News Sticker
  •   PASTIKAN DIRI ANDA TERDAFTAR DALAM MENSUKSESKAN PEMILIHAN DAERAH GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR DKI JAKARTA (15 FEBRUARI 2017)  PERGUB NOMOR 11 TAHUN 2017 TENTANG IKON BUDAYA BETAWI RESMI DITANDATANGANI OLEH (PLT) GUBERNUR DKI JAKARTA (1/2/2017)   PERATURAN GUBERNUR(PERGUB) IKON BUDAYA BETAWI ANTARA LAIN ONDEL-ONDEL, KEMBANG KELAPA, ORNAMEN GIGI BALANG, BAJU SADARIAH KEBAYA KERANCANG, BATIK BETAWI, KERAK TELOR DAN BIR PLETOK 

  • Sejarah Luar Batang, Permukiman Tertua di Jakarta

    red JANUARI 2017 Seni & Budaya

    Masjid Luar Batang, Jakarta



    Dulu, sewaktu saya masih duduk di bangku kuliah, saya ingat orangtua pernah mengajak saya ke Masjid Luar Batang, Jakarta Utara. Waktu itu kami pergi bersama kakek dan nenek yang masih sehat dengan mobil kepunyaan bapak yang jauh dari nyaman. Kalau tidak salah waktu itu Kijang Rover. Maklum, bapak baru punya mobil yang agak mendingan itu kalau tidak salah sesudah saya menikah.

    Saya ingat sekali jalan menuju Masjid Luar Batang ditempuh melalui gang di kampung yang belum berasapal. Sepanjang jalan, anak-anak kampung berbaju lusuh mengikuti mobil kami dan berlari-lari di belakangnya. Begitu sampai di tanah lapang yang menjadi tempat parkir, kami dikerubuti penjual bunga dalam ikatan seperti payung kecil. Kami menggeleng-gelengkan kepala bilang tidak, tapi pedagang itu justru melemparkan sebungkus bunga untuk taburan makam. Menurut mereka, kalau sudah begitu kami harus membayarnya.

    Masjid Luar Batang pernah diceritakan dalam Gambang Djakarte karangan Firman Muntaco. Konon, seorang suami yang kepingin betul istrinya hamil berziarah ke Luar Batang sambil membawa kambing sebagai sedekah. Di depan makam di dalam masjid ia berdoa khusyuk. Tak lama kemudian benar istrinya hamil. Bukan kepalang girangnya dia. Namun sayang setelah melahirkan, si anak tak tahunya berkaki pendek sebelah. Saat si suami sedang sedih memikirkan nasib buruk anaknya, si istri menyeletuk barangkali itu karena saat ke Luar Batang mereka membawa kambing yang pincang. Begitulah kisah itu kira-kira.

    Dengan pengalaman itu, tak pelak Luar Batang punya kesan khusus buat saya. Apalagi ketika kampung itu diratakan oleh Gubernur Ahok pada 11 April 2016. Banyak opini yang berkembang bahwa Ahok tak mengerti sejarah Luar Batang. Seperti dikutip dari Liputan6.com, Daeng Mansur Amin, tokoh masyarakat Luar Batang, mengatakan Ahok sebagai pemimpin Jakarta sama sekali tidak paham dengan sejarah Jakarta. Kampung Luar Batang sudah ada sejak abad 17 pada masa kejayaan Kerajaan Sunda Padjajaran.

    “Ahok kayaknya enggak tahu sejarah, kampung Luar Batang ini kampung sejarah yang masuk dalam bagian kawasan Kota Tua Jakarta,” ucap dia.

    Alwi Shihab dalam Saudagar Baghdad dari Betawi bahkan lebih jauh lagi menyebutkan Luar Batang sebagai permukiman tertua di Jakarta. Kampung Luar Batang diperkirakan mulai dibangun pada tahun 1630-an. Di kampung ini terdapat masjid tua, yakni Masjid Luar Batang, yang dipercaya berkaromah lantaran di dalamnya terdapat makam Habib Husen bin Abubakar Alaydrus. Sang habib konon wafat ketika masih bujangan. Ia dimakamkan di masjid ini pada Kamis, 27 Ramadan 1169 Hijriah atau 24 Juni 1756.

    “Ahok kayaknya enggak tahu sejarah, kampung Luar Batang ini kampung sejarah yang masuk dalam bagian kawasan Kota Tua Jakarta,” ucap dia.

    sumber: netralnews.com
    Masjid Luar Batang

    Berdasarkan penelusuran, sejak abad ke-17 tak lama setelah Perusahaan Dagang Hindia Belanda (VOC) berdiri, Kampung Luar Batang menjadi tempat persinggahan sementara para tukang perahu yang ingin masuk ke Pelabuhan Sunda Kelapa. Ketika itu penguasa VOC bikin peraturan yang tak mengizinkan perahu-perahu pribumi masuk maupun keluar ke pelabuhan di malam hari. Karena itulah, para nakhoda itu mengaso dulu di Luar Batang.

    Terkait dengan nama Luar Batang, Alwi Shahab menuturkan ada sebuah pos pemeriksaan yang ditandai dengan sebatang kayu. Pos ini terletak di mulut alur pelabuhan. Setiap perahu pribumi yang hendak masuk akan diperiksa dulu, termasuk harus menitipkan senjatanya. Nah, yang belum diperiksa biasanya mengantri di luar batang yang ditetapkan itu. Kadang-kadang mereka menunggu sampai pagi atau bahkan hingga berhari-hari kemudian.

    Nah, ketika menunggu itulah, sebagian dari awak perahu turun ke darat dan kemudian membangun pondok-pondok sementara. Lama-kelamaan kawasan permukiman ini dinamai Kampung Luar Batang–yakni permukiman yang berada di luar pos pemeriksaan. Kampung semakin ramai ketika pada sekitar 1660-an, VOC mendatangkan nelayan dari Jawa Timur ke kampung ini. Pemimpinnya, bernama Bagus Karta, dianugerahi gelar luitenant.

    Kampung Luar Batang dulunya adalah rawa-rawa. Lama-kelamaan rawa-rawa itu tertimbun lumpur dari Kali Ciliwung. Kampung di sekitarnya semakin berkembang, termasuk Kampung Rawa Baru. Semakin lama kampung semakin penuh dengan banyaknya tenaga kerja yang datang untuk membangun Kastil Batavia. Pasar yang ada di sekitar situ pun dinamai Pasar Ikan.

    Fakta ini diperkuat catatan F. de Haan dalam Oud Batavia yang menyebut kampung Luar Batang oleh VOC dijadikan pemukiman yang menampung para nelayan dari Jawa Timur dan Cirebon yang disebut wetanger alias orang-orang dari Timur.

    Adapun Habib Husen yang menjadi guru agama di masjid yang dulu terletak berdekatan dengan benteng penyimpanan VOC itu berasal dari Hadramaut. Alwi Shihab menyebut ia adalah pendatang lebih awal, sebelum para pendatang keturunan Arab lainnya datang dan ditempatkan di Pekojan.

    Demikianlah Luar Batang, yang sejarahnya menyatu dengan Sunda Kelapa. Kini Luar Batang dan Pasar Ikan menanti kehancurannya. Manusia-manusia dipaksa pindah ke rusun. Sebagian yang menolak memilih tidur di perahu. Namun, akankah Jakarta mengulang sejarahnya lagi–seperti dikatakan JJ Rizal–sama seperti ketika JP Coen pada 30 Mei 1619 menghancurkan Jayakarta. Wallahu alam.

    Related Post

    $(document).ready(function() {$('img#closed').click(function(){$('#bl_banner').hide(90);});});
    close
    Banner iklan disini