News Sticker
  •   PASTIKAN DIRI ANDA TERDAFTAR DALAM MENSUKSESKAN PEMILIHAN DAERAH GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR DKI JAKARTA (15 FEBRUARI 2017)  PERGUB NOMOR 11 TAHUN 2017 TENTANG IKON BUDAYA BETAWI RESMI DITANDATANGANI OLEH (PLT) GUBERNUR DKI JAKARTA (1/2/2017)   PERATURAN GUBERNUR(PERGUB) IKON BUDAYA BETAWI ANTARA LAIN ONDEL-ONDEL, KEMBANG KELAPA, ORNAMEN GIGI BALANG, BAJU SADARIAH KEBAYA KERANCANG, BATIK BETAWI, KERAK TELOR DAN BIR PLETOK 

  • KISAH PLANET SENEN DAN CARA BANG ALI MENGGUSURNYA

    Fadjriah Nurdiarsih Februari 2017 Planet Senen

    Pasar Senen di Jakarta Pusat menyimpan sejarah panjang sejak abad ke-17. Pasar ini berkembang seiring zaman. Dari pasar tradisional hingga modern dan kini tergilas zaman dengan kehadiran mal-mal baru yang lebih nyaman. Namun tahukah Anda bahwa di sekitar Pasar Senen dulu pernah ada lokalisasi pelacuran yang sangat terkenal. Ya, itu adalah Planet Senen.

    Kawasan hitam ini pernah sangat terkenal pada 1950-an akhir hingga awal 1960-an. Waktu itu Pasar Senen masih berupa pasar tradisional. Belum ada mal, plaza, dan atrium. Orang banyak datang ke Planet Senen di malam hari untuk mencari “hiburan”, sebab ini adalah komplek pelacuran terbesar di Jakarta.

    Soal namanya yang unik, Planet Senen punya kisah sendiri. Alwi Shahab dalam “Penari Doger di Pasar Senen” menyebutkan nama Planet diberikan saat dua musuh bebuyutan kala itu, yakni Amerika Serikat dan Uni Soviet berlomba-lomba mengirimkan sputnik ke luar angkasa (planet) di masa Presiden Kennedy dan PM Kruschev.

    Jerome Tadie dalam Wilayah Kekerasan di Jakarta mencatat, di sebelah utara pasar, ada sebuah warung kecil berbentuk tenda yang dibuat dari terpal untuk berlindung dari hujan. Ada papan yang dijadikan meja untuk tempat meletakkan bir, dua bangku tempat pelacur dan muncikarinya menunggu pelanggan.

    Di antara warung itu ada karaoke keliling yang melantunkan musik dangdut. Tamu dapat menyanyi dengan membayar beberapa rupiah. Di sinilah musik dangdut bercampur dengan orang-orang yang ngibing.

    Salah satu yang paling mencolok dari Planet Senen adalah para penari doger, yang bisa disamakan dengan pertunjukan tandak. Para penarinya biasa mulai beraksi selepas Isya. Dandanannya sangat menor dengan gincu murahan yang mencolok. Para penari memakai kain batik dengan kebaya tipis. Kemudian mereka berjoget dengan diiringi gamelan Sunda dan mengalungkan selendang kepada para lelaki yang menonton demi mendapatkan saweran.

    Novel karya S. Puteradjaja (1972) menggambarkan bagaimana sesungguhnya wilayah ini:

    "Dan daerah paling hitam adalah daerah Senen yang dinamakan “planit”, jaitu daerah sarang pelatjur dan tempat pelatjuran. Penghuninya beribu-ribu orang. Didaerah ini bersarang juga segala macam bandit dan penjahat. Mulai bandit jang terkecil sampai bandit jang djadi buronan karena pembunuhan2. Bahkan tidak djarang orang2 buronan g-30-s/PKI bersembunji ditempat tersebut. Mereka menjamar dengan nama baru sebagai germo atau tukan jualan wedang atau lain2nja."

    Tempat beroperasinya para PSK di Planet Senen mulai dari pintu KA Senen sampai Tanah Nyonya di Gunung Sahari. Selain para PSK dan pria hidung belang, para tukang dagang meramaikan Planet Senen hingga menjelang Subuh. Mereka berdagang di meja-meja dengan lampu minyak yang ditutupi kertas merah hingga suasana agak kegelap-gelapan.

    Geliat pelacuran di Pasar Senen lama-kelamaan membuat banyak pihak gerah, termasuk Perusahaan Kereta Api. Banyak gerbong kereta barang yang sedang langsir dipakai untuk “ngamar”. Namun, mereka tak sanggup menertibkan para pelakunya yang nakal itu. Pihak kereta api pun menghubungi Gubernur DKI Jakarta waktu itu, Ali Sadikin, dan memohon bantuannya. “Hanya Gubernur Jakarta yang bisa membereskan soal itu,” begitu aku Ali Sadikin dalam memoarnya Bang Ali: Demi Jakarta 1966-1977.

    Di tanah milik Perusahaan Kereta Api seluas 2,5 ha, ia membangun Gelanggang Remaja Planet Senen. Soal nama itu, Bang Ali punya alasan. “Apa salahnya kalau cuma nama. Dan nama Planet Senen itu sudah tersohor, beken di seantero Indonesia.” Ia menegaskan, “Jadi, nama itu tidak perlu diubah. Bisa dipakai nama Planet Senen.”

    Untuk menertibkan pelacuran, Bang Ali punya strategi yang lain lagi. Waktu itu ia memang cukup ngilu menyaksikan di Planet Senen ada anak-anak yang masih belasan tahun. Anak-anak itu pun secara bebas bisa “menonton” perilaku mesum di sekitar mereka. Untuk membebaskan mereka ke jalanan pun merupakan persoalan tersendiri karena saat itu pengangguran pun sudah cukup banyak.

    Diskusi

    Akhirnya, setelah pergi ke Bangkok dan mengamati industri seks di sana, Bang Ali memperoleh ilham untuk membuat lokalisasi. Namun, saat kembali ke Jakarta, ide Bang Ali ditentang keras. Ia dituduh sengaja mengeksploitasi perempuan, merendahkan derajat perempuan, dan menjauhkan rehabilitasi bagi eks PSK yang sadar.

    Bang Ali menolak keras tudingan itu. Ia menegaskan melokalisasi berarti mempersempit gerak mereka dan dengan demikian akan terbina apa yang diharapkan sebagai “menghapuskan pemandangan yang kurang sedap” di tepi-tepi jalan. Meskipun, kemiskinan masih berada di tengah kita.

    Ia bilang, “Omong kosong dekadensi moral dapat diberantas begitu saja. Bahaya itu tetap ada dan korban pun masih pula diminta. Yang bisa kita perbuat adalah mengurangi isu-isu dekadensi moral itu, serta berusaha memperkecil korbannya sedapat mungkin.”

    Kemudian para kupu-kupu malam itu pun dipindahkan dari Senen ke Kramat Tunggak. Waktu itu Kramat Tunggak masih berupa rawa-rawa. Planet Senen pun resmi ditutup pada 1973.

    Maka, hilanglah tempat yang menurut Jerome Tadie dalam Wilayah Kekerasan di Jakarta sebagai “kampung yang banyak gangnya, dikelilingi oleh perumahan kumuh.” Kesan kotor dan terlalu padat penduduknya diperkuat oleh kegelapan karena penerangan umum hanya ada di jalan yang mengelilingi wilayah, jalan berlumpur, ketiadaan air bersih dan sampah di mana-mana.

    Kala itu perempuan menawarkan layanannya di dalam warung kecil yang juga menjual minuman. Populasi wilayah itu terdiri atas pelacur, pengemis dan gelandangan, kuli pasar, pedagang keliling, buruh kasar, dan tukang becak. Kesemuanya dapat ditambah dengan prajurit dan penjahat. Itulah situasi gambaran dunia hitam masa lalu di Senen.

    Related Post

    $(document).ready(function() {$('img#closed').click(function(){$('#bl_banner').hide(90);});});
    close
    Banner iklan disini