News Sticker
  •   PASTIKAN DIRI ANDA TERDAFTAR DALAM MENSUKSESKAN PEMILIHAN DAERAH GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR DKI JAKARTA (15 FEBRUARI 2017)  PERGUB NOMOR 11 TAHUN 2017 TENTANG IKON BUDAYA BETAWI RESMI DITANDATANGANI OLEH (PLT) GUBERNUR DKI JAKARTA (1/2/2017)   PERATURAN GUBERNUR(PERGUB) IKON BUDAYA BETAWI ANTARA LAIN ONDEL-ONDEL, KEMBANG KELAPA, ORNAMEN GIGI BALANG, BAJU SADARIAH KEBAYA KERANCANG, BATIK BETAWI, KERAK TELOR DAN BIR PLETOK 

  • Ondel-Ondel Antara Ngamen dan Simbol

    Yahya Andi Saputra 1/01/2017 Budaya

    Yahya Andi Saputra

    Latar Belakang


    Banyak orang bertanya-tanya atau mencibir perihal kesenian Ondel-Ondel yang dijajakan di jalanan alias ngamen. Alih-alih respek, apresiatif, solutif, mereka justru mencibir atau melempar tuduhan kepada pemangku kebijakan, Pemprov DKI Jakarta, yang tak berpihak pada kesenian tradisional. Cibiran itu benar dan tidak benar. Saya katakan bahwa ngamen adalah salah satu upaya kesenian tradisional untuk eksis atau menyambung hidupnya. Bukan hanya kesenian yang jumlah pendukungnya relatif kecil, seperti Ondel-Ondel, kesenian besar pun, seperti wayang kulit, lenong, topeng, kerap ngamen.

    Pada masa kolonial, pemerintah Kota Batavia, memberikan ruang yang kucup baik bagi kelompok kesenian yang ngamen. Pemerintah kota menyadari bahwa ngamen dapat memberikan keuntungan buat kas kota. Artinya kelompok kesenian yang ngamen diharuskan membayar belasting alias pajeg. Jadi saya acung jempol kepada kelok kesenian, khususnya Ondel-Ondel yang melakukan upaya penghidupannya dengan ngamen. Ngamen bagi kesenian tradisional berarti khittah. Ngamen yang saya tidak setuju, pertama, pengamen berpenampilan dekil dan urakan (seharusnya berpakaian rapi atau berseragam, mereka tampil belel, pake anting-anting, bertato; ini dianggap merendahkan nilai luhur kesenian); kedua, kurang menghargai keselamatan jiwa (karena mereka ngamen di jalan raya); ketiga, tidak menghargai orang lain (pengendara mobil atau kendaraan umum di jalan raya dan berdampak macet. Di sini termasuk tidak tahu adat sopan santun pada waktu-waktu tertentu. Misalnya ketika ngamen di kawasan perkampungan, saat azan apakah Asar, Maghrib atau Isya mereka terus ngamen); keempat, agaknya ngamen yang kini marak, bukan lagi ngamen untuk mempertahankan dan melestarukan Ondel-Pndel, tapi untuk mencari keuntungan. Saya berasumsi ada orang-orang tertentu yang memiliki modal dan menjadi tauke. Itu jelas terlihat dari musik pengiring Ondel-Ondel yang semula musik hidup kini sudah dengan CD. Ondel-Ondel itu secara pakem seharusnya sepasang (laki dan perempuan), kini hanya satu saja. Maka celakalah nasib Ondel-Ondel yang diperlakukan seperti itu.

    Saya dan beberapa kawan yang konsen terhadap jalan hidup dan kemuliaan kesenian tradisional, dalam kasus ini kesenian Ondel-Ondel, telah mengusulkan kepada Pemprov DKI Jakarta, tatacara pembinaan yang tidak menyakitkan kepada sanggar kesenian Ondel-Ondel, pelaku ngamen. Pertama, pembinaan dengan program BOS (Biaya Operasional Sanggar). Ini program stimulan berupa hibah biaya perawatan rutin bulanan. Saya usulkan hibah sebesar 5 juta rupiah sebulan. Jika jumlah sanggar Ondel-Ondel yang resmi ada 20, Pemda hanya mengeluarkan biaya 1.200.000.000 rupiah setahun. Tentu jumlah yang kecil bagi Pemda. Kedua, buatkan zona-zona atau kawasan khusus ngamen (semacam lokalisasi) pada hari dan jam tertentu. Apakah penzonaan atan pelokalisasian ini, sukar bagi Pemda? Rasanya sih tidak. Hanya perlu kebijakan yang memihak dan penghormatan kepada kearifan lokal. Perlu ditegaskan di sini, Ondel-Ondel sudah menjadi ikon Kota Jakarta. Masyarakat nusantara atau bahkan sebagian warga dunia, sudah memahami jika Ondel-Ondel merupakan kesenian Jakarta dan identitas Betawi.

    Karakter Pinggir
    Secara geografis, yang dikuatkan kemudian dengan proses pembentukan budayanya, masyarakat Betawi memiliki karakter pesisiran, tengahan, dan pinggiran. Karakter pesisiran melahirkan budaya bahari, karakter tengahan melahirkan budaya populis, dan karakter pinggiran melahirkan budaya agraris. Ketiga karakter itu melahirkan unsur-unsur budaya yang beda namun sama serta dapat dikenali ciri-cirinya. Tulisan ini khusus membahas karakter budaya Betawi agraris dan lebih difokuskan pada salah satu jenis kesenian Betawi agraris, yaitu Ondel-Ondel. Akan coba ditelusur sejarah, fungsi, dan makna simbolis dari kesenian Ondel-Ondel.

    Sejarah Ondel-Ondel
    Jika kebudayaan didefinisikan sebagai keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk memahami lingkungan serta pengalaman dan yang menjadi pedoman tingkah lakunya, maka budaya agraris adalah kebudayaan yang hidup dalam masyarakat yang mempunyai pertanian sebagai mata pencaharian pokok. Sebagian besar masyarakat Betawi, adalah masyarakat yang berkebudayaan agraris. Alam lingkungannya dijadikan tumpuan hidupnya. Lantaran mereka mengelola alam, maka mereka harus bersenyawa dengan seluruh makhluk atau kekuatan yang mendiami alam. Begitu pula dengan teknik pengelolaan alam pun dikuasainya. Teknik bercocok tanak, teknik pertanian, teknik pengelolaan air, teknik mengelola hasil pertanian, teknik mengolah hasil pertanian, dan lain sebagainya. Seperti masyarakat agraris nusantara lainya, sebelum keyakinan Islam menjadi nilai yang dianutnya, masyarakat argaris Betawi pun meyakini ada kekuatan gaib yang senantiasa seiring-sejalan dengan dengan derap langkah hidupnya. Kekuatan gaib itu dipahami memberikan perlindungan, keberkahan, rasa aman, dan kemakmuran hidup. Paham atau ide atas makhluk gaib itu kemudian diekspresikan ke dalam berbagai bentuk yang diadopsi dan dicitrakan dari alam.

    Kebesaran dan kemahaagungan sesuatu digambarkan dalam sesuatu yang besar. Bentuk gunung menjadi salah satunya. Apa yang kemudian dikenal dengan nama tumpal, gigi balang, pucuk rebung, temu tombak, dan semua bentuk segi tiga sama kaki, bersumber dari bentuk gunung. Bentuk tumpal dan sejenisnya dipindahkan ke dalam ragam hias yang diletakkan pada beberapa media untuk keperluan upacara. Personifikasi akan sesuatu yang besar yang dapat dipindahkan dan digerakkan secara dinamis untuk mendukung upacara, tidak dapat diwakili oleh bentuk tumpal, meski bentuk tumpat dapat dijadikan motif busana yang dipakai untuk upacara. Maka pilihan lain adalah mencipta makhluk besar berbentuk boneka. Boneka besar (laki-laki dan perempuan) inilah yang menjadi pilihan akhir sebagai media pelengkap utama upacara. Sepasang boneka besar itu dimainkan dengan cara digerakkan oleh manusia. Manusia yang memainkannya masuk ke dalam bineka dan memikulnya. Agar gerakan boneka besar itu teratur dan indah dilihat, maka gerak itu diiringi oleh musik. Alat musik terdiri atas terompet (lalu diganti dengan tehyan), kendang, gong, kempul, dan kecrek. Alat musik ini disebut dengan Iringan Musik Ondel-Ondel. Boneka besar ini dimainkan dalam sebuah pertunjukan secara bersama-sama. Cara memainkan seperti itu disebut Barungan. Barungan adalah kosa kata bahasa Betawi arkaik/klasik yang artinya rombongan. Maka dahulu boneka besar itu dinamai BARUNGAN, karena dimainkan secara rombongan. Kata Barungan tidak ada kaitannya dengan Barong, sebagaimana yang dikenal di Bali. Pada dasawarsa kedua abad 20, dalam beberapa catatan para pegawai Pemerintah Konial Hindia Belanda, namanya menjadi Ondel-Ondel. Ondel-ondel iti melakukan gerak tarian di ruang terbuka atau untuk arak-arakan.

    Deskripsi Bentuk
    Ondel-ondel berbentuk boneka raksasa. Tinggi sekitar 2,5 sampai 3 meter. Rangka tubuhnya dibuat dari bambu. Garis tengah lingkaran tubuhnya 80 - 90 cm. Wajahnya dibuat dari kayu (dahulu dari kayu rambutan, sekarang umumnya kayu kapuk. Disebut kedok ondel-ondel. Rambutnya dibuat dari ijuk warna hitam dan diberi hiasan kembang kelape. Wajah atau muka Ondel-ondel laki-laki berwarna merah, mata melotot, alis hitam tebal, dan bercaling (bertaring), sedangkan yang perempuan berwarna putih, bermata hitam sayu, alis hitam melengkung, bulu mata lentik, bibir merah, telinga bergiwang atau beranting-anting, dan jidatnya bermahkota. Pakaian Ondel-ondel Laki-laki berwarna hitam dengan model baju pangsi. Ondel-ondel perempuan memakai busana kebaya panjang atau baju kurung bermotif kembang dan bawahan kain batik dengan selendang atau selempang disangkutkan di pundak kiri ke arah pinggang kanan.

    Fungsi Ondel-Ondel
    Masyarakat Betawi sebelum kedatangan Islam, memahami Barungan atau Ondel-ondel memiliki kekuatan gaib. Kekuatan gaib itulah yang difungsikan sebagai pendukung keperluan upacara adat. Upacara sedekah bumi atau baritan belumlah lengkap jika tidak ada Ondel-Ondel. Kekuatan gaib ondel-ondel ini diyakini dapat menangkal wabah penyakit (muntaber, cacar aer, dan penyakit kulit lainnya) dan mencegah gagal panen akibat serangan hama (wereng, keong, tikus, burung) atau bahaya yang mengancam. Jika difungsikan sebagai pelengkap upacara sedekah bumi, Ondel-Ondel digunakan mengarak iring-iringan sajen yang diletakkan di empat penjuru kampung (pada tempat itu, wetan, kulon, budik, bilir diyakini dijaga oleh leluhur demi kelangsungan hidup anak cucu dan beraya, sehingga pada waktu tertentu, hari rayagung, harus ditanam kepala kebo dan sesajen lainnta). Apabila Ondel-Ondel digunakan untuk menangkal wabah gagal panen, maka Ondel-Ondel ditugaskan melakukan upacara bersih desa dengan membawa sajen dengan iringan jampe. Karena keyakinan masyarakat seperti itu, apa yang dipohonkan, dikabulkan Yang Maha Kuasa. Pada perkembangan selanjutnya, Ondel-ondel dimainkan dan ditanggap untuk berbagai acara. Antara lain : mengarak penganten sunat sunat, dekorasi resepsi perkawinan, peresmian kantor, pawai budaya, dan sebagainya. Dulu mereka juga seringkali melakukan ngamen untuk mempertahankan eksistensinya. Ngamen dilakukan terutama pada tahun baru masehi maupun imlek.

    Simbol
    Makna simbol yang dimaksudkan di sini adalah perlambangam. Pertama, bahwa bentuknya yang besar diyakini memiliki kekuatan gaib, memiliki kemampuan menjaga kampung, memelihara keamanan dan ketertiban, tegar dan berani, tegas dan jujur, serta anti manipulasi. Kedua, sepasang laki perempuan sebagai simbol keseimbangan, keserasian, dan padu saling menopang sebagaimana Tuhan dan makhluk, baik dan buruk, siang dan malam, langit dan bumi. Ketiga, sebagai simbol berani melawan kejahatan, baik kejahatan yang dilakukan terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Ini dapat diasumsikan bahwa dengan memahami simbol yang melekat pada Ondel-Ondel, tidak ada seorang pejabat pun yang melakukan jejahatan melakukan korupsi, memecahbelah, menimbulkan kehancuran.

    Kesimpulan
    1. Ondel-Ondel merupakan salah satu jenis kesenian yang semula tumbuh dan berkembang di kawasan pinggir, berbentuk sepasang boneka raksasa. 2. Ondel-ondel dikreasi oleh leluhur Orang Betawi pada masa sebelum Islam; 3. Ondel-Ondel diyakini memiliki keunggulan gaib; 4. Ondel-Ondel difungsikan sebagai media pelengkap utama dalam upacara adat Betawi, upacara sedekah bumi (baritan, bebarit), menolak bala, dan mencegah wabah gagal paneb; 5. Ondel-Ondel difungsikan juga sebagai kesenian dekoratif pada berbagai kegiatan resmi pemerintah dan masyarakat umum; 6. Ondel-obdel telah dijadikan sebagai tanda dan penanda etnisitas dan identitas pemiliknya; 7. Ondel-Ondel telah dijadikan sumber kreatif pada kancah ekonomi kreatif pada sektor periklanan, arsitektur, pasar barang seni, kerajinan, desain, fashion, film, video, fotografi, permainan interaktif, musik, seni pertunjukan, dan lain sebagainya; 8. Ondel-Ondel telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbebda (WBTB) oleh Pemerintah RI dengan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 238/M/2013.

    Related Post

    $(document).ready(function() {$('img#closed').click(function(){$('#bl_banner').hide(90);});});
    close
    Banner iklan disini