News Sticker
  •   PASTIKAN DIRI ANDA TERDAFTAR DALAM MENSUKSESKAN PEMILIHAN DAERAH GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR DKI JAKARTA (15 FEBRUARI 2017)  PERGUB NOMOR 11 TAHUN 2017 TENTANG IKON BUDAYA BETAWI RESMI DITANDATANGANI OLEH (PLT) GUBERNUR DKI JAKARTA (1/2/2017)   PERATURAN GUBERNUR(PERGUB) IKON BUDAYA BETAWI ANTARA LAIN ONDEL-ONDEL, KEMBANG KELAPA, ORNAMEN GIGI BALANG, BAJU SADARIAH KEBAYA KERANCANG, BATIK BETAWI, KERAK TELOR DAN BIR PLETOK 

  • Jampe dan Wafak Betawi

    Yahya Andi Saputra 1/01/2017 Budaya

    Yahya Andi Saputra

    Pembuka
    Dari mana datengnya linta Dari sawah turun ke kali Dari mana datengnya cinta Dari mata turun ke hati

    Banyak cara dilakukan orang untuk mengetahui suatu perkara yang kemudian dari ulahnya itu bersimburatlah getaran enerji positif. Enerji positif itu berlajut kapada tahap cinta dan rasa memiliki.Kecamuk rasa berkecambah dan mendorong lahirnya hasrat untuk menjaga dan memelihara bahkan berupaya menelurkan produk atau generasi baru para pecinta.Namun untuk mengetahui sesuatu itu, seseorang tidak serta merta memperoleh materi yang dimaksud.Materinya nun pernah cerlang-cemerlang di suatu masa.Masa demi masa datang pergi ganti berganti dan pada suatu zaman kecemerlangan itu memudar, redup, dan hilang.Maka ketika seseorang membincang kehilangan, biasanya bermunculanlah sesal seraya menghukum diri bahwa dirinya benar-benar teledor dan tak memiliki pengharapan.Frustrasi dan pesimislah jadinya.

    Tentu frustrasi dan pesimis tak perlu berkepanjangan.Sebagaimana pantun di atas, tak mencermin kefrustasian dan kepesimisan.Patun itu jelas menggambarkan gairah pada perkenalan pertama dan berlanjut menjadi gejolak penemuan jatidiri bak baru saja meletup pencerahan serta terbentang jalan memahaminya.Ia menemukan pijakan kemana semestinya mengarahkan kiblat dan rute mana yang harus dipilih. Tulisan ini bukan merupakan salah satu upaya menyelesaikan perkara dan tidak diharapkan dapat menimbulkan getaran enerji positif. Kita menyadari bahwa kearifan lokal yang berhamburan enerji positif – tak hanya berlaku di tanah Betawi, tapi relative menyeluruh di antero tanah nusantara – telah menjadi fosil yang nyaris tak dapat diselamatkan.Banyak orang kerap menyalahkan perkembangan jaman dan trend globalisasi yang melaju bak kilat memuncratkan gelegar dan gegar perilaku, sementara pijakan pada akar tradisi dalam hal ini kearifan lokal belum sepenuhnya dijadikan penentu arah.

    Pakar ilmu-ilmu sosial menangkap perilaku pola hidup masyarakat tradisional dengan mendefinikan menjadi kearifan lokal. Mereka mengatakan, kearifan lokal adalah cara dan praktik yang dikembangkan oleh sekelompok masyarakat, yang berasal dari pemahaman dan interaksi mendalam akan lingkungan tempat tinggalnya. Kearifan lokal berasal dari masyarakat untuk masyarakat yang dikembangkan dari generasi ke generasi, menyebar, menjadi milik kolektif, dan tertanam di dalam cara hidup masyarakat setempat. Masyarakat memanfaatkan tata atur kearifan lokal untuk menegaskan jatidiri dan bertahan hidup.

    Contohnya bagaimana masyarakat Betawi memuliakan sumber air dengan mensimbolisasikannya dengan buaya.Pada acara serah-serahan menjelang pernikahan, pihak calon pengantin laki-laki membawa dan menyerahkan sepasang roti buaya kepada calon pengantin peremupan. Sepasang roti buaya itu tidak dimaknai secara harfiah namun secara metafor, kias, karena konon buaya siluman menjadi penunggu entuk (sumber air) baik sungai, mata air, setu (danau), kobak, maupun rawa. Atau bagaimana masyarakat Betawi memanfaatkan pekarangannya agar bernilai social ekonomi lebih tinggi.Pagar pembatas halaman dengan jalan umum biasanya ditanami pohon obat-obatan (jarak, sirih, teleng, saga, dan lain-lain) yang dibutuhkan masyaralat sekitar. Kemudian di sekitar rumah ditanami buah (belimbing, jambu biji, jeruk bali, delima dan lain-lain) yang hasilnya dijual atau disumbangkan untuk kepentingan kerja bakti membersihkan lingkungan.

    Jakarta terus berkembang mengikuti gaya pengembangan dan pembangunan kota-kota modern dunia. Hotel, apartemen, mal, berlomba menancapkan tiang-tiang betonnya seraya menggerus perkampungan masyarakat lokalnya.Lalu bagaimana dengan tradisisi dan kearifan lokal masyarakat Betawi? Masyarakat Betawi (beserta seluruh unsur budaya) yang tradisionalistis perlahan tapi pasti tergerus oleh modernitas. Pembangunan fisik besar-besaran yang digerakkan oleh pemerintah dan swasta sejak Orde Baru tampaknya kurang mempertimbangkan kepentingan masyarakat lokal.Sebagian besar perkampungan masyarakat Betawi digusur dan dalam sekejap sudah berdiri bangunan mewah dan modern.Tanah persawahan, rawa, perkebunan, tegalan, bahkan sungai beralih fungsi menjadi bangunan hotel, mal, pasar, terminal, gedung olahraga, dan lain-lainnya.Bahkan namanya pun hilang dari peta Jakarta.Beriring dengan itu kaum urban tiada henti berdatangan menyerbu Jakarta demi memperoleh perbaikan taraf hidupnya. Masyarakat Betawi yang semula hidup berdampingan antar sesamanya dalam satu kampung, menjadi berpencaran dan tinggal pada lokasi hunian baru.Mereka yang mencoba bertahan merasakan hidup terhimpit dan terasing di lingkungannya sendiri.Mengikuti pusaran modernitas itu, pranata dan system social yang telah mapan menjadi lumpuh.Itulah yang terjadi pada pertanian, perkebunan, peternakan, perdagangan, industry kecil, arsitektur, kiliner, obat-obatan, kesenian, dan sebagainya.

    Beberapa decade di akhir abad ke-20, terjadi kesadaran berbagai kalangan baik pemerintah daerah maupun masyarakat secara terorganisir dan perorangan, berusaha menghidupkan kembali kearifan lokal masyarakat Betawi yang masih mungkin dapat diselamatkan.Dirancanglah beberapa proyek dan ditindaklanjuti dengan program aksi berupa penggalian, pendokumentasian, pelestarian, serta pembangunan ruang-ruang publik sebagai prasarna penunjangnya. Bahkan amanah untuk melakukan itu dituangkan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2007, tentang Pemerintahan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Sebagai Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kemudian keluar pula Peraturan Daerah No. 4 Tahun 2015, tentang Pelestarian Kebudayaan Betawi, yang ditindaklanjuti dengan Peraturan Gubernur No. 229 tahun 2016. Memang belum maksimal, tapi upaya masih terus dilakukan.

    Jampe Kata jampe atau jampi sama dan sebangun dengan kata mantra. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1993: 399, 629), kedua kata itu dimaknai sama, yaitu perkataan atau ucapan yang dapat mendatangkan daya gaib, misal dapat menyembuhkan, mendatangkan celaka, dan sebagainya. Juga didefinisi sebagai susunan kata berunsur puisi seperti rima dan irama yang dianggap menandung kekuatan gaib, biasanya diucapkan dukun atau pawang untuk menandingi kekuatan gaib yang lain. Jampe digolongkan sesuai fungsinya, yaitu untuk kejahatan, keselamatan, penawar, pitanggan (jampe yang menyebabkan perempuan tidak suka kepada pria atau tidak menikah seumur hidup karena tidak ada lak-laki yang mencintainya). Dalam perspektif ilmu sastra, dapat dikatakan jampe merupakan genre sastra lisan yang paling awal dikenal dan digunakan oleh masyarakat.Hal ini sangat terkait dengan fungsinya sebagai media penangkal atau peneguh kekuatan gaib.

    Dalam masyarakat Betawi, jampe adalah bacaan – sering atau biasanya dibaca dengan caranggrendeng atau solilokui alias bersenandung – yang berbentuk pantun, syair, dan puisi. Namun bacaan itu bersifat sangat pribadi karena hanya orang-orang tertentu, dukun atau ‘orang pinter’, yang memiliki kemampuan membacanya. Sang ‘orang pinter’ atau dukun sendiri pun sering tak memahami kalimat jampe yang dibacanya. Jampe dianggap sebagai pusaka yang diwariskan para leluhur dan harus dijaga serta dirawat mengikuti kepatutan yang berlaku dari masa ke masa.Bagi dukun, jampe adalah pemake atau media yang digunakan untuk menghubungkan alam kasar (namusia) dengan alam alus (Penguasa alam Semesta). Secara umum, mengacu kepada cultural sytem (sistim nilai budaya) yang telah digagas oleh leluhur masyarakat Betawi, saya membagi jampe menjadi empat ragam utama dikaitkan dengan fungsi dan kepraktisannya.Pertama jampe koncian, yaitu jejampean yang digunakan untuk menjaga dan melindungi diri dari berbagai gangguan yang nyata maupun yang gaib. Kedua jampe setiaratau jalan usaha, yaitu jampe yang dimanfaatkan untuk keperluan berusaha dan berniaga di dalam segala lapangan serta profesi. Ketiga jampe beborehan, yaitu jampe yang difungsikan untuk pengobatan dan penyembuhan berbagai jenis penyakit.Keempat jempe rupa-rupa.Jampe rupa-rupa termasuk di dalamnya hal-hal praktis yang tidak masuk ke dalam kelompok satu, dua, tiga.Misalnya jampe mikat (menangkap) burung atau memancing ikan dan sebagainya.

    Tentu empat kelas jampe yang dikemukakan dan berlaku pada masyarakat Betawi bukan suatu kemutlakan.Pengkelasan itu hanya untuk mempermudah penempatan dan pemanfaatannya dilihat dari sisi konumen atau pengguna masyarakat.Selain tentu untuk membantu kaum akademisi dalam upaya analisis isi yang terkandung di dalamnya.

    Siapakah yang menciptakan jampe?Dapat dipastikan jampe diciptakan oleh para leluhur yang memiliki kemampuan membaca gejala alam. Leluhur itu tidak terlacak namanya, namun dapat diduga profesinya, seperti resi, kyai, pujangga, dan orang pinter lainnya. Profesi seperti itu jelas disandangkan kepada orang yang ahli dalam menciptakan atau merangkai teks sastra dan tata bahasa, ahli memainkan kata-kata, mahir dalam seni suara, pandai mengarang dan bercerita, memiliki pengetahuan mengenai hal yang ‘kasar’ dan ‘halus’, arif bijaksana, dan memiliki daya ingatan kuat dan tajam.

    Orang biasa tentu tak sampai daya imajinasinya kepada bentuk atau teks jampe yang memiliki pola tersendiri selain sarat makna kias dan kekuatan magisnya. Misalnya bentuk syair atau pantun yang memperhitungkan jumlah baris untuk tiap bait, jumlah suku kata tiap baris, dan vokal akhir baris. Lebih rumit lagi jika menggunakan pola metrum (KBBI, 1993:653) yaitu ukuran irama yang ditentukan oleh jumlah dan panjang tekanan suku kata dalam tiap baris atau pergantian naik turun suara secara teratur dengan pembagian suku kata ditentukan oleh golongan sintaksis (ilmu tata kalimat).

    Meski kemampuannya dalam menciptakan jampe sungguh sangat mumpuni, namun mereka tak mempunyai keinginan menonjolkan diri di tengah masyarakat yang mencintainya.Kerendahan hati lebih diutamakan dan itulah yang kemudian menenggelamkan namanya.Tak satu pun jampe karya mereka yang diberi title penciptanya.Sehingga semua jampe hasil karya leluhur itu tak dikenal siapa penciptanya atau no name yang sering disingkat nn. Berikut ini beberapa beberapa contoh teks jampe (1.Lewat tempat angker; 2.Ngusir kuntilanak; 3.Sakit tumbuan; dan 4. Berak-berak/diare).

    1 Ingsun nang warui Saturune warhana apa Tatag tulak papag sungsang Teluh pulang igawe pulang Di situ berhalana didie barhayuna Istan-istan tampak rana

    2 Sang ratu kuntilanak Anak-anak mati beranak Sundel malem mati di kolong Si borok tongtong Ke kitu ke kidang Ke tegal awat-awatan Ke duku pata paluna Nenek luwung gede Kaki cai gede Mahula deket-deket Mahulang ke manusa

    3 Urung-urung tempolong kapur Urung tumbuan Jadi tempolong kapur Jadi tumbuan Urung tempolong kapur Urung tumbuan

    4 Nenek jaga jalan Ula jaga jalan Jangan ngeregahi rang di sini Ngeragahi rang di sono Tempat lu di muara cai Istan-istan tampak rana

    Wafaq Paralel dengan pemanfaatan jampe, wafaq kerap menjadi media yang – karena proses pembuatannya sarat dengan ketentuan dan persyaratan khusus – digunakan sebagai tameng mencegah penyakit serta wabah yang disebabkan kekuatan negative supranatural.Atau digunakan sebagai pemacu diri atas keraguan dan ketidakyakinan karena energi negative terlalu dominan. Wafaq adalah tulisan pada benda yang dianggap mempunyai kekuatan dan dapat melindungi pemiliknya, digunakan sebagai penangkal penyakit.Wafaq berasal dari bahasa Arab yang arti harfiyahnya menjadikan selaras atau harmonis.Wafaq terdiri atas angka dan huruf yang disusun secara sistematis mengikuti kaidah yang telah ditentukan untuk membentuk pola energi yang diinginkan pembuatnya.Berbagai wafaq dibuat mempunyai kapasitas sebagai sarana penyembuhan, perlindungan, kekebalan tubuh, keselamatan, kemudahan rizki, dan lain-lain.

    Memang belum ada keterangan sejak kapan wafaq dibuat. Bias saja sejak zaman purba, ribuan tahun lalu. bila menengok pada bangunan Piramid, maka di dinding banguan kuno itu terpahat tulisan dan symbol. Apakah tulisan dan symbol itu dapat dijadikan acuan sebagai titik awal keberadaan wafaq?Tentu tidak perlu tergesa-gesa untuk memvonis sebagai titik awal keberaadn wafak.Bahwa kemudian bentuk tulisan dan symbol yang terdapat pada dinding itu memiliki kemiripan dengan bentuk wafaq, itu lain hal.Bisa saja diartikan bahwa tulisan dan symbol pada dinding Piramid merupakan ‘majalah dinding’ purba. Fungsinya sama dengan majalah atau surat kabar zaman modern, mengkomunikasikan atau mensosialisasikan sesuatu kepada publik. Atau itu memang benar-benar magic script yang belum dapat dibongkar rahasianya.

    Tentu kita wajib merujuk Alquran. Nabi Musa (Quran surat 28 dan 26) hidup pada masa sihir begitu dipuja. Dukun, ahli nujum, tukang sihir, bahkan rakyat biasa mengandalkan sihir untuk berbagai tujuan.Asumsinya, ukun, ahli nujum, dan tukang sihir memiliki kemampuan menemukan kekuatan dibalik suatu benda dan tulisan.Memang sesungguhnya amat jelas dan tak terpungkiri, sejak zaman dulu tulisan berbentuk wafaq merupakan salah satu media yang digunakan oleh para penyihir, ahli nujum, dan dukun.

    Tata warna kultur yang berbeda-beda sudah ada manakala dunia tercipta, terutama kemudian ketika makhluk yang bernama manusia berada di dalamnya. Kelar-kelir musim yang membujur dari utara ke selatan, dari timur ke barat, jelas tak terpungkiri.Kemudian manusia yang berdiam dan mengelola alam tempat tinggalnya, harus pandai jika tidak berdamai dengan gencar atau kejamnya pergantian musim. Bermunculanlah cara ungkap yang berbeda, cara berkomunikasi yang berbeda, cara bersikap yang berbeda.

    Tulisan sebagai salah satu alat komunikasi antara sesama, berkembang menurut kesepakatan internal manusia yang bersangkutan. Karena akan sangat sulit menelaah tulisan wafaq dari sekian banyak budaya atau bangsa. Di Asia ngendon atau berdiam berbagai negara dengan kebudayaan yang berbeda-beda dengan ragam bahasa dan tulisan yang berlainan pula.Tulisan aksara Jawa berbeda dengan tulisan Cina, begitu pula tulisan Kanji Jepang, atau tulisan India, Arab, dan lain sebagainya.Biasanya tulisan wafaq tidak jauh berbeda dari tulisan budaya setempat. Misalnya di tanah Jawa, maka kita akan menemukan tulisan wafaq berbentuk huruf aksara Jawa. Begitu pula di Cina, tulisan wafaq juga berupa huruf Cina. Tulisan wafaq yang terdiri dari huruf-huruf Hijaiyah, tentu lahir di tanah Arab.Maka ilmu wafaq merupakan ilmu yang cukup populer di negeri Arab, terutama setelah Nabi Muhammad SAW membawa risalah Alquran.Wafaq lahir dari mukasyafah para wali, yang dengan izin Allah, berhasil menyingkap rahasia di balik asma Allah, huruf dan ayat Alquran.Mereka adalah orang pilihan yang diberi kelebihan menyingkap keghaiban asmaNya dan selalu mendamba ridlaNya sehingga jauh dari kesesatan.Ternyata di setiap huruf dalam ayat suci Alquran terdapat khadam yaitu Malaikat penjaga huruf ayat suci Alquran, begitulah pendapat para sesepuh ahli wafaq huruf Hijaiyah.

    Tak pelak wafaq dari ayat Alquran (huruf Hijaiyah) mulai berkembang.Para wali dan ahli wafaq telah menurunkan ilmu ini, membuka sedikit rahasia Alquran dan menemukan susunan wafaq.Para pelanjut tidak perlu sulit menyusun wafaq yang belum tentu benar dan terbukti daya ghaibnya.Wafaq warisan para wali tentu sudah terbukti kemujaraban dan keampuhannya apabila benar tatacara penulisan dan penggunaannya. Huruf disusun menjadi kata, kata disusun menjadi kalimat.Kata dan kalimat inilah jembatan berkomunikasi.Namun wafaq bukanlah rangkaian huruf yang membentuk kata, atau rangkaian kata yang membentuk kalimat agar mudah dimengerti oleh manusia.Wafaq adalah pemenggalan atau pemisahan dari semua kata dan kalimat. Karenanya, apabila kita mencari padanannya di dalam kamus, maka lema yang dimaksud tidak akan ditemui. Dengan kata lain tak ada padanan kata atas perkataan dalam bentuk tulisan wafaq namun kata itu mempunyai makna dan kekuatan, mendaya-gunakan kekuatan supranatural untuk membuat mengerti tanpa harus dibaca. Tidak ada perlunya mengerti arti tulisan wafaq, sebab tulisan itu tidak untuk diperlihatkan kepada orang. Meski orang lain tidak mengetahui wafaq ini, tapi khasiatnya tetap terasa oleh pengguna.

    Wafaq adalah media komunikasi.Tulisan wafaq tidak terbatas oleh keterbatasan panca indera.Tulisan wafaq bersifat universal.Sebab ‘cara kerjanya’ bukan dengan mengartikan tulisannya kemudian kita baru tahu maksudnya.Wafaq bekerja secara ghaib.Efek wafaq dapat dirasakan oleh siapa saja baik manusia, hewan, dan makhluk halus. Kekuatan itu menyembul dari penggunaan pancaran energy yang dihasilkan proses supranatural. Ia tak terdeteksi oleh peralatan elektronik, hanya bisa diendus oleh kepekaan indera ke enam.

    Pada prinsipnya semua makhluk hidup di bumi ini adalah makhluk berenergi.Wafaq dapat mempengaruhi alam sekitar akibat adanya energi ghaib yang ‘menempati’ wafaq itu.Energi yang dipancarkan tulisan wafaq adalah energi dari makhluk halus (ghaib).Bisa energi makhluk Jin atau Malaikat.Keduanya merupakan makhluk ghaib yang memang ada di dunia ini.Walaupun tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, namun sebagai orang yang beragama, mempercayai yang ghaib adalah bagian dari keimanan.Jelas terpampang dalam firman Allah, “Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. (Yaitu) Mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki, yang Kami anugerahkan kepada mereka” (Al-Baqarah: 2-3).
    Wafaq merupakan tulisan berkekuatan ghaib dan dapat mempengaruhi alam sekitarnya. Ilmu wafaq pada prakteknya akan berhubungan dengan tulis-menulis atau gambar menggambar. Untuk sampai mewujud sebagai wafaq, maka ia harus didukung oleh beberapa komponen, antara lain : jenis pena, jenis tinta, jenis obyek penulisan (kertas, kain, logam, kulit), kalimat, angka, huruf, cara penulisan (menutar, persegi, matematikal, vertical, horizontal), waktu atau saat penulisan dilakukan (bulan, hari, jam tertentu, rasi bintang, teknik nafas), arah hadap penulisan (barat, timur, utara, selatan, qiblat), jenis bukhur untuk mengasapi, serta kemampuan pembuat wafaq dalam memasukkan dan mengkunci enerji ke dalam wafaq.

    Wafak menjaga rumah

    Ahli pembuat wafaq tentu mahir dan memahami bahasa Arab dan dengan sendirinya hafal kaidah atau kepatutah abjadiyah.Ia akan memperhitungkan semua komponen masak-masak untuk membentuk suatu pola tertentu untuk keperluan tertentu. Makin lengkap dan tepat komponennya, akan semakin fokus dan semakin kuat pengaruh wafaqnya. Bagi masyarakat Betawi, yang agak berat proses pembuatannya adalah wafaq yang menggunakan obyek penulisannya berupa logam. Pada obyek seperti itu, kepiawaian ahli wafaq dapat kelihatan dari hasil akhir produk wafaq.Ada dua jenis yapang paling dikenal, wafaq dekok dan wafaq nimbul.

    Penutup Dukun dengan peran sosialnya, merupakan tambang pengikat yang menguatkan eksistensi kearifan lokal sebagai bentuk kebudayaan secara terus-menerus sampai akhir hayat. Dengan demikian maka kearifan lokal menjadi lebih berdaya guna. Maka kearifan lokal sebagai manifestasi kebudayaan yang terjadi dengan penguatan-penguatan dalam kehidupannya menunjukkan sebagai salah satu bentuk humanisasi manusia dalam berkebudayaan. Dinamika kebudayaan merupakan suatu hal yang niscaya.Hal ini tidak lepas dari aktivitas manusia dengan peran akalnya.Dinamika atau perubahan kebudayaan dapat terjadi karena berbagai hal.Secara fisik, bertambahnya penduduk, berpindahnya penduduk, masuknya penduduk asing, masuknya peralatan baru, mudahnya akses masuk ke daerah juga dapat menyebabkan perubahan pada kebudayaan tertentu.Dalam lingkup hubungan antar manusia, hubungan individual dan kelompok dapat juga mempengaruhi perubahan kebudayaan. Satu hal yang tidak bisa dihindari bahwa perkembangan dan perubahan akan selalu terjadi.

    Di kalangan antropolog ada tiga pola yang dianggap paling penting berkaitan dengan masalah perubahan kebudayaan: evolusi, difusi, dan akulturasi. Evolusi adalah perubahan atau pergeseran kebudayaan yang dilukiskan antropolog berkembang dari bentuk yang rendah ke yang tinggi, dari kekejaman sampai keberadaban.Difusi merupakan proses yang menyebarkan penemuan (inovasi) ke seluruh lapisan satu masyarakat atau ke dalam satu bagian atau dari satu masyarakat ke masyarakat lain. Akulturasi adalah proses saling mempengaruhi satu kebudayaan terhadap kebudayaan lain atau saling mempengaruhi antara dua kebudayaan yang mengakibatkan adanya perubahan kebudayaan. Landasan dari semua ini adalah penemuan atau inovasi (Sartini, 2004: 111-120).

    Kebudayaan Betawi sudah mengalami gelombang demi gelombang serbuan fisik dan psikis, bahkan ketika bentuk utuhnya belum menjadi.Serbuan itu pada gilirannya mengikis daya tahan atau kekokohannya.Namun kebudayaan Betawi memiliki tingkat kelenturan/elastisitas cukup prima dalam menghadapi gelombang serbuan bertubi tiada henti.

    Daon pinang di atas panggung Seratus linta dalem pedati Putus benang boleh disambung Putus budaya membawa mati

    Ada gamelan berbunyi malam Suaranya sampe kampung Krukut Saya mencari saputer alam Rona budaya yang paling patut

    Siapakah yang menciptakan jampe?Dapat dipastikan jampe diciptakan oleh para leluhur yang memiliki kemampuan membaca gejala alam. Leluhur itu tidak terlacak namanya, namun dapat diduga profesinya, seperti resi, kyai, pujangga, dan orang pinter lainnya. Profesi seperti itu jelas disandangkan kepada orang yang ahli dalam menciptakan atau merangkai teks sastra dan tata bahasa, ahli memainkan kata-kata, mahir dalam seni suara, pandai mengarang dan bercerita, memiliki pengetahuan mengenai hal yang ‘kasar’ dan ‘halus’, arif bijaksana, dan memiliki daya ingatan kuat dan tajam.


    Referensi

    Koentjaraningrat. 1999. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Penerbit Djambatan. Margono, Gatot. TT.Ilmu Trawangan dan Ilmu Kadigdayaan. Surabaya: Pustaka Ilmu Jaya. MPSS, Pudentia (Editor). 2008.Metodologi Kajian Tradisi Lisan.Jakarta : Asosiasi tradisi Lisan (ATL). Rahyono, FX. 2009. Kearaifan Budaya Dalam Kata. Jakarta : Wedatamawidyasastra. Saputra, Yahya Andi, Maman S. Mahayana, M. Guntur Elmogas, Rudy Haryantod. 2008. Pantun Betawi, Refleksi Dinamika, Sosial-Budaya, dan Sejarah Jawa Barat Dalam Pantun Melayu Betawi. Bandung: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Barat. Sartini. 2004. “Mengenal Kearifan Lokal Nusantara : Sebuah Kajian Filsafati” dalam Jurnal Filsafat, No. 2, Jilid 37, Agustus 2004, h. 111-120.

    Related Post

    $(document).ready(function() {$('img#closed').click(function(){$('#bl_banner').hide(90);});});
    close
    Banner iklan disini