News Sticker
  •   PASTIKAN DIRI ANDA TERDAFTAR DALAM MENSUKSESKAN PEMILIHAN DAERAH GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR DKI JAKARTA (15 FEBRUARI 2017)  PERGUB NOMOR 11 TAHUN 2017 TENTANG IKON BUDAYA BETAWI RESMI DITANDATANGANI OLEH (PLT) GUBERNUR DKI JAKARTA (1/2/2017)   PERATURAN GUBERNUR(PERGUB) IKON BUDAYA BETAWI ANTARA LAIN ONDEL-ONDEL, KEMBANG KELAPA, ORNAMEN GIGI BALANG, BAJU SADARIAH KEBAYA KERANCANG, BATIK BETAWI, KERAK TELOR DAN BIR PLETOK 

  • Bang Tutur – Pegiat Lenong Denes dari Cilincing Jakarta Utara

    Roni Adi Januari 2017 Tokoh

    Semalam sewaktu buka bersama dengan ormas Rumpun Masyarakat Betawi (RMB) di sanggar Firman Muntaco di Condet, saya bertemu untuk yg kedua kali dengan seorang maestro lenong. Walaupun sudah berusia di atas 60 tahun, tapi semangatnya tetap menyala. Babeh Agus, sekarang tinggal di Gang Banten IX, Balimester Jatinegara.

    Beliau memberikan pencerahan yang luar biasa tentang beragam jenis seni budaya Betawi. Di tengah pembicaraan, babeh Agus melontarkan kekhawatirannya terhadap nasib seni budaya Betawi yang sudah banyak punah. Beberapa kesenian yang sudah atau hampir punah antara lain wayang senggol, lenong denes dan sohibul hikayat.

    Kemaren di acara yang sama juga saya bertemu dengan Bang Tuturdenes, seorang pegiat seni Lenong Denes dari Cilincing Jakarta Utara. Saya melihat saat ini sepertinya tinggal Bang Tutur yang masih mempertahankan dan tetap eksis memelihara seni lenong denes. Demi mempertahankan eksistensi lenong denes, beliau sampai rela menjual rumah yang dimilikinya dan berpisah dengan istrinya.


    Diskusi

    Para pemain lenong denes pimpinan Bang Tutur
    Saat ini seniman seperti babeh Agus dan bang Tutur Denes KB, kini mungkin tinggal tersisa dalam hitungan jari. Mereka pewaris seni tradisi dan nilai-nilai adiluhung yang dihasilkan oleh local genius – local genius Betawi tempo doeloe. Kenapa adiluhung? karena seni budaya Betawi tempo doeloe sarat dengan nilai-nilai dakwah keIslaman dan pengenalan akan zat wajibal wujud yang harus disembah. Para local genius Betawi menciptakan seni bukan untuk seni, apalagi hanya untuk kepentingan rating tv.

    Penyebab semakin sedikitnya pegiat kesenian ini menurut saya antara lain karena kurangnya minat masyarakat, kurangnya dukungan pemerintah dan juga kurangnya minat generasi muda untuk belajar seni budaya tersebut. Ditambah lagi seniman dan budayawan tidak mendapatkan tempat yg layak di negeri ini. Karena negara seringkali absen ketika bicara bagaimana meningkatkan taraf kehidupan para seniman dan budayawan. Seniman sekelas maestro saat ini tidak bisa diterima oleh market yang dibentuk oleh media tv, yang cuma mengejar target rating tinggi.

    Kalau upaya untuk melestarikan seni budaya ini tidak dilakukan secara serius ditambah warga betawi tercerabut dari akar sejarahnya karena perkampungan-perkampungan betawi terancam akan digusur oleh Pemerintahan Ahok, maka ancaman punahnya seni tradisi Betawi ini sudah di ujung mata. Miris melihatnya. Tapi itulah faktanya.

    Related Post

    $(document).ready(function() {$('img#closed').click(function(){$('#bl_banner').hide(90);});});
    close
    Banner iklan disini