News Sticker
  •   PASTIKAN DIRI ANDA TERDAFTAR DALAM MENSUKSESKAN PEMILIHAN DAERAH GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR DKI JAKARTA (15 FEBRUARI 2017)  PERGUB NOMOR 11 TAHUN 2017 TENTANG IKON BUDAYA BETAWI RESMI DITANDATANGANI OLEH (PLT) GUBERNUR DKI JAKARTA (1/2/2017)   PERATURAN GUBERNUR(PERGUB) IKON BUDAYA BETAWI ANTARA LAIN ONDEL-ONDEL, KEMBANG KELAPA, ORNAMEN GIGI BALANG, BAJU SADARIAH KEBAYA KERANCANG, BATIK BETAWI, KERAK TELOR DAN BIR PLETOK 

  • Pak Ahok, Sudahlah, Biarkan Saja Anies dan Agus Mengawang-awang

    Fadjriah Nurdiarsih 1/01/2017 PILKADA DKI

    Debat final calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta yang berlangsung tadi malam adalah debat pamungkas dari rangkaian debat yang diselenggarakan KPUD DKI Jakarta menjelang Pilkada DKI Jakarta 15 Februari 2016. Ketiga pasangan calon tampil lebih santai dan siap dengan data di tangan. Beberapa dipakai untuk meyakinkan programnya, beberapa lagi dipakai untuk menyerang lawan politiknya.

    Hangat dan meriah, itulah kesan yang saya tangkap dari debat final calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta. Kedua debat sebelumnya memang tak terlalu saya ikuti karena saya tak punya cukup minat. Saya hanya mengamati riuh respons para pendukung di media sosial. Saya pikir, mau berapa kali pun digelar debat, setiap pendukung fanatik akan setia pada pilihannya. Mereka lebih siap tempur membela mati-matian calonnya sebanyak apa pun tudingan mengadang. Para pendukung paslon di pilkada bisa jadi lebih koppig dibanding orang yang sedang jatuh cinta.

    Karena itulah, saya memilih adem ayem di medsos. Selow. Saya tak mengomentari posting-an kawan-kawan yang menyuarakan dukungannya terhadap satu calon dan menjelek-jelekkan calon lain. Buat apa? Toh, mereka yang geger dengan pilkada kenyataannya adalah orang-orang tak ada sangkut-pautnya langsung dengan Pilkada DKI. Benar lo, sebagian tak punya hak pilih di Jakarta, tetapi lebih suka berlaku sebagai buzzer gratisan yang meneror dan membuat timeline media sosial saya jadi enggak asyik dibaca dua bulan belakangan.

    Selama Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok diberhentikan sementara dari jabatannya, saya justru lebih suka mengamati aksi Sumasono yang diangkat Mendagri Tjahjo Kumolo sebagai pelaksana tugas Gubernur DKI Jakarta. Berkebalikan dari pendahulunya, Pak Soni—demikian sapaan akrabnya—justru mesra betul dengan Bamus Betawi. Pak Soni-lah yang mencairkan dana hibah untuk Bamus Betawi yang sempat ditahan Ahok. Dan terakhir, Pak Soni mengesahkan Pergub Nomor 11 tentang Ikon Budaya Betawi pada Minggu, 5 Februari 2017. Dengan demikian, ada delapan ikon Betawi, yakni ondel-ondel, kembang kelapa, ornamen gigi balang, baju sadariah, kebaya kerancang, batik Betawi, kerak telor, dan bir pletok.

    Nah, balik lagi soal debat, paslon nomor urut dua tampaknya senang menyerang lawan politiknya dengan ungkapan “Anda jangan membuat program yang mengawang-awang”. Bahkan dalam closing statement, Ahok dengan jelas mengumpamakan dirinya sebagai orangtua yang sedang mendidik anak, tetapi dirusak oleh orang-orang yang kepengin jadi gubernur.

    Ucapannya ini lantas disambut dengan teriakan dan cemoohan dari penonton debat yang hadir di Bidakara semalam. Melalui pernyataan ini, paslon dua dianggap menganggap kedua paslon lainnya sebagai “pemberi harapan palsu.”

    Namun, tahukah Anda Pak Ahok bahwa Barack Obama berhasil memenangi pemilu Amerika Serikat lantaran ia memberikan harapan? Ya, Hope adalah tag kampanye Barack Obama. Karena itu, apa salahnya Anies-Sandi memberikan harapan bagi warga Jakarta meski ia tidak menyebutkan di mana lokasinya dan berapa harga rumah yang dijanjikan itu. Belakangan, Anies meralat dan mengatakan skemanya adalah DP nol persen dengan skema perjanjian melalui bank.

    Karena itulah, Jakarta ini darurat betul. Isu debat ketiga dengan tema kependudukan dan peningkatan kualitas hidup masyarakat Jakarta dengan empat subtema, yaitu pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, antinarkotika, dan kebijakan untuk disabilitas memang belum 100 persen memenuhi harapan. Tapi setidaknya, saya sudah punya pilihan siapa yang akan dicoblos nanti. Meski kata Pak Ahok, paslon satu dan tiga suka bangun opini menyesatkan dan bikin program mengawang-awang, biarkanlah warga DKI Jakarta memilih pemimpinnya sendiri.

    Sementara Pak Ahok, maaf, alih-alih memberikan rumah, justru Bapak dengan masif menggusur. Kalijodo, Kampung Pulo, dan Bukit Duri adalah contoh-contoh penggusuran yang dilakukan pada zaman Pak Ahok menjadi gubernur. Namun, warga yang sadar hak melawan. Warga Bukit Duri kemudian menang gugatan atas Pemprov DKI Jakarta di PTUN.

    Apakah dengan demikian Pak Ahok bersedia minta maaf? Rupanya tidak. Ia tetap menganggap pindahnya warga ke rusun masih lebih baik. Padahal di rusun itu status mereka terbuang dari punya rumah menjadi tak punya rumah. Pak Ahok malah berbangga dengan mengatakan di rusun itu warga Jakarta gratis, lo, cuma bayar iuran Rp 5.000-10.000 per hari. Kenyataannya, Pak, banyak penghuni rusun yang bahkan tak mampu bayar iuran karena sumber penghasilannya dimatikan. Jauh dari tempat usaha, jauh dari sekolah, ongkos yang melonjak, kehidupan sosial yang berubah adalah sekelumit permasalahan yang dirasakan penghuni rusun korban penggusuran.

    Bagi kalangan menengah pendukung setia Pak Ahok, jeritan korban penggusuran rupanya tak sampai. Asal tak korupsi, melanggar hak asasi manusia tak apa-apa. Namun bagaimana jika itu terjadi pada orang dekat Anda? Masihkah Anda diam?

    Kasus Retno Listyarti, seorang guru, dan Yusri Isnaeni, seorang janda, menunjukkan Pak Ahok lebih suka mengedepankan otot dibanding sedia kuping untuk mendengarkan. Yusri, seorang janda, mengaku sedih dituduh maling oleh gubernur. Dia bilang, anak saya sampai malu karena foto ibunya dipajang di sekolahnya sebagai pelaku yang salah memanfaatkan KJP. Bahkan, KJP anak Yusri dibekukan sampai enam bulan lamanya.

    Pak Ahok, inilah kalau Anda tidak pernah merasakan susahnya jadi orang miskin. Anda bilang itu perlu sebagai shock therapy, tapi Anda enggak tahu kan betapa bersyukurnya orang-orang yang menerima KJP. Kini mereka bisa beli beras dan telur untuk menyambung napas selama sebulan dan bahkan kadang-kadang juga susu. Saya penasaran memang apakah boleh, tapi memberi pelajaran kan tidak perlu sampai membuat malu orang.

    Jika Sandiaga Uno dalam debat berkali-kali menegaskan program Oke-Oce (One Kelurahan One Center), Agus Yudhoyono dan Sylviana Murni berjanji memberikan duit 1 miliar satu kelurahan. Sepintas, hal ini seperti program 1 miliar satu desa yang digagas Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Marwan Jafar. Berdasarkan penelusuran, ide ini bukan baru. Di beberapa keluarahan di berbagai provinsi di Indonesia, termasuk Pangkal Pinang, hal ini sudah berjalan. Dengan pendampingan dan sosialisasi lintas departemen, nyatanya program itu berjalan mulus, sehingga pihak kelurahan tak khawatir mereka terjebak dalam situasi korupsi.

    Dengan program Oke-Oce dan 1 miliar 1 kelurahan, saya membayangkan kampung-kampung di Jakarta bakal lebih hidup. Warga bisa menjadi penggerak dan penular virus gerakan yang bakal semakin besar. Ingat enggak, bagaimana gerakan Indonesia Mengajar kini bisa menjadi solusi bagi kebutuhan guru-guru di daerah 3T (terpencil, terluar, dan terdepan) di Indonesia.

    Sementara RPTRA (Ruang Publik Terbuka Ramah Anak) yang dibangga-banggakan Pak Ahok tentu juga menyenangkan sebagai tempat kumpul-kumpul. Namun, apakah Anda tahu RPTRA itu justru lebih sering ditutup menjelang Magrib karena banyak oknum tak bertanggung jawab yang melempari dan merusak penerangan, sehingga RPTRA bisa menjadi tempat transaksi narkoba dan berbuat mesum?

    Diskusi

    Terakhir, pemaparan ketiga paslon soal disabilitas dan pemberdayaan perempuan belum ada satu pun yang memuaskan. Anies-Sandi hanya menyebutkan bakal memberi pendampingan bagi ibu-ibu untuk memiliki penghasilan dari rumah, sembari menyebut tukang nasi uduk dan bir pletok yang digeret Satpol PP. Saya jadi berpikir apakah perempuan di mata Bang Anies-Sandi hanya soal ibu rumah tangga atau di mata Mpok Sylvi soal ibu-ibu jumantik dan PKK. Aduh!

    Saya jadi teringat belasan tahun lalu saat saya masuk kuliah, seorang saudara bapak saya lain nenek menangis saking terharunya menyadari orangtua saya bisa membayari uang sekolah saya sampai tingkat universitas. Sementara tante saya dan saudara yang lain menyangka saya berbohong waktu diterima di Universitas Indonesia. Mereka awalnya senang, tapi bengong begitu mendengar jurusan yang saya masuki: sastra Indonesia. Mereka pikir hanya orang-orang yang ingin jadi sastrawan sajalah yang memilih jurusan sastra.

    Setelah menikah, sebagian masih terheran-heran saat saya memutuskan terus bekerja meski sudah mempunyai dua orang anak. Dan kini sebagian teman-teman suami mengecap saya kurang bersyukur dan mencemooh, “Masih kurang emang duit lu?” seolah-olah saya perempuan yang mengedepankan materi.

    Bagi kaum Betawi yang sebagian menjual tanah demi bisa kuliah (ingat cerita si Doel), peluang perempuan untuk mendapatkan pendidikan hingga perguruan tinggi masih lebih kecil. Sebagian mungkin bukan untuk berkarya atau mencari kerja, tapi justru lebih mencari jodoh. Karena itulah, pemberdayaan perempuan Betawi ini penting, sehingga mereka bisa punya cita-cita tinggi.

    Adik Lahyanto Nadie, wartawan Bisnis Indonesia yang pernah saya wawancarai, tak disangka berkarier sebagai seorang polisi hingga berpangkat kapten. Pada mulanya, ucap Indah Lina, dia berbohong dan tidak memberi tahu ayahnya saat melamar sebagai polisi wanita.

    Saya secara pribadi berharap ada beasiswa khusus yang diberikan kepada perempuan Betawi. Bukankah ibu adalah madrasatul ula—sekolah yang mula-mula bagi setiap anaknya? Dengan penguatan karakter ibu, akan lebih mudah untuk menekankan pendidikan karakter dalam keluarga. Dengan demikian, program Pemerintah Provinsi DKI soal antinarkoba bisa berjalan dengan baik, sehingga tercipta generasi yang sehat.

    Di kampung saya, tanpa saya sebutkan namanya, ada seorang ibu yang menderita lantaran menantunya terlibat penjualan dan pemakaian narkoba. Si menantu masuk penjara lantaran saat mabuk menusuk orang. Kini ia menderita mengurus cucu-cucunya yang tak dinafkahi sang ayah. Sementara anaknya sendiri, si gadis yang menikah muda lantaran hamil duluan, tak mengerti cara memasak makanan bergizi untuk anaknya. Generasi ini pun tumbuh menyedihkan karena kurang gizi dan pendidikan moral. Kata-kata kasar seperti taik, bego, dan lain-lain acap terdengar dari rumah mereka.

    Sementara tetangga yang lain hanya meringis malu saat anaknya dan teman-temannya kedapatan tengah memakai narkoba di rumahnya sendiri. Mengherankan ia tak tahu apa yang dilakukan si anak dan teman-temannya di sebelah kamarnya. Namun sekarang tampaknya banyak orangtua yang takut anak dibanding anak takut pada orangtua.

    Karena itulah, Jakarta ini darurat betul. Isu debat ketiga dengan tema kependudukan dan peningkatan kualitas hidup masyarakat Jakarta dengan empat subtema, yaitu pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, antinarkotika, dan kebijakan untuk disabilitas memang belum 100 persen memenuhi harapan. Tapi setidaknya, saya sudah punya pilihan siapa yang akan dicoblos nanti. Meski kata Pak Ahok, paslon satu dan tiga suka bangun opini menyesatkan dan bikin program mengawang-awang, biarkanlah warga DKI Jakarta memilih pemimpinnya sendiri.

    Anda siap menyambut Pilkada DKI Jakarta?

    Related Post

    $(document).ready(function() {$('img#closed').click(function(){$('#bl_banner').hide(90);});});
    close
    Banner iklan disini