Fadjri sudah dengar belum? Sudah dengar belum?” suara di ujung sana menyahut panik.

    “Kenapa?”

    “Baba aji meninggal!”

    “Ah, yang benar, kok bisa?” Otak saya mulai tak sinkron. “Kan, Baba aji enggak sakit apa-apa,” saya tak terima kabar itu. Padahal, tentu saja, untuk mati tidak harus sakit lebih dulu.

    “Iya benar, sudah mau pulang? Baek-baek ya,” mertua saya memberi pesan.

    Setelahnya, saya baru sadar bahwa grup Whattaps keluarga saya sudah ramai dengan puluhan pesan. Mulai dari berita Baba aji di rumah sakit, perintah agar semua anak Baba aji menyusul ke sana, hingga akhirnya Innalillahi. Lantas, Mama saya membenarkan, Baba aji telah kembali ke hadapan penciptanya pukul 15.30 WIB.

    Saya segera pulang. Meski hati kacau, pikiran tetap tenang. Suami saya menelepon tapi tak terangkat oleh saya. Kami hanya berkirim pesan, saya mau pulang. Sepeda motor saya kemudikan pelan-pelan saja. Tapi sepanjang perjalanan hati saya sesak dan air mata saya mau tumpah. Saya tahan sekuat tenaga.

    Saya ingat betul kira-kira satu setengah tahun yang lalu, kakek saya dari pihak Mama, Haji Djafar bin H. Mughni, juga wafat saat saya dalam perjalanan pulang kerja. Saat itu saya sedang menunggu kopaja AC S13 di depan kantor di Kebayoran. Namun karena saya sedang hamil 8,5 bulan, saya tak diziinkan sedikit pun mendekati almarhum.

    Kali ini berbeda. Saya ingat sebelum Baba aji wafat, malamnya ia baru pulang berlebaran ke rumah mertua cucunya, Ahmad Awliya. Saya ketemu sepulang kerja lantaran mengambil anak-anak di rumah Mama yang bersebelahan dengan rumah Baba aji. Ia memaksa saya membawa kue untuk dimakan di rumah. Saya menolak karena saya dan suami sudah makan malam. Ia memaksa sampai tiga kali. Saya kukuh tak mau dan ternyata itu jadi percakapan terakhir kami.

    Pada wafatnya Baba aji, saya mendapat semua kemewahan. Saya memeluk dia, mengajikan dia, ikut proses memandikan mayatnya, melihatnya dikafani, dan terakhir melihatnya dikuburkan, masuk dalam liang lahat.

    Setelah itu saya belajar, ternyata bagi orang Betawi, proses kematian adalah sebuah ritus hidup yang dilaksanakan secara megah. Paling tidak bagi yang mampu.

    Dalam buku Siklus Hidup Orang Betawi, budayawan Betawi Yahya Andi Saputra menyebutkan ada empat ritus hidup orang Betawi yang diperingati dengan upacara, yakni kelahiran, sunatan, ngawinin, dan kematian. Seperti sebagian suku-suku yang lain di Indonesia, orang Betawi tidak mengenal tradisi ulang tahun.

    Pada pagi sebelum Baba aji dikuburkan, saya melihat kaum perempuan merangkai kembang dan kemudian membentuknya menjadi untaian kalung. Kembang itu terdiri atas melati, mawar, dan daun pandan. Kembang-kembang itu disusun berselang-seling dalam seutas benang. Jumlahnya ada tujuh buah, untuk diletakkan di atas keranda. Sisanya dipisahkan, untuk ditaburkan di atas makam bersama dengan kucuran air mawar.

    Pada malamnya, diadakan pengajian alias tahlil. Umumnya dilakukan tujuh hari berturut-turut setelah almarhum/almarhumah dimakamkan. Seandainya terasa berat, bisa saja dilakukan selama tiga hari saja. Uniknya, biaya untuk mengadakan tahlil sebagian diambil dari uang salawat.

    Uang salawat adalah uang yang diberikan oleh para saudara, handai taulan, maupun tetangga ketika bertakziah menjenguk orang yang meninggal. Dalam budaya Betawi, uang itu biasanya dimasukkan ke dalam sebuah baskom yang berisi sedikit beras, lalu di atasnya ditutupi dengan kerudung atau kain berwarna putih.


    Ketika baskom itu sudah penuh, baskom akan dikosongkan oleh salah satu kerabat almarhum atau almarhumah. Sekilas, terlihat seperti sebuah kondangan saja bahwa orang yang datang menyumbangkan sedikit uang di dalam amplop. Selain ditaruh dalam baskom, ada pula yang lebih suka menyempalkannya (memberikannya ketika salaman) kepada anggota keluarga yang berduka. Jika yang meninggal mempunyai posisi yang dihormati dalam masyarakat serta anak-anaknya memiliki posisi tertentu, semakin banyak uang salawat yang diterima—bisa mencapai puluhan juta rupiah.

    Selain uang salawat, salah satu kekhasan dari ritual perayaan kematian di kalangan masyarakat Betawi adalah penggunaan kacang kedelai. Kacang kedelai biasanya dipakai untuk menandakan selesainya pembacaan satu surat qulhu (qulhuallahu ahad alias surat Al-Ikhlas). Selama tujuh hari pelaksanaan tahlil, surat ini harus dibaca oleh para jemaah sebanyak 100.000 kali. Misalnya ada anggota jemaah yang membaca di rumah seribu kali, akan dicatat oleh orang yang ditugasi di dalam buku tahlil. Jika anggota tahlil ada seratus dan pada hari itu sebelum pembacaan surat Yaasin dibaca surat Al-Ikhlas dua ratus kali maka dicatat sudah dibaca dua ribu kali, karena dikalikan dengan jumlah anggota jemaah yang hadir.

    Pada akhir pelaksanaan tahlil, yakni pada hari ketujuh, kacang kedelai ini akan dimasak menjadi bumbu nasi bogana. Kacang kedelai dimasak bersama rempah-rempah, lalu disajikan dengan semur daging untuk para jemaah yang sudah hadir mendoakan almarhum.

    Seturut kebiasaan yang berlaku, pihak keluarga akan mengajikan almarhum selama tujuh hari berturut-turut, pagi-siang-malam. Khusus setelah larut malam hingga Subuh, biasanya ada orang khusus yang . ditugasi untuk mengaji. Bisa tiga-empat orang dan selama tujuh hari itu mereka bisa saja sudah menamatkan Al-quran beberapa kali. Namun dalam mengaji ini, sudah diniatkan bahwa pahalanya ditujukan kepada orang yang sudah meninggal itu alias yang dingajikan.

    Jika tujuh hari berturut-turut terdengar lebai untuk Anda, coba saja dengar bahwa di masa lampau ternyata mendiang dingajikan 40 hari 40 malam berturut-turut. Pernah saya dengar cerita, bahwa ada orang wafat di tanah Betawi dan ada orang yang ditugaskan mengajikannya di samping kuburan yang masih merah. Lewat tengah malam, rupanya perutnya terasa lapar. Apalagi saat itu hujan turun rintik-rintik. Kopi dan penganan kecil yang disediakan untuknya sudah tandas sejak tadi. Mendadak sontak terdengar suara tek-tek, pertanda adanya tukang nasi goreng keliling. Si tukang ngaji ini lantas membuka sorbannya yang berwarna putih untuk menutupi rambutnya dari guyuran air hujan. Ia segera keluar dari komplek pemakaman dan berseru, “Bang, bang…” untuk memanggil tukang nasi goreng.

    Namun yang penting diingat dalam keseluruhan rangkaian acara ini adalah seluruh acara dilaksanakan sesuai dengan syariat Islam.


    Bukannya berhenti, tukang nasi goreng itu justru berlari mendorong gerobaknya sekencang-kencangnya. Ia tak mau menoleh meskipun si tukang ngaji ini mengejar dia sambil berteriak-teriak. Barangkali merasa takut dan mengira ada memedi. Salah sendiri si tukang ngaji ini, kenapa memakai koko putih dan sorban putih? Apeslah dia yang harus menanggung lapar hingga pagi.

    Yang juga menarik perhatian saya, ternyata ada perlakuan khusus dalam membayarkan fidyah bagi almarhum. Fidyah adalah kewajiban memberikan makan orang miskin hingga kenyang sebagai pengganti lalainya puasa.

    Pada acara niga hari atau tahlil malam ketiga, keluarga saya melaksanakan fidyah bagi almarhum Kakek Haji Mamat bin Haji Suair. Diasumsikan beras sejumlah lima ratus liter ini sebagai pengganti lalainya almarhum dari puasa selama sekian waktu. Terus terang saya merasa bingung karena sepengetahuan saya, kakek saya ini adalah seorang ahli ibadah. Pada Ramadan 1527 Hijriah saja, beliau masih berpuasa, salat tarawih, dan menjadi imam salat di masjid. Rasa-rasanya tak mungkin beliau meninggalkan ibadah. Beda kasus dengan Kakek Haji Djafar yang memang di akhir hidupnya tak bisa beribadah lantaran terkena stroke dan pikun. Namun, Mama saya mengatakan itu sebagai jaga-jaga saja, supaya almarhum lempang jalannya di alam akhirat.

    Maka, beras sebanyak 500 liter ini ditimbang menjadi tiga liter per kantung dan dibagi-bagikan kepada hadirin jemaah tahlil dan para tetangga. Namun sebelum dibagikan beras-beras ini dikumpulkan di atas papan berwarna putih, lalu dibacakan doa oleh seorang ustaz. Salah seorang pemimpin tahlil lalu menjelaskan maksud pemberian beras ini yang kemudian disambut para jemaah dengan ucapan, “Alhamdulilah, saya wakilkan.” Acara ini disebut upacara fidyah.

    Kebiasaan di Betawi, pada hari ketujuh tahlilan, sanak kerabat, handai taulan, maupun kawan-kawan dari almarhum akan berdatangan sejak siang atau sore hari sebelum acara tahlil dimulai. Tujuannya adalah memberikan bantuan dan simpati. Bantuan yang diberikan bisa berupa penganan atau uang tunai. Saking ramainya orang yang berkunjung, biasanya tuan rumah akan memanggil tukang masak untuk bersiaga sejak pagi. Memang seperti kondangan dan pesta saja. Tenda didirikan, dapur disiapkan, dan sejak Subuh anak-anak yang diserahi tugas sudah berbelanja ke pasar.

    Dalam acara nujuh hari juga dikenal istilah tukang pangkeng alias tukang bungkus makanan. Dengan demikian, setiap tamu yang datang akan diberikan besek oleh tuan rumah. Bisa berupa kue-kue basah atau kue-kue kering, tapi bisa juga nasi beserta lauk-pauknya. Di sinilah tukang masak berperan penting karena menu yang disajikan agak banyak dan mewah pada hari ketujuh, yang dianggap sebagai akhir etape pertama. Biasanya menu khas acara selametan di Betawi adalah semur daging, bihun atau mie goreng, tumis buncis bakso, telur rebus pedas, acar, kerupuk, dan buah. Pada hari ketujuh, keluarga besar saya menyiapkan 150 bungkus berkat, belum termasuk prasmanan untuk tamu dan saudara-saudara yang turun tangan membantu.

    Acara malam nujuh hari juga dilakukan agak berbeda dari biasanya. Pada malam itu, selain tahlil dan doa seperti biasanya, diadakan ceramah agama. Ceramah dilakukan oleh seorang kyai yang mumpuni dan temanya tidak jauh dari kematian.

    Setelah nujuh hari, keluarga bisa istirahat sebentar meski tenda belum diturunkan. Setelahnya aka nada tahlil untuk 2 x 7 alias 14 hari, 40 hari, 100 hari, 1000 hari dan haul atau peringatan kematian setiap tahun. Apakah dianggap memberatkan? Sebenarnya tahlil ini tidak wajib dan sesuai kesanggupan masing-masing. Tujuannya bukan untuk pamer atau berlebihan, tetapi—menurut Mama saya—menghibur keluarga yang ditinggalkan agar tidak terlalu bersedih. Ya, sebab dengan banyaknya keramaian ini di rumah almarhum, Nenek saya tentu tidak kesepian karena banyak kesibukan dan orang-orang yang mengunjunginya.

    Namun yang penting diingat dalam keseluruhan rangkaian acara ini adalah seluruh acara dilaksanakan sesuai dengan syariat Islam. Ini menegaskan pameo bahwa Islam dengan Betawi sangat lengket seperti dua sisi mata uang.

    Jakarta, Januari 2017

    Related Post

    $(document).ready(function() {$('img#closed').click(function(){$('#bl_banner').hide(90);});});
    close
    Banner iklan disini